Home Banjarbaru Tanglong Menyala, Malam Ramadan Banjarbaru Berwarna

Tanglong Menyala, Malam Ramadan Banjarbaru Berwarna

0
Salah satu peserta Festival Salikur tahun lalu mempersembahkan kesenian bedug. (FOTO: Dok. MedCenBJB)

Kece People, Ramadan selalu punya tradisi yang dinanti. Salah satunya Tanglong yang kembali menghadirkan cahaya lampion di malam Ramadan. Tradisi tanglong berpadu dengan bagarakan sahur dan menjadi bagian penting dari budaya Banjar Ramadan yang sudah hidup sejak lama di tengah masyarakat.

Tanglong bagi masyarakat Banjar bukan sekadar lampion hiasan. Tradisi ini sudah lama hidup di tengah masyarakat Kalimantan Selatan, termasuk di Banjarbaru. Setiap Ramadan, terutama menjelang malam-malam terakhir bulan puasa, warga membuat lampion dari bahan sederhana lalu dipasang di kampung, di sekitar masjid, bahkan diarak keliling kota.

Suasananya? Wah, meriah banar, Kece People. Anak-anak, remaja, sampai orang tua biasanya ikut ambil bagian. Ada yang membuat tanglong, ada yang membantu memasang, ada pula yang sekadar menikmati keindahan malam Ramadan yang terasa lebih hidup.

Tradisi Menyambut Malam Istimewa Ramadan

Kalau ditarik ke belakang, tradisi tanglong ternyata punya makna religius yang dalam. Ia berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Banjar dalam menyambut malam-malam penting Ramadan, terutama malam ke-21 atau yang dikenal sebagai malam Salikur.

Pada malam itu, masyarakat menyalakan lampion sebagai simbol cahaya harapan dalam menyambut malam kemuliaan.

“Festival Tanglong bertujuan untuk menyambut malam Lailatul Qadar dengan menyalakan lampion berbagai bentuk,” ujar Riza Bachtiar dikutip dari NU Online, (9/3/24).

Dari situ, tanglong tidak sekadar menjadi dekorasi Ramadan. Ia berubah menjadi simbol spiritual sekaligus kebersamaan masyarakat.

Dari Tradisi Kampung Jadi Festival Kota

Seiring waktu berjalan, tradisi ini pun berkembang. Kalau dulu tanglong hanya dibuat warga di lingkungan kampung, sekarang ia menjelma menjadi festival budaya Ramadan yang melibatkan berbagai komunitas.

Biasanya festival ini dipadukan dengan tradisi bagarakan sahur, yaitu kegiatan membangunkan warga untuk makan sahur dengan bunyi-bunyian khas Banjar.

Kombinasi keduanya membuat suasana kota terasa hidup. Ramadan pun tak hanya menjadi momen ibadah, tapi juga ruang kebersamaan masyarakat.

Ajang Kreativitas Anak Muda Banjarbaru

Yang bikin festival ini makin menarik, Kece People, tanglong sekarang hadir dengan berbagai desain kreatif. Ada yang berbentuk masjid, bulan sabit, bintang, bahkan miniatur bangunan bernuansa Islami.

Lampion-lampion itu biasanya dipasang di atas kendaraan atau kerangka tertentu lalu diarak dalam pawai keliling kota.

Pesertanya juga beragam, mulai dari remaja masjid, karang taruna, komunitas pemuda hingga warga dari berbagai kelurahan

Setiap kelompok berlomba menampilkan karya tanglong paling unik dan artistik.

Pernah Jadi Event Besar Kota

Dalam beberapa tahun terakhir, festival tanglong bahkan berkembang menjadi salah satu agenda Ramadan yang paling dinanti di Banjarbaru.

Biasanya kegiatan ini dipusatkan di Lapangan dr. Murdjani, jantung Kota Banjarbaru. Ribuan warga datang setiap tahun hanya untuk menikmati parade lampion yang penuh warna.

Bisa dibilang, kalau Ramadan tanpa tanglong, rasanya ada yang kurang.

Tanglong Banjarbaru 2026 Hadir dengan Konsep Baru

Nah Kece People, tahun ini tradisi tersebut kembali digelar. Komite Ekonomi Kreatif (Komite Ekraf) Banjarbaru resmi mengumumkan Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur 2026 yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Lapangan dr. Murdjani.

Namun ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika dulu festival identik dengan pawai keliling jalan raya, kali ini seluruh kegiatan dipusatkan di satu lokasi agar lebih tertata dan nyaman dinikmati masyarakat.

Koordinator pelaksana, Suroto, menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah panitia menggelar technical meeting bersama para peserta.

“Awalnya memang ada rencana pawai dengan rute tertentu. Namun setelah berbagai pertimbangan, akhirnya kami putuskan seluruh kegiatan dipusatkan di Lapangan Murdjani agar lebih terkontrol dan maksimal,” ujar Suroto usai memimpin pertemuan teknis.

Puluhan Tanglong Siap Dipamerkan

Panitia sudah menyiapkan tata letak khusus untuk festival tahun ini. Area kegiatan akan dibagi agar pengunjung bisa menikmati setiap penampilan dengan nyaman.

Penampilan bagarakan sahur akan dipusatkan di panggung utama Pasar Ramadan di kawasan Lapangan Murdjani.

Sementara puluhan karya tanglong akan dipajang di area depan hingga sayap Balai Kota Banjarbaru.

Antusiasme peserta juga terbilang tinggi. Tercatat 19 kelompok siap tampil dalam lomba bagarakan sahur dan 31 peserta lainnya akan memamerkan tanglong terbaik mereka.

“Pesertanya cukup banyak dan semangatnya luar biasa. Karena itu penempatan tanglong kami atur di beberapa titik sekitar Balai Kota agar seluruh karya bisa tertampung dengan baik,” kata Suroto.

Wali Kota Minta Nuansa Islami

Perhatian khusus juga datang dari Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby. Ia meminta festival tahun ini benar-benar mencerminkan nilai religius Ramadan.

“Untuk tahun ini Ibu Wali Kota sangat concern. Tidak boleh ada bentuk raksasa yang menyerupai setan atau figur seram. Semua wajib bernuansa Islami,” tegas Suroto menyampaikan arahan wali kota.

Selain itu, pada kategori bagarakan sahur panitia juga menetapkan lagu “Siti Fatimah dan Sebelas Bintang” sebagai lagu wajib bagi seluruh peserta.

Tradisi Lama yang Tetap Hidup

Meski tahun ini tanpa pawai keliling, kemeriahan festival dipastikan tetap terasa. Bahkan panitia menilai konsep baru ini akan membuat acara lebih tertata dan nyaman dinikmati masyarakat.

Kece People, di balik lampion yang menyala indah itu sebenarnya ada cerita yang lebih besar.

Ada gotong royong warga, ada kreativitas anak muda, dan ada semangat menjaga tradisi Ramadan agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Dan mungkin itulah yang membuat tanglong selalu punya tempat di hati masyarakat Banjar.

Karena setiap Ramadan datang, lampion-lampion itu seperti mengingatkan satu hal sederhana:

tradisi lama bisa terus bersinar… selama masih ada generasi yang mau menjaganya.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version