Kece People, pagi di Lapangan Murjani terasa lebih khidmat dari biasanya. Langit masih cerah, barisan peserta upacara sudah rapi berdiri, dan suasana pelan-pelan berubah jadi penuh makna. Hari itu bukan sekadar rutinitas tahunan—tapi momen yang mengingatkan kembali ke mana arah pendidikan kita sedang melangkah.
Upacara Hari Pendidikan Nasional 2026 di jantung Kota Banjarbaru itu dipimpin langsung oleh orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby. Hadir pula jajaran Forkopimda, para pejabat daerah, kepala sekolah, guru, hingga ratusan siswa dari berbagai jenjang. Semua menyatu dalam satu barisan—tanpa sekat, dengan satu tujuan yang sama.
Di tengah suasana yang khidmat, Lisa Halaby membacakan sambutan dari Abdul Mu’ti. Isinya bukan sekadar formalitas, tapi pesan tentang arah baru pendidikan nasional—yang mulai bergerak ke pendekatan deep learning, pembelajaran yang lebih dalam, lebih bermakna.
Beberapa program strategis pun disampaikan. Mulai dari pembangunan dan revitalisasi lebih dari 16 ribu satuan pendidikan, hingga distribusi ratusan ribu papan interaktif digital ke sekolah-sekolah. Dunia pendidikan pelan-pelan didorong masuk ke era yang lebih modern.
Di sisi lain, perhatian juga diberikan kepada para guru. Pemerintah menyiapkan beasiswa Rp3 juta per semester bagi guru yang belum menempuh pendidikan S1/D4, dengan target hingga 150 ribu guru pada 2026. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa kualitas pendidikan dimulai dari kualitas pengajarnya.
Tak kalah penting, ada juga penekanan pada budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Sebuah upaya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, sekaligus bebas dari perundungan dan kekerasan.
Di tengah pidato, satu kalimat terasa begitu “kena” di hati peserta upacara.
“Jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan. Jika hendak memperbaiki pendidikan, perbaikilah mulai dari dalam kelas,” ujar Erna Lisa Halaby saat membacakan kutipan pesan menteri tersebut.
Kalimat sederhana, tapi punya makna dalam. Seolah mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil—dari ruang kelas, dari cara mengajar, dan dari cara belajar.
Upacara ini juga jadi momen apresiasi. Penghargaan diberikan kepada para guru dan tenaga kependidikan yang selama ini mungkin jarang terlihat, tapi punya peran besar dalam membentuk masa depan generasi muda Banjarbaru.
Di akhir acara, doa bersama dipanjatkan. Bukan sekadar penutup, tapi harapan—agar pendidikan di Indonesia, khususnya di Banjarbaru, terus melangkah maju.
Kece People, dari Lapangan Murjani pagi itu, kita bisa melihat satu hal: pendidikan bukan cuma soal kebijakan atau program. Tapi tentang semangat yang dijaga bersama.
Karena dari ruang-ruang kelas itulah, masa depan kota ini—bahkan bangsa ini—sedang ditulis pelan-pelan.






