Kece People, Banjarbaru boleh ulang tahun ke-27, tapi pertanyaannya: sudah cukup hidup kah kota ini buat Gen Z? Dari event sampai ruang aman dan dukungan UMKM, jawabannya mulai kelihatan dari suara mereka.
Di momen Hari Jadi Kota Banjarbaru ke-27, Banjarbaru Kece mencoba merangkum obroal santai dengan Gen Z. Hasilnya? Bukan cuma ucapan “selamat ulang tahun”, tapi juga sederet harapan yang sederhana… tapi dalam maknanya.
Awalnya terdengar ringan.
“Sukses selalu n bisa punya banyak event,” ujar Ferren Tsana (17), pelajar asal Cempaka.
Singkat, tapi terasa—anak muda memang butuh ruang. Ruang untuk berkumpul, berekspresi, dan merasa “hidup” di kotanya sendiri.
Nada yang sama juga datang dari Zhafirah (19). Dengan gaya santai khas Gen Z, ia bilang,
“banyak banyak event,” sambil menyematkan simbol hati dengan merapatkan kedua jempol dan telunjuknya.
Emoji hati dari jari itu mungkin kecil, tapi pesannya jelas, Banjarbaru butuh lebih banyak momen yang bikin orang datang, berkumpul, dan punya cerita.
Tapi Kece People, gak semua harapan berhenti di “rame-rame aja”.
Ahmadi Nejad Ilmi (18) justru melihat lebih dalam. Ia berharap Banjarbaru punya wadah yang lebih terstruktur untuk anak muda berkembang.
“Memiliki media penyalur minat bakat yang terstruktur, misalnya komunitas diskusi buku, pelatihan tari daerah, bahkan mungkin komunitas artikel ini agar bisa dikembangkan serta dipertahankan kedepannya,” harapnya.
Nah ini dia—bukan cuma butuh panggung, tapi juga sistem yang bisa menjaga api kreativitas itu tetap menyala.
Kalau soal hiburan, Zharifa (17) langsung to the point aja.
“Banyak-banyak konser yaa,” ucapnya singkat.
Simple, jujur, dan… sangat Gen Z. Karena bagi mereka, konser bukan sekadar musik—tapi pengalaman, identitas, bahkan healing tipis-tipis dari rutinitas.
Menariknya lagi, ada juga yang mulai mikir soal dampak ekonomi.
Putri (18), dari Banjarbaru Selatan, punya harapan yang lebih “berisi” nih,
“Dalam penyelenggaraan event-event supaya memperbanyak kerjasama dengan usaha-usaha mikro kecil dari masyarakat, mungkin bisa dibantu untuk biaya-biaya seperti pajak atau sewa tempatnya agar tidak membebani para pihak UMKM,” inginnya.
Ini bukan cuma soal event, tapi soal keberlanjutan. Soal gimana keramaian kota juga bisa menghidupkan ekonomi warganya.
Dan di antara semua harapan itu, ada satu suara yang terasa paling dalam.
Zahrangatmadi (19), mahasiswa dari Landasan Ulin, mengangkat isu yang sering luput, dirinya berharap di Banjarbaru tersedia kelompok dukungan bagi penyintas kekerasan seksual yang tidak sekedar ada namun aktif, aman dan mudah diakses
“Kelompok ini penting untuk membantu korban mendapatkan pendampingan dan pemulihan yang layak. Selain itu, perlu adanya sosialisasi yang luas, terutama kepada orang tua, agar lebih peka, tidak menyalahkan korban, dan mampu memberikan dukungan yang tepat. Dengan begitu, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih peduli dan aman bagi semua,” pintanya.
Sunyi, tapi penting. Karena kota yang baik bukan cuma yang ramai… tapi juga yang aman.
Jadi Kece People, dari obrolan santai ini, kita belajar satu hal, yakni Gen Z gak cuma ingin Banjarbaru “ramai”, tapi juga bermakna.
Mereka ingin:
- Lebih banyak event
- Lebih banyak ruang berekspresi
- Dukungan untuk UMKM
- Wadah pengembangan diri
- Dan yang paling penting… rasa aman untuk semua
Di usia ke-27 ini, Banjarbaru mungkin sudah tumbuh. Tapi dari suara Gen Z, terlihat jelas—perjalanan masih panjang.
Dan siapa tahu, perubahan besar itu… justru berawal dari harapan sederhana yang hari ini terdengar “ringan haja”.






