Kece People, secangkir kopi Meratus mungkin terlihat sederhana ketika sudah tersaji hangat di atas meja. Aroma keluar, rasa perlahan tertinggal di lidah, lalu habis dalam beberapa tegukan. Tapi sebelum sampai ke cangkir, ada perjalanan panjang yang dilalui oleh petani kopi Kalimantan Selatan, proses hilirisasi kopi Kalsel, hingga upaya pelaku usaha seperti Herborneo untuk membuat kopi lokal tidak sekadar keluar dari kebun sebagai bahan mentah.
Di tengah potensi perkebunan kopi rakyat Kalimantan Selatan yang cukup besar, persoalan lama masih membayangi. Produksi memang ada, kebun juga tersebar di sejumlah daerah, termasuk kawasan Pegunungan Meratus. Namun, nilai ekonomi yang diterima petani belum tentu ikut setinggi aroma kopi yang mereka hasilkan.
Di sinilah cerita tentang kopi mulai berubah.
Bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan buah kopi sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana satu kilogram kopi bisa memiliki nilai yang lebih tinggi setelah melewati proses pengolahan.
Mulai dari kualitas panen, pengolahan pascapanen, penyangraian, penggilingan, pengemasan hingga menjadi produk siap konsumsi, setiap tahap membuka peluang baru. Dan, kada harus berhenti di kebun haja.
Potensi Kopi Kalsel yang Masih Bisa Digarap
Kalimantan Selatan memiliki potensi perkebunan kopi rakyat yang mencapai sekitar 2.231 hingga 2.928 hektare. Produksi biji kopi keringnya berada pada kisaran 884 sampai 1.204 ton setiap tahun.
Kabupaten Banjar menjadi salah satu wilayah dengan areal perkebunan kopi cukup besar, sekitar 678 hektare. Sementara Kabupaten Balangan memiliki luasan sekitar 526 hektare.
Angka-angka tersebut menunjukkan satu hal: bahan bakunya ada.
Tantangannya adalah bagaimana kopi tersebut tidak hanya meninggalkan kebun dalam bentuk bahan mentah dengan nilai jual terbatas.
Sebab, semakin panjang proses yang bisa dilakukan di daerah, semakin besar pula peluang nilai tambah yang dapat tercipta. Biji kopi yang diolah dengan kualitas baik, disangrai dengan standar tertentu, dikemas menarik, lalu dipasarkan sebagai produk siap konsumsi tentu memiliki cerita ekonomi yang berbeda dibandingkan kopi yang hanya dijual apa adanya.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi, menekankan pentingnya pengembangan bisnis kopi yang terhubung dari hulu sampai hilir.
Penguatan kelembagaan petani, pembentukan korporasi berbasis kawasan hingga diversifikasi produk menjadi bagian dari arah yang ingin dikembangkan. Langkah tersebut juga sejalan dengan program Pengembangan Kopi Diversifikasi Terintegrasi atau BANGKODIN yang disiapkan Disbunnak Kalsel.
Tujuannya jelas, petani tidak hanya didorong meningkatkan hasil kebun, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi lebih besar dari komoditas yang mereka tanam.
Herborneo dan Misi yang Dimulai dari Kebun
Salah satu pelaku usaha yang mencoba mengambil bagian dalam perjalanan tersebut adalah Muhammad Khalid Abdullah melalui Herborneo.
Sebagaimana diwartakan Kanal Kalimantan pada Jumat (14/8/2026), perjalanan usaha Khalid bermula dari pengembangan produk herbal kopi bajakah pada 2019. Seiring waktu, fokus usahanya berkembang ke pengolahan kopi, terutama yang berasal dari kawasan Pegunungan Meratus.
Namun, semakin dekat dengan para petani, semakin banyak persoalan yang ia lihat.
Bukan cuma tentang menjual kopi.
Ada persoalan kualitas biji yang belum seragam. Ada proses pascapanen yang belum optimal. Ada akses pasar yang terbatas. Ada pula posisi tawar petani yang masih lemah ketika terlalu bergantung kepada tengkulak.
Khalid kemudian melihat bahwa kalau hanya membeli kopi lalu menjualnya kembali, rantai persoalan tersebut tidak akan banyak berubah.
“Beranjak dari ketertarikan tersebut menjadi nilai penting Herboneo bertumbuh hingga hari ini. Herboneo tidak ingin hanya membeli kopi, lalu menjualnya kembali. Seiring waktu bersama petani kopi saya mulai melihat, persoalan yang dihadapi petani. Kualitas hasil biji kopi belum seragam, pasca panen belum optimal, akses pasar terbatas, dan posisi tawar petani sering kali lemah karena ketergantungan pada tengkulak,” ungkapnya, dikutip dari Kanal Kalimantan.
Dari sana, arah Herborneo mulai bergerak.
Bukan hanya mengolah hasil kopi dan herbal, tetapi juga mencoba membangun hubungan yang lebih panjang dengan petani melalui edukasi, pendampingan dan pembinaan.
Jangan Cuma Berpikir “Yang Penting Laku”
Bagi Khalid, kualitas kopi tidak tiba-tiba muncul ketika biji masuk ke mesin sangrai.
