- Advertisement -spot_img
30.6 C
Banjarbaru
BerandaPolitikPimpin Hanura Kalsel, Jalan Baru atau Sekadar Singgah Politik?

Pimpin Hanura Kalsel, Jalan Baru atau Sekadar Singgah Politik?

- Advertisement -spot_img

Kece People, panggung politik Kalimantan Selatan menyuguhkan cerita menarik. Setelah sempat dinonaktifkan dari Golkar Kotabaru dan terseret dinamika Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kotabaru 2024 lalu, Sayed Jafar Alaydrus atau SJA kini membuka babak baru dengan memimpin Partai Hanura Kalsel.

Pengamat Komunikasi, Muhammad Abe Arif, menilai perjalanan politik SJA dalam setahun terakhir tidak bisa dibaca sebagai perpindahan biasa. Menurutnya, ada titik balik besar setelah mantan Bupati Kotabaru dua periode itu dinonaktifkan dari posisi Ketua DPD Golkar Kotabaru pada 2024 silam.

“Dinonaktifkannya Sayed Jafar Alaydrus dari Golkar Kotabaru bukan sekadar peristiwa internal partai. Saya melihat itu sebagai titik balik politik bagi SJA untuk membangun poros baru di Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Menurutnya dinamika itu mencuat setelah Fatma Idiana, istri SJA, maju sebagai calon bupati melalui jalur independen pada Pilkada Kotabaru 2024. Sementara di sisi lain, Golkar sudah punya pasangan yang diusung, yakni Muhammad Rusli–Syairi Mukhlis. Dengan situasi tersebut membuat posisi SJA menjadi perhatian.

“Apakah ia dianggap melawan keputusan partai? Atau justru sedang membuka jalan politik baru ketika ruang di partai lama mulai menyempit?,” ungkap Abe.

Dalam politik, Kece People, jawabannya jarang hitam-putih. Kadang satu langkah bisa dibaca macam-macam. Ada yang melihat sebagai pembangkangan. Ada pula yang menilai sebagai strategi bertahan. Orang Melayu bilang, kalau satu pintu tertutup, jangan duduk termenung di tangga; cari pintu lain, buka jalan baru.

Dan pintu baru itu kini bernama Hanura.

Pada 15 Oktober 2025, SJA resmi menerima estafet kepemimpinan DPD Partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura Kalimantan Selatan. Dengan posisi itu, SJA bukan lagi sekadar tokoh politik yang sedang mencari ruang baru. Ia kini menjadi nakhoda partai.

Klik Juga  Wartono Resmi Mundur, Politik Banjarbaru Makin Panas Jelang PSU

Sebagai Ketua DPD Hanura Kalsel, SJA memiliki kendali besar terhadap arah organisasi. Mulai dari penyusunan pengurus, penguatan struktur, strategi politik, hingga konsolidasi menuju kontestasi berikutnya.

Klik Juga  Usai Mundur dari Wali Kota, Kini Aditya Lepas Kursi Ketua PPP Kalsel?

Abe menilai posisi baru ini memberi SJA panggung yang lebih luas. Namun, panggung saja tidak cukup. Hanura harus benar-benar dihidupkan dari provinsi sampai akar rumput.

“Dengan memimpin Hanura Kalsel, SJA tidak lagi hanya menjadi figur politik, tetapi sudah memegang kendali organisasi. Tantangannya sekarang adalah apakah Hanura bisa dihidupkan sampai akar rumput atau hanya ramai menjelang 2029,” kata Abe.

Sinyal pembenahan itu sebenarnya sudah disampaikan SJA usai pelantikan. Ia menyatakan akan memperbaiki struktur Hanura dari tingkat DPD, DPC, hingga PAC.

“Hanura tentu akan saya perbaiki semua mulai dari pengurus DPD, DPC hingga PAC. Kami akan perkuat struktur agar bisa berkiprah dan sejajar dengan partai besar di Kalimantan Selatan,” tegas SJA pasca pelantikan, Senin malam (3/11) lalu.

Kalimat itu terdengar tegas. Tapi dalam politik, Kece People, pidato pelantikan baru bab pembuka. Ujian sesungguhnya ada pada kerja setelah lampu acara padam, baliho turun, dan tepuk tangan selesai.

Sebab menurut Abe, membesarkan Hanura Kalsel bukan perkara gampang. Secara elektoral, partai ini masih punya pekerjaan rumah besar. Pada Pileg Kalsel terakhir, Hanura hanya meraih 7.577 suara. Angka itu menempatkan Hanura di kelompok bawah dalam kompetisi partai politik.

Abe pun membandingkannya dengan perolehan pasangan Fatma Idiana–Said Akhmad pada Pilkada Kotabaru 2024 yang mencapai 61.649 suara. Aiss, jauh banar selisihnya.

