Kece People, di tengah gempuran wisata modern dan tempat healing kekinian, kawasan Pumpung Cempaka di Banjarbaru diam-diam sedang disiapkan jadi destinasi budaya yang punya cerita berbeda. Bukan cuma soal wisata biasa, kawasan yang lekat dengan sejarah pendulangan intan tradisional dan legenda Intan Trisakti ini mulai didorong menjadi Cempaka Living Museum — sebuah konsep wisata hidup yang mengajak orang melihat langsung jejak sejarah, budaya, dan kehidupan para pendulang intan Banua tempo dulu.
Bukan sekadar wacana, langkah itu mulai digerakkan lewat kolaborasi santai tapi serius antara Komite Ekonomi Kreatif (EKRAF) Banjarbaru bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Tiung.
Uniknya lagi, diskusi ini nggak digelar di hotel mewah atau ruang rapat formal. Mereka justru memilih suasana berkemah di kawasan pendulangan intan Pumpung Cempaka. Di tengah alam terbuka, suara obrolan tentang sejarah, wisata, sampai masa depan ekonomi kreatif Banjarbaru mengalir sambil menikmati suasana khas kawasan tambang intan tradisional.
Pertemuan itu bukan cuma sekadar kumpul-kumpul biasa. Ada misi besar yang sedang disusun perlahan. Mulai dari memetakan potensi wisata budaya di kawasan Pumpung, menyusun strategi pengembangan wisata berbasis komunitas, sampai menjaga tradisi pendulangan intan agar tidak hilang ditelan modernisasi tambang.
Bagi masyarakat setempat, kawasan Pumpung bukan cuma tanah biasa. Tempat itu punya cerita panjang yang melekat kuat dalam sejarah Banjarbaru dan Kalimantan Selatan, terutama soal penemuan Intan Trisakti legendaris pada tahun 1965.
Karena itulah konsep Living Museum mulai didorong. Bukan museum yang cuma berisi benda diam di balik kaca, tapi kawasan wisata hidup yang membuat pengunjung bisa langsung melihat bahkan merasakan bagaimana proses pendulangan intan tradisional dilakukan zaman dulu.
Wakil Ketua Pokdarwis Sungai Tiung, Arkani, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan pengalaman wisata yang benar-benar terasa otentik bagi pengunjung.
“Kami ingin mengedukasi wisatawan yang datang ke Pumpung dengan menunjukkan bagaimana proses asli pendulangan intan tradisional yang sebenarnya di era tahun 1965-an, tepat pada momentum sejarah Intan Trisakti legendaris ditemukan,” ungkap Arkani.
Di balik semangat besar itu, ternyata masih ada tantangan yang cukup berat di lapangan. Salah satu persoalan paling mendasar adalah soal lahan untuk pembangunan fasilitas penunjang wisata.
“Banyak pihak telah kami temui agar kawasan ini menjadi kawasan wisata, namun kendala utama di lapangan adalah ketersediaan lahan untuk pembangunan infrastruktur. Ada beberapa pihak yang sebenarnya sudah berkomitmen membantu bangunan fisik, tetapi lahannya yang tidak ada,” jelasnya.
Meski begitu, optimisme tetap terasa dalam pertemuan tersebut. Ketua Harian Komite EKRAF Banjarbaru, Narwanto, memastikan pihaknya siap menjembatani komunikasi dengan pemerintah daerah agar pengembangan kawasan Pumpung bisa berjalan lebih terarah.
“Komite EKRAF Banjarbaru akan segera berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Kota Banjarbaru melalui SKPD terkait untuk mendiskusikan solusi atas permasalahan lahan dan dukungan fasilitas di awal,” tegas Narwanto.
Menurutnya, kawasan Pumpung sebenarnya punya potensi yang jauh lebih luas daripada sekadar wisata sejarah pendulangan intan. Alam terbuka di kawasan tersebut juga dinilai cocok dikembangkan menjadi camping ground hingga pusat aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.
“Harapan besar bisa segera terwujud, terutama di awal melalui miniatur pendulangan tradisional tersebut. Hal ini tentunya tidak menutup potensi aktivitas alternatif lainnya di kawasan Pumpung, seperti pemanfaatan area sebagai tempat kemping (camping ground) dan aktivitas ekonomi kreatif penunjang lainnya,” tambahnya.
Suasana diskusi dan kemah itu juga dihadiri berbagai pihak yang peduli terhadap pengembangan wisata budaya Banjarbaru. Mulai dari pegiat wisata lokal, komunitas camping, sampai tokoh dari Indonesian Creative Cities Network (ICCN) ikut duduk bersama membicarakan masa depan Pumpung Cempaka.
Kece People, di tengah cepatnya pembangunan dan modernisasi kota, kawasan seperti Pumpung seolah jadi pengingat bahwa Banjarbaru juga punya cerita besar yang layak terus dijaga. Sebab intan bukan cuma soal batu berharga, tapi juga tentang sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama tanah pendulangan sejak puluhan tahun lalu.
