Kece People, di tengah pesatnya pembangunan kota, menjaga warisan sejarah sering kali menjadi tantangan tersendiri. Namun, Samarinda memilih jalan berbeda. Lewat pelestarian cagar budaya, pemerintah kotanya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak masa lalu. Langkah ini bisa menjadi inspirasi bagi kota-kota tetangga untuk menjadikan wisata sejarah dan pelestarian budaya sebagai bagian penting dalam membangun identitas daerah.
Komitmen itu diwujudkan dengan terus menjaga kelestarian 17 situs cagar budaya yang tersebar di berbagai wilayah kota. Langkah tersebut dilakukan bukan hanya untuk mempertahankan warisan sejarah, tetapi juga memperkuat identitas Samarinda sebagai kota yang berkembang tanpa melupakan akar budayanya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kusuma, mengatakan pelestarian belasan situs bersejarah tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah dalam menjaga memori kolektif masyarakat.
“Pelestarian 17 cagar budaya seperti Masjid Shiratal Mustaqim, Klenteng Thien Ie Kong, Tugu Kebangunan Nasional, hingga Makam La Mohang Daeng Mangkona ini menjadi prioritas utama kami untuk menjaga memori kolektif warga,” ungkapnya dikutip dari ANTARA.
Dari Bangunan Bersejarah Menjadi Ruang Belajar
Kece People, pemerintah tak ingin situs-situs bersejarah hanya dipandang sebagai bangunan tua yang sesekali dikunjungi wisatawan. Kini, kawasan cagar budaya mulai diarahkan menjadi ruang publik yang lebih hidup dan dekat dengan masyarakat.
Selain menjadi tujuan wisata sejarah, berbagai lokasi tersebut juga diproyeksikan sebagai sarana edukasi bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang ingin mengenal perjalanan panjang Kota Samarinda secara langsung.
Menurut Barlin, pendekatan ini diharapkan mampu membuat generasi muda lebih akrab dengan sejarah daerahnya, bukan hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga lewat pengalaman nyata di lapangan.
“Kami berupaya memfasilitasi generasi muda agar dapat memanfaatkan objek cagar budaya sebagai sarana pembelajaran sejarah sekaligus tempat mengekspresikan karya seni,” katanya.
Perlindungan Tak Hanya Lewat Perawatan
Upaya menjaga warisan sejarah juga diperkuat melalui regulasi. Pemerintah terus memastikan situs-situs cagar budaya terlindungi dari ancaman alih fungsi lahan maupun pembangunan yang berpotensi menghilangkan nilai sejarahnya.
Tak berhenti di sana, Disdikbud Samarinda juga menggandeng ratusan sanggar seni dan komunitas budaya untuk menghidupkan kawasan cagar budaya melalui berbagai kegiatan kreatif. Dengan cara ini, situs sejarah tidak hanya terawat secara fisik, tetapi juga tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Kehadiran situs sejarah yang terawat dengan baik memberikan latar belakang pengetahuan yang sangat kuat bagi para wisatawan saat berkunjung ke daerah ini,” jelasnya.
Museum dan Festival Seni Ikut Menghidupkan Sejarah
Pelestarian budaya di Samarinda juga dilakukan melalui berbagai langkah pendukung. Pemerintah terus mengusulkan warisan budaya tak benda ke tingkat nasional, memperkuat fungsi museum melalui digitalisasi koleksi, hingga rutin menggelar pameran agar masyarakat lebih mudah mengenal artefak sejarah daerah.
Di sisi lain, festival seni juga menjadi bagian dari strategi memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus wisatawan.
Barlin menilai, keterhubungan antara cagar budaya, museum, dan festival seni mampu menciptakan pengalaman budaya yang lebih utuh sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah.
“Integrasi antara objek cagar budaya, museum, dan festival seni tahunan terbukti mampu membangkitkan kebanggaan warga terhadap kekayaan budaya lokalnya,” terang Barlin.
Budaya Tak Sekadar Dilestarikan, Tapi Juga Menghidupkan Ekonomi
Kece People, bagi Pemerintah Kota Samarinda, menjaga warisan budaya bukan hanya soal merawat bangunan tua atau mengenang sejarah. Lebih dari itu, budaya dipandang sebagai aset yang mampu menggerakkan sektor pariwisata, membuka peluang ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat citra Kota Tepian di mata wisatawan.
Karena itu, pembinaan terhadap pelaku seni dan budayawan lokal terus dilakukan agar ekosistem kebudayaan berkembang secara berkelanjutan.
Menutup pesannya, Barlin mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga peninggalan sejarah agar tetap menjadi kebanggaan bersama.
“Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama merawat peninggalan bersejarah ini agar jati diri Kota Samarinda tetap lestari hingga masa mendatang,” tandasnya.






