Kece People, mungkin ada anak perempuan di sudut Kalimantan Selatan yang hari itu melihat layar televisi atau membaca berita, lalu berbisik dalam hati, “Ternyata perempuan juga bisa.”
Pada 21 Juni 2025, mimpi itu seperti mendapat jawaban. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang perempuan resmi dilantik sebagai kepala daerah di Kalimantan Selatan.
Ia adalah Hj Erna Lisa Halaby, yang kini memimpin Banjarbaru periode 2025–2030 bersama wakilnya, Wartono.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya pelantikan biasa. Tapi bagi banyak perempuan, ini adalah pesan kuat bahwa ruang kepemimpinan tidak lagi berpintu sempit.
Kalau kata urang Banjar, “mun kawa, napa kada?” Kalau bisa, kenapa tidak?
Dan hari itu, Banjarbaru membuktikan: bisa.
Dari Meja Pelayanan ke Panggung Sejarah
Perjalanan Hj Erna Lisa Halaby tidak lahir dari panggung politik yang gemerlap. Ia ditempa dari ruang-ruang kerja pemerintahan yang sunyi.
Lisa memulai kariernya di Pemerintah Kota Banjarbaru pada tahun 2000, di era kepemimpinan Rudy Resnawan. Saat itu, ia hanyalah staf bagian umum. Tak banyak sorotan, tak ada kamera. Hanya kerja, disiplin, dan ketekunan.
Pelan tapi pasti, dedikasinya terlihat. Pada 2007 ia diangkat sebagai CPNS, lalu resmi menjadi PNS setahun kemudian. Kariernya terus bergerak naik, bukan karena sensasi, melainkan konsistensi.
Ia pernah menjabat sebagai Kasi Kesejahteraan Sosial di Kelurahan Komet. Lalu dipercaya menjadi Sekretaris Lurah di Kelurahan Loktabat Utara. Perjalanan itu berlanjut hingga ia menduduki posisi Kepala Sub Bagian Kesejahteraan Masyarakat di Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Banjarbaru.
Posisi-posisi itu mungkin terdengar administratif. Namun di situlah ia bersentuhan langsung dengan denyut persoalan warga. Dari urusan bantuan sosial hingga dinamika kebutuhan masyarakat di lapangan.
Kece People, fondasi kepemimpinan sering kali tidak dibangun di podium besar. Ia dibentuk dari pengalaman memahami masalah rakyat satu per satu.
Dan pada 10 Juni 2024, Lisa mengambil keputusan besar. Ia resmi mengundurkan diri sebagai aparatur sipil negara. Sebuah langkah berani yang menjadi titik balik menuju panggung kepemimpinan yang lebih luas.
Dari meja pelayanan… menuju kursi wali kota.
Pilkada yang Penuh Dinamika
Kota Banjarbaru menjadi saksi bahwa jalan menuju kepemimpinan tidak selalu mulus.
Pilkada Banjarbaru 2024 bukan sekadar kontestasi biasa. Ada dinamika hukum. Ada Pemungutan Suara Ulang. Ada perdebatan di ruang publik yang tak pernah benar-benar sunyi. Sorotan datang dari berbagai arah, menguji ketahanan dan kesabaran.
Namun demokrasi selalu punya caranya sendiri untuk menemukan titik terang.
Pada 19 April 2025, suara rakyat akhirnya berbicara tegas. Pasangan Hj Erna Lisa Halaby dan Wartono unggul.
Bukan karena kebetulan. Bukan karena momentum sesaat. Tapi karena pilihan warga.
Dan ketika penetapan resmi dilakukan pada 28 Mei 2025, satu babak baru dimulai. Banjarbaru sah memiliki wali kota baru. Seorang perempuan.
Di tengah kultur politik yang selama ini lekat dengan dominasi laki-laki, kemenangan ini terasa seperti pintu besar yang akhirnya terbuka. Bukan hanya untuk satu nama, tapi untuk banyak harapan yang selama ini menunggu giliran.
21 Juni 2025: Hari Sejarah Itu Ditulis
Di Aula Idham Chalid, momen itu terasa lebih dari sekadar seremoni. Di ruang itu, ketika sumpah jabatan dibacakan, yang bergerak bukan hanya estafet kekuasaan—tetapi juga harapan.
Di gedung yang menjadi bagian penting dari denyut pemerintahan Banjarbaru itu, ribuan perempuan di Kalimantan Selatan seperti ikut berdiri dalam diam. Ada yang menyaksikan langsung. Ada yang menonton dari layar kecil di rumah. Ada yang hanya membaca kabar lewat ponsel. Tapi getarannya terasa sama.
Bagi Hj Erna Lisa Halaby, hari itu bukan hanya tentang dirinya.
Ia membawa simbol.
Simbol bahwa perempuan bisa memimpin tanpa harus meminta izin pada stereotip.
Simbol bahwa batasan sosial yang dulu terasa tebal ternyata bisa ditembus dengan kerja dan keteguhan.
Simbol bahwa sejarah tidak selalu diwariskan—kadang ia diperjuangkan.
Kalau kata urang Banjar, “mun kawa, napa kada?” Kalau bisa, kenapa tidak?
Dan hari itu, jawaban itu tidak lagi berupa pertanyaan. Ia menjadi kenyataan.

Lebih dari Sekadar Jabatan
Sebagai Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby tak butuh waktu lama untuk menegaskan arah kepemimpinannya. Pelayanan publik menjadi prioritas. Pemberdayaan perempuan diperkuat. Pembangunan inklusif ditegaskan sebagai fondasi.
Namun bagi banyak warga, terutama kaum ibu dan generasi muda perempuan, maknanya melampaui daftar program kerja.
Ini tentang legitimasi mimpi.
Tentang keyakinan yang dulu mungkin hanya disimpan dalam hati, kini mendapatkan contoh nyata di depan mata. Bahwa perempuan tidak selalu harus berada di balik layar. Tidak selalu hanya menjadi pendamping.
Perempuan juga bisa berdiri di garis depan.
Mengambil keputusan.
Menentukan arah kebijakan.
Memimpin perubahan.
Dan ketika satu perempuan berhasil membuka pintu itu, sering kali yang masuk setelahnya bukan hanya satu orang—melainkan satu generasi.
Babak Baru Politik Perempuan Banjarbaru
Kalimantan Selatan kini mencatat babak baru dalam sejarahnya. Untuk pertama kalinya, seorang perempuan berdiri sebagai kepala daerah. Dan nama itu adalah Hj Erna Lisa Halaby.
Bukan sekadar wali kota.
Bukan sekadar pejabat publik.
Melainkan simbol perubahan zaman.
Di Banjarbaru, makna itu terasa lebih dalam. Kota ini bukan hanya pusat pemerintahan provinsi. Ia kini dikenal sebagai tempat lahirnya tonggak baru kepemimpinan perempuan di Bumi Lambung Mangkurat.
Sebuah penanda bahwa ruang-ruang yang dulu terasa terbatas kini mulai terbuka. Bahwa langkah yang dulu dianggap sulit ternyata bisa dilalui. Dan bahwa sejarah, pada akhirnya, berpihak pada mereka yang berani melangkah.
Kece People, babak itu bukan lagi wacana. Ia sudah resmi dimulai.




