Kece People, kabut asap di Kalimantan kembali menjadi bayangan yang mengintai. Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan alias karhutla, perhatian kini tertuju pada langkah 5 gubernur yang ada di Kalimantan menghadapi ribuan hotspot Kalimantan yang terdeteksi selama musim kering.
Suatu pagi di salah satu sudut di Pulau Kalimantan seharusnya dimulai dengan langit yang terang. Orang-orang berangkat bekerja, anak-anak menuju sekolah, dan roda kehidupan berjalan seperti biasa. Tetapi ketika musim kemarau datang, ada satu kekhawatiran lama yang seperti punya kebiasaan untuk kembali mengetuk pintu.
Asap.
Awalnya mungkin hanya terlihat seperti lapisan tipis di kejauhan. Namun, pengalaman tahun-tahun sebelumnya mengajarkan bahwa kabut tipis itu bisa berubah menjadi pekat, mengganggu aktivitas, mengancam kesehatan, hingga melumpuhkan mobilitas masyarakat.
Karena itu, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan cuma cerita tentang api yang membakar semak, hutan, atau lahan kosong. Di baliknya ada cerita anak-anak yang harus memakai masker, warga yang mulai khawatir dengan kualitas udara, aktivitas penerbangan yang dapat terganggu, hingga pemerintah yang kembali diuji: bergerak sebelum terlambat atau sibuk ketika keadaan sudah telanjur membesar.
Dan pada Agustus 2026, alarm itu kembali berbunyi.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB hingga 20 Agustus 2026 mencatat sebanyak 1.487 titik panas terdeteksi di Pulau Kalimantan melalui pemantauan Satelit NOAA-20.
Kalimantan Tengah mencatat angka tertinggi dengan 767 hotspot, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik.
Ia adalah alarm.
Alarm bahwa perang melawan asap tidak cukup hanya mengandalkan mobil pemadam, personel di lapangan, atau helikopter yang datang setelah api membesar. Ini juga menjadi ujian bagi lima kepala daerah yang memimpin lima provinsi di Pulau Kalimantan.
Lima Provinsi, Lima Cara Melawan Api
Setiap provinsi menghadapi medan yang berbeda. Karakter lahannya berbeda, tingkat kerawanannya berbeda, bahkan cara api berkembang pun tidak selalu sama.
Di Kalimantan Tengah, tantangan terbesarnya datang dari karakter lahan gambut.
Api di kawasan gambut kadang terlihat seperti sudah kecil di permukaan. Tapi di bawah tanah, bara bisa terus hidup dan bergerak. Inilah yang membuat penanganan karhutla di wilayah tersebut tidak bisa dianggap enteng.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menempatkan kesiapsiagaan dan respons dini sebagai bagian penting dalam menghadapi ancaman tersebut. Baginya, kebakaran tidak boleh dibiarkan tumbuh menjadi besar.
“Jangan menunggu api membesar. Laporkan sedini mungkin apabila menemukan titik api, lakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena merupakan tindak pidana, serta bangun semangat gotong royong menjaga hutan dan lahan kita,” pesan Agustiar Sabran saat memimpin Apel Siaga Karhutla di Halaman Kantor Gubernur, Kamis (6/8/2026) lalu.
Sementara itu, Kalimantan Barat menghadapi tekanan yang tak kalah serius. Dengan jumlah hotspot mencapai 560 titik, perhatian terhadap wilayah rawan menjadi semakin penting.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengarahkan penanganan pada penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan di lapangan. Pemerintah provinsi memperkuat komunikasi bersama BNPB, BPBD, aparat keamanan, serta pemerintah kabupaten dan kota.
Sejumlah wilayah seperti Kubu Raya, Ketapang, dan Mempawah menjadi kawasan yang mendapat perhatian karena memiliki tingkat kerawanan tinggi, termasuk wilayah gambut yang lebih mudah terbakar ketika kondisi semakin kering.
“Kami tetap siaga di lapangan dan selalu berupaya semaksimal mungkin untuk memadamkan api,” ujar Ria Norsan pada Senin, 10 Agustus 2026.
Berbeda lagi dengan Kalimantan Selatan.
Ketika titik api muncul di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat, pemadaman dari udara menjadi salah satu opsi yang diperkuat. Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menyiapkan tambahan dukungan melalui helikopter water bombing.
“Kepada masyarakat tolong sampaikan kalau ada titik api yang sulit dipadamkan karena kita ada tambahan heli water bombing, sekarang kita punya tiga,” ujar Muhidin terkait tambahan armada pemadaman udara.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa medan pertempuran melawan karhutla tidak selalu bisa diselesaikan dengan cara yang sama. Ada lokasi yang bisa dijangkau tim darat, ada pula titik api yang membutuhkan dukungan dari langit.
Di Kalimantan Timur, Gubernur Rudy Mas’ud memilih memperkuat langkah antisipasi agar api tidak sempat berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Pemerintah provinsi mendorong koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, termasuk pemantauan kondisi lapangan serta penguatan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dan ancaman karhutla.
“Para bupati dan wali kota diminta melakukan koordinasi antar-instansi terkait untuk pemantauan dan pengecekan lapangan bersama guna mengantisipasi kekeringan serta karhutla,” ujar Rudy Mas’ud.
Sedangkan Kalimantan Utara sejauh ini menghadapi tekanan yang relatif lebih rendah. Data BNPB mencatat hanya tiga hotspot hingga 20 Agustus 2026.
Musim kering belum tentu selesai dalam waktu singkat. Tantangan Kaltara justru terletak pada bagaimana mempertahankan kondisi tersebut agar tetap terkendali dan tidak berubah ketika cuaca semakin ekstrem.
Jangan Cuma Hebat Saat Api Sudah Besar
Harus diakui, penanganan karhutla kini telah melibatkan berbagai unsur. Operasi darat berjalan, patroli udara dilakukan, dukungan water bombing disiapkan, dan koordinasi lintas instansi terus diperkuat.
BNPB menyebut satgas darat menjadi salah satu ujung tombak penanganan karhutla. Sementara dukungan udara juga disiapkan untuk patroli dan pemadaman, meski kondisi cuaca dapat memengaruhi efektivitas sejumlah operasi.
Ujian Lima Gubernur Baru Dimulai
Karhutla seolah menjadi ujian yang terus berulang bagi Pulau Kalimantan.
Setiap musim kering, ancaman itu bisa kembali. Api muncul di titik yang berbeda, tetapi dampaknya bisa dirasakan bersama.
Kini lima gubernur Kalimantan menghadapi medan pertarungan yang sama, meski dengan karakter wilayah yang berbeda. Agustiar Sabran di Kalimantan Tengah, Ria Norsan di Kalimantan Barat, Muhidin di Kalimantan Selatan, Rudy Mas’ud di Kalimantan Timur, serta kepemimpinan di Kalimantan Utara, sama-sama menghadapi satu pekerjaan besar: memastikan api tidak berkembang menjadi krisis lintas wilayah.
Sebab dalam perang melawan kabut asap, kemenangan bukan sekadar ketika helikopter berhasil menjatuhkan air ke titik api.
Kemenangan juga bukan hanya ketika api besar akhirnya padam.
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika titik api ditemukan sejak dini, ketika api kecil segera ditangani, dan ketika masyarakat Kalimantan tidak lagi harus menatap langit kelabu sambil bertanya, apakah kabut asap tahun ini akan kembali separah sebelumnya?






