Kece People, pagi itu suasana di SMPN 1 Banjarbaru terasa beda dari biasanya. Nggak cuma soal pelajaran di dalam kelas, tapi ada gerak, ada tawa, dan ada semangat yang terasa sampai ke luar sekolah. Para siswa turun langsung ke lingkungan sekitar—bahkan sampai ke bantaran Sungai Kemuning—bukan sekadar melihat, tapi benar-benar ikut merasakan dan menjaganya.
Di SMPN 1 Banjarbaru, kegiatan kokurikuler kali ini benar-benar dibawa keluar dari ruang kelas. Nggak tanggung-tanggung, salah satu titik yang disasar adalah bantaran Sungai Kemuning—tempat di mana realita lingkungan terlihat apa adanya.
Selama lima hari berturut-turut, aktivitas mereka nggak langsung “besar”. Dimulai dari hal sederhana: membersihkan kelas. Lalu naik ke area sekolah. Sampai akhirnya, mereka benar-benar turun ke lingkungan masyarakat.
Pelan, tapi berjenjang. Sederhana, tapi berdampak.
Pembina Kesiswaan, Andina Mega Siwi, menjelaskan bahwa ini bukan sekadar kegiatan tambahan, tapi bagian dari proses belajar itu sendiri.
“Kami berharap melalui kegiatan ini, siswa dapat menumbuhkan karakter peduli terhadap lingkungan dan alam sekitarnya,” ujarnya.
Di bantaran sungai, pelajaran jadi terasa lebih nyata. Nggak ada papan tulis, tapi ada sampah yang terlihat langsung. Nggak ada teori panjang, tapi ada kondisi yang bisa dirasakan.
Di situlah siswa mulai memahami—bahwa lingkungan bukan sekadar materi pelajaran, tapi sesuatu yang mereka hadapi setiap hari.
“Segala sesuatu yang dibuang sembarangan akan kembali kepada kita dalam bentuk yang berbeda, seperti kerusakan lingkungan, banjir, dan berbagai dampak negatif lainnya,” jelasnya.
Menariknya, kegiatan ini nggak berhenti di aksi bersih-bersih saja. Siswa juga diajak berpikir. Mereka mengamati, mengidentifikasi masalah, lalu mencoba memahami dampaknya jika dibiarkan.
Dari situ, muncul satu hal yang lebih penting dari sekadar bersih lingkungan: kesadaran.
Sebagai lanjutan, para siswa bahkan diberi tugas membuat video edukatif. Isinya tentang bagaimana menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Bukan cuma untuk nilai, tapi juga jadi kampanye kecil-kecilan yang bisa menyebar ke masyarakat.
Dan puncaknya, kegiatan ini akan ditutup dengan agenda spesial. Mulai dari pemilihan duta lingkungan, sampai pameran karya daur ulang hasil kreativitas siswa.
Bukan cuma soal siapa yang paling aktif, tapi siapa yang paling peduli.
Kece People, dari sini kita bisa lihat satu hal: perubahan besar kadang dimulai dari langkah kecil. Dari memungut sampah, dari melihat langsung kondisi sekitar, sampai akhirnya tumbuh jadi kebiasaan.
SMPN 1 Banjarbaru lagi menunjukkan bahwa pendidikan nggak harus selalu di dalam kelas. Kadang, pelajaran paling penting justru ada di luar sana—di tanah yang mereka pijak, dan di lingkungan yang mereka jaga.
Karena menjaga alam itu bukan tugas orang lain—tapi tanggung jawab kita sabarataan.






