Kece People, katanya Gen Z tahun 2030 nanti generasi ini rada malas jadi bos atau secara struktural jabatan dianggap paling tinggi. Bukan sekadar tren TikTok, tapi hasil riset global yang serius.
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA, Faozan Umar, dalam tulisannya di detik.com pada 1 Maret 2026 lalu menyampaikan satu hal yang bikin kita mikir dua kali, menjadi bos bukan lagi puncak mimpi generasi muda.
“Menjadi bos di perusahaan, dulu dianggap puncak karier. Namun bagi Gen Z dan Milenial hari ini, ambisi tak lagi selalu bermuara pada kursi struktural,” tulis Faozan.
Nah loh. Jadi bukan malas naik jabatan, tapi cara pandangnya yang berubah.
74% Angkatan Kerja Dikuasai Anak Muda
Laporan Deloitte Global 2025 menyebutkan, pada 2030 sekitar 74 persen angkatan kerja global akan diisi Milenial dan Gen Z. Artinya, selera, nilai, dan cara berpikir mereka bakal menentukan wajah organisasi, bahkan ekonomi nasional.
Tapi yang bikin kaget, hanya sekitar 6 persen Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan formal sebagai tujuan utama karier.
Sebaliknya?
Sekitar 70 persen justru rutin meningkatkan skill mereka. Ambisi tetap ada, tapi bukan lagi soal titel di kartu nama.
Bahasa simpelnya, Kece People: yang penting kompetensi, bukan sekadar kursi empuk.
Karier Bukan Lagi Tangga, Tapi Kompas
Fenomena ini selaras dengan konsep protean career yang dikenalkan Douglas T. Hall. Dalam konsep ini, karier dikendalikan individu, bukan organisasi.
Ukuran sukses bukan lagi promosi, tapi pertumbuhan diri.
Generasi muda ingin pegang setir hidupnya sendiri. Kada handak lagi hanya ikut alur korporasi yang kaku macam pagar beton.
“Ambisi tidak hilang, tetapi bergeser dari jabatan ke kompetensi,” tegas Faozan.
Tekanan Ekonomi Bikin Realistis
Di Indonesia, situasinya makin kompleks. Banyak Milenial berada di posisi sandwich generation, menanggung orang tua sekaligus anak. Biaya hidup naik, harga properti melambung, ekonomi global belum stabil.
Deloitte (2025) mencatat hampir separuh Gen Z merasa tidak aman secara finansial.
Dalam kondisi ini, stabilitas pendapatan terasa lebih penting daripada gengsi jabatan. Maka lahirlah pilihan rasional: gig economy, side hustle, multiple income.
Bukan tak mau jadi pemimpin. Tapi realistis dulu, pian.
Bukan Cuma Uang, Tapi Makna dan Mental Health
Selain finansial, ada dua hal penting: makna dan kesejahteraan.
Sekitar 44 persen responden global mengaku pernah meninggalkan pekerjaan yang tak sejalan dengan nilai pribadi.
Isu kesehatan mental juga makin terbuka dibicarakan.
“Produktivitas jangka panjang bertumpu pada kesejahteraan psikologis,” tulis Faozan, merujuk pada pandangan psikolog organisasi Adam Grant.
Bagi Gen Z, lembur tanpa arah bukan simbol loyalitas. Itu cuma capek tanpa makna.
Jangan Salah Paham, Tetap Butuh Disiplin
Meski fleksibel, bukan berarti santai tanpa tanggung jawab.
Faozan mengingatkan ada beberapa langkah penting: memperkuat keahlian inti, meningkatkan literasi finansial, membangun jejaring profesional, dan mengembangkan kepemimpinan personal.
Tidak semua harus jadi direktur. Tapi setiap orang wajib bisa memimpin dirinya sendiri.
Dan perusahaan pun harus beradaptasi. Model kepemimpinan yang terlalu hierarkis makin sulit menarik talenta muda. Manajer perlu jadi coach, bukan sekadar pengawas.
Ambisi Baru, Definisi Sukses Baru
Kece People, Gen Z dan Milenial bukan generasi tanpa ambisi. Mereka hanya tidak lagi memuja simbol lama kesuksesan.
Bagi mereka, sukses itu ketika finansial stabil, pekerjaan bermakna, dan kesehatan mental terjaga.
Kalau perusahaan gagal membaca arah angin ini, talenta terbaik bisa terbang ke tempat lain.
Dan kalau generasi muda gagal menyiapkan kompetensi dan karakter, bonus demografi bisa berubah jadi beban demografi.
Jadi pertanyaannya sekarang: masih mau kejar kursi bos semata, atau membangun kapasitas diri sepenuhnya?
Pian pilih yang mana?




