Memilih jurusan kuliah memang bukan perkara sepele, Kece People. Bagi banyak siswa SMA, keputusan ini sering dianggap sebagai pintu awal menuju pilihan karier di masa depan. Namun, survei ZipRecruiter terhadap lulusan universitas menunjukkan bahwa tidak sedikit orang akhirnya masuk dalam daftar pemilik jurusan kuliah yang disesali setelah benar-benar merasakan dunia kerja.
Masa SMA biasanya jadi fase penuh tanya. Mau lanjut ke mana? Ambil jurusan apa? Ikut minat, ikut orang tua, ikut peluang kerja, atau ikut teman? Semua pilihan terasa penting, sebab kuliah bukan lagi seperti sekolah yang jalurnya relatif sama. Di kampus, setiap jurusan membawa arah, ritme, dan kemungkinan masa depan yang berbeda.
Banyak siswa memilih jurusan karena merasa cocok dengan passion. Ada juga yang memilih karena terlihat keren, populer, atau dianggap punya masa depan cerah. Tapi setelah toga dipakai dan ijazah sudah di tangan, realitas mulai menyapa. Dunia kerja tidak selalu semanis brosur kampus. Gaji, peluang kerja, beban hidup, dan tagihan bulanan mendadak menjadi pertimbangan yang sangat nyata.
Hal itulah yang tergambar dalam survei ZipRecruiter terhadap 1.500 lulusan universitas yang sedang mencari pekerjaan. Dari survei tersebut, muncul fakta bahwa sebagian lulusan menyesali jurusan yang mereka pilih semasa kuliah. Penyebab utamanya berkaitan dengan gaji dan prospek kerja setelah lulus.
“Saat kita lulus, kenyataan akan datang. Saat Anda hampir tidak bisa membayar tagihan Anda, gaji Anda mungkin menjadi lebih penting,” ujar Buper, dikutip dari CNBC Internasional.
Kalimat itu terasa dekat dengan kehidupan banyak anak muda hari ini. Saat masih sekolah atau kuliah, idealisme sering jadi pegangan utama. Namun setelah masuk fase dewasa, kebutuhan hidup ikut berbicara. Bukan berarti passion tidak penting, tapi realitas ekonomi juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bahasa sederhananya, minat tetap perlu, tapi dompet pun harus diajak runding, lah.
Dari hasil survei tersebut, jurusan Jurnalisme menempati posisi teratas sebagai jurusan yang paling banyak disesali oleh lulusannya, dengan angka mencapai 87 persen. Posisi berikutnya ditempati Sosiologi dan Seni, masing-masing sebesar 72 persen.
Bagi Kece People yang sedang bersiap memilih kampus dan jurusan, data ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, ini bisa jadi bahan refleksi. Jangan sampai memilih jurusan hanya karena terdengar estetik, viral, atau terlihat cocok di bio media sosial. Kuliah itu investasi waktu, biaya, tenaga, dan masa depan.
Berikut daftar 10 jurusan kuliah yang paling banyak disesali setelah lulus berdasarkan survei ZipRecruiter:
- Jurnalisme — 87 persen
- Sosiologi — 72 persen
- Seni — 72 persen
- Komunikasi — 64 persen
- Pendidikan — 61 persen
- Manajemen Marketing dan Riset — 60 persen
- Pendamping Medis — 56 persen
- Ilmu Politik dan Pemerintahan — 56 persen
- Biologi — 52 persen
- Sastra Inggris — 52 persen
Meski begitu, daftar ini tidak berarti jurusan-jurusan tersebut buruk. Tidak sesederhana itu, Kece People. Banyak lulusan Jurnalisme, Komunikasi, Seni, Sastra Inggris, hingga Ilmu Politik tetap bisa sukses dan punya karier gemilang. Yang sering menjadi masalah bukan hanya jurusannya, tetapi kurangnya pemetaan karier sejak awal.
Misalnya, mahasiswa Jurnalisme tidak harus selalu menjadi reporter di media. Mereka bisa masuk ke bidang content strategy, public relations, corporate communication, digital media, copywriting, riset, hingga produksi konten. Lulusan Seni juga bisa berkembang di industri kreatif, desain, animasi, branding, ilustrasi, hingga bisnis digital. Asalkan sejak kuliah sudah membangun portofolio, jejaring, dan skill yang relevan, peluang tetap terbuka lebar.
Namun tetap saja, survei ini memberi pesan penting: memilih jurusan kuliah harus dilakukan dengan kepala dingin. Jangan hanya bertanya, “Aku suka apa?” tetapi juga perlu bertanya, “Skill apa yang akan aku punya?”, “Industri mana yang membutuhkan kemampuan ini?”, dan “Bagaimana peluang pendapatannya setelah lulus?”
Untuk siswa SMA, ini saatnya lebih aktif mencari informasi. Cek kurikulum jurusan, pelajari prospek kerja, ngobrol dengan alumni, lihat tren industri, dan pahami kebutuhan pasar kerja. Jangan malu bertanya. Lebih baik ribet di awal daripada galau panjang setelah lulus.
Pada akhirnya, jurusan kuliah memang bisa membuka jalan, tapi bukan satu-satunya penentu masa depan. Yang paling menentukan adalah bagaimana seseorang mengolah pilihan itu menjadi kemampuan nyata. Sebab di dunia kerja hari ini, ijazah penting, tapi skill, pengalaman, karakter, dan kemampuan beradaptasi sering kali jauh lebih menentukan.
Jadi, Kece People, sebelum klik daftar dan memilih jurusan impian, pastikan keputusan itu bukan cuma terasa keren hari ini, tapi juga tetap masuk akal untuk masa depan. Kuliah boleh mengikuti minat, tapi jangan lupa membawa strategi.