Kualitas sudah dimulai dari kebun.
Karena itu, pendampingan kepada petani menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha tersebut. Herborneo melakukan sosialisasi mengenai kualitas hasil panen, proses pascapanen, hingga pelatihan kepada pelaku usaha kopi dan barista.
“Hari ini Herborneo tidak hanya bergerak sebagai pengolah kopi dan herbal, tetapi juga mulai berperan dalam edukasi, pendampingan dan pembinaan kelompok tani kopi,” ujarnya
Khalid ingin mengubah pola pikir sederhana yang selama ini mungkin masih melekat pada sebagian pelaku usaha tani: yang penting hasil kebun laku.
Padahal, ketika kualitas meningkat, peluang harga yang lebih baik juga terbuka.
“Kami terus mendorong petani agar tidak berhenti pada proses menghasilkan buah kopi saja. Karena nilai kopi sangat ditentukan sejak kebun hingga pascapanen. Untuk mendukung proses tersebut, Herborneo banyak bersosialisasi dan memberikan pembinaan kepada para petani, juga memberikan pelatihan kepada barista atau para pelaku usaha di bidang kopi,” beber Khalid.
“Tujuan kami sederhana, petani tidak lagi hanya berpikir yang penting kopi saya laku, tetapi mulai berpikir, bagaimana kopi saya berkualitas sehingga memiliki harga yang lebih baik,” sambung Khalid bercita-cita tinggi.
Nah, ini yang menarik, Kece People.
Perubahan dalam industri kopi ternyata tidak selalu dimulai dari mesin yang canggih atau kedai dengan desain estetik. Kadang, perubahan justru dimulai dari cara melihat buah kopi di kebun.
Dari Meratus, Nilainya Jangan Berhenti di Biji
Saat ini, kopi Robusta dari kawasan Pegunungan Meratus menjadi salah satu bahan baku utama Herborneo.
Biji kopi tersebut kemudian melalui proses pengolahan untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Proses inilah yang menjadi inti dari hilirisasi.
Bukan lagi hanya menjual komoditas, tetapi mengolahnya menjadi produk.
“Yang terpenting bagi kami adalah setiap kilogram kopi harus menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui proses hilirisasi,” tegasnya.
Konsep ini menjadi penting karena nilai terbesar sebuah komoditas tidak selalu berada di titik awal.
Ketika kopi sudah memiliki standar kualitas, identitas produk, kemasan, cerita asal-usul dan akses pasar yang lebih luas, maka kopi tidak lagi hanya dipandang sebagai hasil kebun.
Ia bisa berubah menjadi produk daerah.
Bahkan menjadi identitas.
Peluang Tidak Hanya Robusta
Kalimantan Selatan sebenarnya tidak hanya memiliki peluang pengembangan kopi Robusta.
Kopi Liberika juga berpotensi dikembangkan, terutama di kawasan rawa dan gambut seperti di Kabupaten Barito Kuala. Karakter lahan tersebut dinilai sesuai untuk pengembangan komoditas tertentu dan dapat membuka alternatif kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, jalan menuju industri kopi yang kuat tentu tidak semulus menikmati latte di kafe.
Produktivitas kopi rakyat yang disebut berada di sekitar 592 kilogram per hektare masih membutuhkan penguatan. Teknologi budidaya, pemupukan dan peremajaan tanaman menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, persoalan fasilitas pascapanen juga belum selesai.
Tidak semua kelompok tani memiliki mesin pengupas kulit buah kopi. Fasilitas pengeringan yang memenuhi standar kebersihan pun belum tentu tersedia di setiap sentra. Begitu pula dengan mesin sangrai yang memiliki kapasitas serta standar industri.
Artinya, mimpi membuat kopi Kalsel naik kelas tidak bisa dipikul oleh petani seorang diri.
Kopi Naik Kelas Butuh Satu Ekosistem
Pengembangan kopi membutuhkan lebih dari sekadar kebun dan pembeli.
Petani membutuhkan pendampingan. Kelompok tani membutuhkan peralatan. Pelaku usaha memerlukan akses pembiayaan dan pasar. Produk membutuhkan legalitas, standardisasi, desain kemasan hingga sertifikasi.
Di sinilah peran pemerintah, BUMN, perbankan dan sektor swasta menjadi penting.
Kolaborasi menjadi kata kunci jika kopi lokal ingin memiliki tempat lebih luas di pasar nasional, bahkan internasional.
Khalid sendiri memandang pengembangan kopi sebagai sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan bisnis.
“Karena itu, cita-cita saya bukan hanya membuat Herborneo menjadi merek kopi yang dikenal. Saya ingin Herborneo menjadi bagian dari gerakan yang membuat kopi Kalimantan naik kelas,” jelasnya.
Ia ingin petani tidak sekadar berada di ujung rantai sebagai pemasok bahan baku, melainkan menjadi bagian dari perjalanan nilai ekonomi kopi itu sendiri.
“Dari kebun Meratus menuju pasar Indonesia, dari petani menuju hilirisasi, dari kopi lokal menuju kebanggaan Kalimantan,” pungkasnya.






