Kece People, sekarang ngomongin kripto itu bukan lagi soal “anak sultan” atau investor kawakan—tapi sudah jadi obrolan tongkrongan Gen Z, nah.
Sekarang kripto bukan lagi dunia yang jauh buat anak muda, Kece People.
Justru generasi inilah yang lagi pegang kendali, bikin obrolan soal investasi digital makin hidup dan penuh dinamika.
Di acara Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 yang digelar di Universitas Sebelas Maret, terlihat jelas satu hal: kripto sudah masuk ke gaya hidup finansial anak muda.
Gen Z: Dari Penonton Jadi Pemain Utama
Data dari laporan industri menunjukkan angka yang nggak main-main—lebih dari 60% investor kripto di Indonesia adalah generasi muda.
Di platform seperti Tokocrypto, Gen Z bahkan jadi segmen paling aktif:
- Usia 18–24 tahun: 26,9%
- Usia 25–30 tahun: 35,1%
Artinya, bukan cuma banyak—tapi juga paling sering transaksi.
Yang menarik, Kece People, nilai deposit mereka nggak selalu besar. Rata-rata di kisaran Rp100 ribu sampai Rp500 ribu. Tapi konsisten.
Ini nunjukkin satu hal, yakni gen Z mungkin belum besar modalnya, tapi besar keberaniannya.
Antara Cuan dan FOMO
Tapi di balik euforia ini, ada catatan penting, Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital OJK, Dino Milano Siregar, mengingatkan bahwa tingginya partisipasi belum tentu sejalan dengan pemahaman.
“Partisipasi yang tinggi ini perlu kita lihat secara lebih kritis. Tidak semua didorong oleh pemahaman yang kuat, tetapi juga oleh faktor social learning, peer influence, hingga fear of missing out atau FOMO yang sangat kuat di kalangan generasi muda,” ujar Dino, seperti di kutip dari keterangan tertulis, Jumat (17/4).
Gaya Investasi Gen Z: Cepat, Berani, Tapi Mulai Belajar
Dari sisi platform, karakter Gen Z juga unik. Mereka cepat ambil keputusan, berani ambil risiko, dan sangat dipengaruhi tren.
“Gen Z cenderung lebih aktif dan memiliki risk appetite yang lebih tinggi. Mereka cepat dalam mengambil keputusan, terutama saat melihat peluang dari tren pasar. Namun di sisi lain, mereka juga mulai menunjukkan perkembangan positif dengan meningkatnya literasi, seperti diversifikasi aset dan pengelolaan portofolio yang lebih strategis,” ujar Business Development & Research Lead Tokocrypto, Indriana.
Fenomena Global: Gen Z Lebih Percaya Kripto?
Fenomena ini nggak cuma terjadi di Indonesia, studi global menunjukkan bahwa Gen Z bahkan lebih percaya kripto dibanding lembaga keuangan tradisional.
Alasannya sederhana:
- Ingin kontrol penuh atas aset
- Transparansi
- Akses yang lebih terbuka
Di tengah tekanan ekonomi—biaya hidup naik, pendapatan stagnan—kripto jadi alternatif yang “terlihat menjanjikan”.
Literasi Jadi Kunci
Di sinilah pentingnya edukasi, platform seperti Tokocrypto mulai bergerak lewat berbagai program:
- Tokocrypto Academy
- Webinar & workshop
- Komunitas OBRAS (Obrolan Komunitas)
Bahkan, program ini sudah menjangkau lebih dari 50 kota dan 200 ribu peserta.
“Kami melihat edukasi sebagai fondasi penting untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. Melalui berbagai inisiatif seperti Tokocrypto Academy, Weekly Research, webinar, hingga workshop dan kolaborasi dengan kampus, kami ingin memastikan pengguna tidak hanya ikut tren, tetapi juga memahami risiko dan strategi investasi,” jelas Indriana.
Antara Tren dan Kesadaran
Kece People, kripto hari ini bukan cuma soal teknologi—tapi juga soal mindset. Gen Z sudah masuk ke dunia ini dengan cepat. Bahkan terlalu cepat, mungkin.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi, “apakah kripto itu menarik? tapi apakah kita benar-benar paham apa yang kita lakukan?”
Karena di dunia yang serba cepat ini yang paling berbahaya bukan ketinggalan tren, tapi ikut tren tanpa arah.






