Kece People, pernah nggak sih kamu lagi duduk bareng teman-teman, tapi suasananya justru terasa sepi? Semua ada di tempat yang sama, tapi mata lebih sering tertuju ke layar daripada ke satu sama lain. Nongkrong yang harusnya penuh cerita, pelan-pelan berubah jadi momen sunyi yang dipenuhi scroll tanpa henti. Bareng, tapi entah kenapa terasa jauh.
Fenomena ini bukan hal baru, tapi makin terasa nyata. Nongkrong yang dulu jadi ruang cerita dan tawa, sekarang pelan-pelan berubah jadi ruang yang dipenuhi notifikasi, scroll tanpa henti, dan percakapan yang sering terputus.
Coba perhatiin sekitar, Kece People. Di kafe, di tongkrongan, bahkan di ruang kampus. Sekelompok anak muda duduk bersama, tapi suasananya sering sunyi. Bukan karena nggak akrab, tapi karena semua sedang “sibuk” di dunia masing-masing.
Ada yang lagi scroll TikTok, ada yang balas chat, ada juga yang sekadar lihat story orang lain.
Ironisnya, semua itu dilakukan saat sedang bersama.
“Kita ketemu buat ngobrol, tapi malah lebih banyak diam karena sibuk sama HP masing-masing,” keluh Zhafirah saat dijumpai di sebuah kafe.
Di satu sisi, teknologi memang memudahkan segalanya. Kita bisa tetap terhubung dengan siapa saja, kapan saja.
Tapi di sisi lain, kedekatan yang ada di depan mata justru sering terlewat.
Fenomena ini juga terasa di Banjarbaru. Nongkrong tetap jadi budaya. Kafe tetap ramai. Tapi pola interaksinya mulai berubah.
Dulu, ngobrol bisa panjang sampai lupa waktu. Sekarang, obrolan sering berhenti di tengah karena notifikasi masuk.
“Kadang nongkrong cuma buat update story, habis itu ya sibuk sendiri lagi,” ungkapnya.
Dan tanpa sadar, momen yang seharusnya jadi kenangan… jadi sekadar lewat begitu saja. Hanya menjadi memori di sosial media tanpa jiwa.
Fenomena ini nunjukin satu hal penting: koneksi digital tidak selalu berarti koneksi emosional.
Gen Z adalah generasi yang paling terkoneksi secara teknologi. Tapi justru di situ tantangannya—bagaimana tetap hadir secara utuh di dunia nyata.
Karena pada akhirnya, interaksi yang benar-benar terasa bukan yang lewat layar, tapi yang terjadi langsung di depan kita.
Kece People, saat kamu lagi nongkrong bareng teman, kamu benar-benar hadir di situ… atau cuma “online” di tempat lain?
Karena bisa jadi, yang kita butuhkan bukan koneksi yang lebih banyak—tapi koneksi yang lebih nyata.






