Kece People, di Cempaka, cerita tentang intan tidak hanya berhenti pada kilau batu mulia yang dicari dari dalam tanah. Di sana ada peluh para pendulang, ada tradisi yang diwariskan, ada sejarah yang masih hidup, dan ada peluang besar bagi Banjarbaru untuk menumbuhkan ekonomi kreatif lewat konsep Living Museum. Jika dikemas dengan serius, kawasan pendulangan intan itu bisa menjadi wajah baru pariwisata Banjarbaru sekaligus memperkuat langkah kota ini menuju jejaring Kota Kreatif.
Di tengah banyak daerah berlomba menciptakan ikon baru, Banjarbaru sebenarnya tidak harus mulai dari nol. Ada kisah lama yang masih bernapas sampai hari ini. Ada tangan-tangan masyarakat yang turun ke lubang pendulangan, ada tanah, air, harapan, tradisi, dan cerita tentang intan yang sejak lama melekat dengan identitas Cempaka. Nah, di titik inilah konsep Living Museum menemukan panggungnya.
Narwanto melihat potensi itu sebagai modal penting. Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang benar-benar baru. Kadang, kekuatan paling mahal justru sudah ada di depan mata, hanya belum dibaca dengan jeli dan belum dikemas dengan strategi yang pas.
Banjarbaru, dalam pandangan Narwanto, punya bekal kuat melalui Cempaka. Kawasan ini bukan hanya dikenal karena aktivitas ekonomi masyarakatnya, tetapi juga karena tradisi pendulangan intan yang memiliki nilai budaya, sejarah, dan pengalaman hidup yang khas. Cerita semacam ini bukan barang pasaran, Kece People. Tidak semua daerah punya narasi sekuat itu.
“Living Museum itu bukan museum fisik, tetapi museum kehidupan. Di Banjarbaru, salah satu potensi kuatnya ada di Cempaka dengan budaya mendulang intan,” Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru, Narwanto saat dijumpai awak media ini beberapa waktu lalu.
Pernyataan itu memberi penekanan penting bahwa museum tidak harus selalu berupa bangunan dengan etalase kaca, benda tua, dan papan informasi. Dalam konsep Living Museum, kehidupan masyarakat justru menjadi ruang pamer utama. Aktivitas warga, tradisi, cara bekerja, cerita turun-temurun, hingga suasana kampung menjadi bagian dari pengalaman yang bisa dirasakan langsung oleh pengunjung.
Narwanto berujar, kalau dikembangkan dengan matang, pendulangan intan Cempaka bisa naik kelas menjadi aset budaya dan heritage Banjarbaru. Dari sana, peluang ekonomi kreatif bisa tumbuh ke banyak arah. Seni pertunjukan bisa mengangkat cerita para pendulang. Kuliner lokal bisa hadir sebagai bagian dari paket wisata. Kerajinan, fesyen, musik, fotografi, hingga wisata berbasis pengalaman bisa ikut bergerak. Jadi bukan cuma datang, lihat, lalu pulang. Wisatawan bisa merasa ikut masuk ke dalam cerita.
Narwanto juga menekankan pentingnya membaca potensi daerah melalui tujuh aset. Aset itu meliputi spiritual asset, human asset, cultural asset, heritage asset, natural asset, ecological asset, dan other asset. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah bisa melihat bagian mana yang paling kuat, paling siap, dan paling mungkin dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi kreatif.
“Dari hasil penggalian aset-aset itu, bisa dipetakan mana yang dominan atau saling terkait hingga membentuk sebuah ekosistem,” ujarnya.
Dalam konteks Banjarbaru, Narwanto menjelaskan, Living Museum punya peluang karena tidak berdiri pada satu unsur saja. Di dalamnya ada manusia, budaya, sejarah, ruang hidup, alam, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Semua itu bisa saling bertaut jika dirancang secara serius. Macam benang yang disusun jadi kain, masing-masing aset perlu dipertemukan agar menjadi identitas kreatif yang kuat.
Namun, menurutnya ekonomi kreatif tetap membutuhkan pariwisata sebagai mesin pemasaran. Produk kreatif yang bagus perlu panggung. Cerita yang kuat perlu audiens. Pengalaman lokal yang unik perlu dikomunikasikan secara menarik agar orang mau datang, membagikan pengalaman, lalu merekomendasikannya ke orang lain.
Ia juga menilai daya tarik wisata tidak boleh berhenti sebagai kunjungan biasa. Harus ada cerita, pengalaman, inovasi, dan kekhasan lokal. Dalam bahasa anak sekarang, harus punya “rasa” dan “value”, bukan cuma spot foto. Sebab wisatawan masa kini, terutama Gen Z dan Gen Alpha, cenderung mencari pengalaman yang autentik, visual, bisa dibagikan, tetapi tetap punya makna.
Beberapa daerah sudah membuktikan bahwa kekuatan lokal bisa menjadi wajah kreatif. Banjarmasin, misalnya, pernah mengangkat susur sungai dan pembuatan sasirangan dalam Festival Kota Kreatif. Identitas lokal itu tidak dibiarkan menjadi cerita lama, tetapi dibawa ke ruang promosi yang lebih luas.
Banjarbaru pun punya peluang serupa. Dengan mengangkat Living Museum dan pendulangan intan Cempaka, kota ini bisa memperkuat posisinya dalam jejaring Kota Kreatif. Lebih dari itu, konsep ini dapat membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, masyarakat Cempaka, dan sektor pariwisata.
Narwanto menyatakan pihaknya siap memberikan rekomendasi dan pendampingan jika konsep Living Museum Banjarbaru ingin dikawal lebih lanjut. Harapannya, potensi ini tidak berhenti sebagai obrolan manis di forum atau dokumen perencanaan semata, tetapi benar-benar turun menjadi program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Agar potensi itu tidak terkubur, cara mengangkat narasinya harus luar biasa. Itu yang kami dorong untuk Banjarbaru. Setelah konsepnya terbentuk, pariwisata yang nantinya akan memasarkan. Jadi, kami memicu, mengemas, sekaligus memberikan rekomendasi. Kalau nanti ingin dikawal lebih lanjut, kami siap mengawal agar program ini benar-benar bisa berjalan,” demikian disampaikan.
Kece People, intan Cempaka selama ini dikenal karena kilau batunya. Tapi ke depan, bisa jadi yang paling berkilau bukan hanya intannya, melainkan cerita, budaya, dan kehidupan masyarakatnya. Kalau digarap dengan cerdas, Living Museum Banjarbaru bisa menjadi pintu baru bagi ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadikannya energi untuk masa depan.