Artinya, perbandingan ini menunjukkan satu hal penting yakni kekuatan figur dan jejaring keluarga SJA memang punya daya tarik, tetapi belum otomatis berubah menjadi kekuatan partai. Inilah PR besar yang harus dijawab SJA jika ingin menjadikan Hanura sebagai kendaraan politik serius menuju 2029.

Klik Juga  Game Over! MK Hentikan Sengketa PSU Pilkada Banjarbaru 2024

Menurut Abe, modal nama besar, pengalaman, dan logistik memang penting. Namun, semua itu belum cukup untuk membuat Hanura sejajar dengan partai besar seperti Golkar, Gerindra, atau PDIP.

“Hanura Kalsel tidak bisa hanya mengandalkan nama besar SJA atau kekuatan logistik. Kalau ingin naik kelas, partai ini harus hadir setiap hari di masyarakat, bukan hanya muncul saat pemilu,” tegas Abe.

Klik Juga  Wartono Resmi Mundur, Politik Banjarbaru Makin Panas Jelang PSU

Dari pernyataan itu menjadi garis penting. Penyakit klasik partai kecil adalah hidup hanya saat pemilu. Menjelang coblosan, kantor mulai ramai, baliho naik, kader turun ke kampung, senyum dilebarkan, janji dibagikan. Tapi setelah pemilu selesai? Sunyi lagi.

Nah, menurut Abe pola seperti ini yang harus dipatahkan. Hanura Kalsel di bawah SJA perlu berubah menjadi partai kerja. Bukan sekadar partai papan nama. DPC dan PAC tidak boleh hanya tercatat di struktur organisasi, tetapi harus benar-benar hadir sebagai simpul pelayanan masyarakat.

Bentuknya bisa banyak. Mulai dari pendampingan UMKM, advokasi warga, bantuan hukum, kegiatan sosial, hingga respons cepat terhadap persoalan publik. Kalau masyarakat sedang susah, partai harus terlihat. Kalau butuh pendampingan, kader harus turun. Jangan hanya datang saat perlu suara.

“Ini penting, terutama di era pemilih muda. Gen Z dan Gen Alpha tidak mudah terpukau hanya dengan baliho besar atau slogan manis. Mereka melihat rekam jejak. Mereka membaca isu. Mereka cepat membandingkan. Sekali dianggap pencitraan kosong, trust bisa langsung ambyar,” ujarnya.

Selain struktur, Abe juga menyoroti pentingnya kaderisasi. Hanura Kalsel tidak bisa hanya bertumpu pada SJA. Jika ingin bertahan panjang, partai ini harus melahirkan kader yang punya kapasitas, kedekatan sosial, dan kemampuan membaca kebutuhan publik.

Politisi karbitan yang tiba-tiba muncul menjelang pemilu makin susah dijual. Pemilih hari ini ingin melihat kerja nyata, bukan hanya wajah di spanduk.

Klik Juga  Tinggalkan Balai Kota! Aditya Pilih Jadi Komisaris BUMN, Banjarbaru Berubah Arah

“Uang memang bisa membuat baliho segede gaban, tapi tidak otomatis membeli loyalitas,” katanya.

Di sisi lain, SJA tetap punya modal penting. Pengalaman dua periode memimpin Kotabaru, ditambah jam terbang di Golkar, bisa menjadi bekal untuk membangun Hanura lebih serius. Jika pengalaman itu ditransfer menjadi sistem kaderisasi, Hanura Kalsel punya peluang untuk naik kelas.

Namun, semua akan kembali pada konsistensi. Apakah pembenahan DPD, DPC, hingga PAC benar-benar berjalan? Apakah kader turun ke masyarakat secara rutin? Apakah Hanura hadir sebagai solusi, bukan sekadar peserta pemilu?

Klik Juga  Hanura Sambut Semangat Baru dengan Logo Singa

Jika jawabannya iya, Hanura bisa menjadi kekuatan alternatif di Kalimantan Selatan. Tetapi jika hanya ramai di awal, partai ini berisiko menjadi tempat singgah politik sementara menuju 2029.

“Kini, bola ada di tangan SJA. Hanura Kalsel bisa saja bangkit dengan wajah baru. Tapi bisa juga hanya menjadi cerita pendek setelah dinamika panjang di Golkar,” tandasnya.

Yang jelas, Kece People, manuver SJA membuat politik Kalimantan Selatan kembali punya episode menarik. Seperti kata orang Banjar, kita lihat haja nanti, siapa yang benar-benar tahan sampai ujung jalan.

(red)

Facebook Comments Box

Update Berita Banjarbaru gak musti ribet dong? Yuk Kece People, gabung ke channel WhatsApp Banjarbaru Kece untuk dapetin informasi terbaru dengan cara yang mudah dan menyenangkan. untuk mendapatkan informasi kece yang simpel, bermanfaat dan menyenangkan.

Banjarbaru Kece - Keren dan Cerdas

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img
Facebook Comments Box