Kece People, zaman sekarang hidup memang serba cepat, tapi kadang hati terasa ikut lelah.
Lihat kehidupan orang lain di media sosial yang tampak sempurna bisa membuat perasaan jadi kada nyaman, apalagi kalau mulai membandingkan diri terus-menerus.
Inilah mengapa isu kesehatan mental, media sosial, self-diagnose, gangguan mental, dan anak muda semakin penting untuk dibahas, khususnya di kalangan generasi muda.
Fenomena ini ibarat ombak kecil yang terus menerus menghantam. Awalnya terasa biasa saja, tapi lama-lama bisa mengikis rasa percaya diri. Apalagi ketika media sosial menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, sementara kenyataan di balik layar tidak selalu seindah itu. Dalam bahasa Banjar, kondisi ini sering disebut “hati jadi kada nyaman”, walau dari luar kelihatan santai.
Psikolog sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat, Muhammad Syarif Hidayatullah, menegaskan bahwa kesehatan mental harus dipandang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
“Banyak orang masih menempatkan kesehatan fisik sebagai prioritas utama, padahal kondisi mental dan fisik berjalan berdampingan dan sama-sama memengaruhi kualitas hidup.,” ujarnya saat dihubungi.
Ia menjelaskan, kesehatan mental berkaitan erat dengan cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini tidak dijaga dengan baik, dampaknya bisa berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.
Tekanan itu semakin terasa karena penggunaan media sosial yang makin intens. Banyak anak muda tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain—mulai dari soal karier, penampilan, hingga gaya hidup. Padahal, tidak semua yang terlihat di media sosial mencerminkan realitas sebenarnya.
Seorang praktisi psikologi bernama Sabrina juga menyoroti hal tersebut. Menurutnya, kebiasaan membandingkan diri dengan sudut pandang negatif dapat merusak konsep diri seseorang.
Kebiasaan membandingkan diri, terutama bersuuzhon (sangka tidak baik: red) bisa menggerus rasa percaya diri sedikit demi sedikit. Saat perasaan tidak berharga mulai muncul, di situlah kecemasan dan depresi bisa datang tanpa disadari,” jelas Syarif.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Kece People, adalah maraknya tren self-diagnose di kalangan anak muda. Banyak orang mencoba mendiagnosis kondisi mentalnya sendiri hanya dari informasi di internet, tanpa berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Menurutnya, kebiasaan ini bisa berbahaya karena tidak semua informasi di internet sesuai dengan kondisi individu. Gejala yang dicari di internet kemudian langsung disimpulkan sebagai gangguan berat tanpa penjelasan yang tepat, justru dapat membuat individu semakin terpuruk.
Dalam beberapa kasus, kecemasan berlebihan bahkan dapat dipicu oleh diagnosis yang tidak akurat hingga perilaku berbahaya berisiko terdorong. Karena itu, penanganan oleh tenaga profesional dinilai sebagai langkah penting agar pemahaman yang benar tentang kondisi mental seseorang dapat diperoleh.
Kesadaran tentang kesehatan mental sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana—bantuan dapat diminta, cerita dapat dibagikan kepada orang terdekat, dan masalah tidak perlu dipendam sendirian. Dukungan sosial pun kerap dianggap sebagai benteng pertama sebelum masalah berkembang lebih jauh.
“Di sisi lain, kita juga perlu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ketika kita peduli dan peka terhadap kondisi orang lain, kita pun akan lebih mudah merasakan perubahan dalam diri sendiri,” tandasnya.






