Kece People, ada satu panggung di Banjarbaru yang malam itu bukan cuma soal kompetisi—tapi tentang mimpi besar anak muda yang mulai bergerak—tentang generasi yang ingin membawa perubahan dan ikut mewujudkan Banjarbaru Emas dengan cara mereka sendiri.
Di Aula Gawi Sabarataan, suasana terasa beda. Bukan sekadar gemerlap acara, tapi ada semangat muda yang terasa nyata. Mereka datang bukan cuma untuk tampil, tapi untuk menyampaikan satu hal: generasi sekarang siap ambil peran.
Ajang yang digagas oleh DP3APMP2KB Kota Banjarbaru ini jadi titik temu antara ide, keberanian, dan kepedulian. Tema yang diusung pun nggak main-main—“Rise with Passion, Inspire with Vision: Banjarbaru Emas in Action.”
Dari 43, Tersisa 10 Terbaik
Perjalanan mereka nggak instan, Kece People. Dari 43 peserta, hanya 10 yang berhasil berdiri di panggung grand final. Tapi yang diuji bukan cuma pintar di atas kertas.
Karakter, kepemimpinan, sampai cara berbicara—semuanya jadi penilaian. Karena di balik selempang yang terlihat keren, ada tanggung jawab besar: jadi suara bagi generasi sendiri.
Dan di sinilah, cerita mereka mulai terasa beda.
Bukan Sekadar Juara, Tapi Agen Perubahan
Kepala DP3APMP2KB, Erma Epiyana Hartati, menyampaikan pesan yang cukup dalam.
“Kalian adalah yang terbaik dari yang terbaik. Selempang yang akan dikenakan bukan sekadar simbol, tetapi tanggung jawab besar sebagai agen perubahan,” tegasnya.
Pesan ini kayak pengingat—bahwa menang itu bukan akhir, tapi awal dari peran yang lebih besar.
Gen Z & Alpha, Bukan Lagi Penonton
Yang menarik, ajang ini bukan cuma tentang kompetisi. Tapi juga jembatan antara pemerintah dan generasi muda.
Dengan kekuatan media sosial, empati, dan cara komunikasi yang relate, para finalis diharapkan bisa jadi penyambung pesan—dari isu kesehatan, perencanaan hidup, sampai hal-hal yang sering dianggap tabu.
“Yang kami cari bukan hanya juara secara akademik, tetapi juga sosok dengan public speaking yang persuasif, karakter kuat, dan mampu merepresentasikan nilai luhur Banjarbaru,” tambahnya.
Lawan Isu Nyata, Bukan Sekadar Wacana
Sementara itu, Rizana Mirza yang hadir mewakili Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, menyampaikan pesan yang cukup tegas.
“Menjadi Duta GenRe bukan tentang panggung dan piala, tetapi tentang tanggung jawab moral melawan TRIAD KRR: pernikahan dini, seks pranikah, dan penyalahgunaan napza,” ujarnya.
Isu yang diangkat bukan isu ringan. Tapi justru di situlah peran mereka dibutuhkan—jadi role model yang bisa bicara dengan cara yang dimengerti teman sebayanya.
Dari Panggung ke Aksi Nyata
Di akhir acara, satu hal terasa jelas, Kece People—ini bukan sekadar event tahunan.
Ini tentang bagaimana sebuah kota menyiapkan masa depannya lewat generasi muda. Lewat mereka yang berani bicara, berani peduli, dan berani bergerak.
Karena seperti yang disampaikan di penutup, pesan itu sederhana tapi kuat:
“Kalian semua adalah pemenang. Kalian adalah representasi remaja cerdas, berkarakter, dan peduli.”
Energi Muda, Harapan Baru
Grand Final Duta GenRe Banjarbaru 2026 bukan cuma melahirkan pemenang. Tapi melahirkan harapan.
Dari panggung itu, lahir anak-anak muda yang nggak cuma pakai selempang—tapi juga membawa misi besar.
Misi untuk bikin Banjarbaru jadi lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Dan mungkin, dari mereka… perubahan itu benar-benar dimulai.






