Home Banjarbaru Anak Muda Banjarbaru Ngepod Jadi Tren Wanita? Ini Kisah Nyata di Balik Asap yang Tak...

Ngepod Jadi Tren Wanita? Ini Kisah Nyata di Balik Asap yang Tak Terlihat

0
Fenomena pod vape perempuan makin marak. (FOTO: Abe)

Kece People, sekarang pod vape perempuan dan tren vape wanita bukan lagi sekadar lewat di timeline—ini sudah jadi bagian nyata dari gaya hidup milenial Gen Z.

Ada asap, tapi belum tentu ada api. Tapi kadang, justru dari asap tipis itulah cerita besar dimulai.

Sabtu sore di salah satu sudut di sebuah Coffee, suasana terasa santai. Kada terlalu ramai, hanya beberapa meja terisi. Di dekat pintu masuk, seorang perempuan duduk tenang. Sesekali ia menarik pod vape warna merah jambu, lalu menghembuskan asap tipis ke udara.

Santai. Biasa aja. Kaya bukan sesuatu yang asing lagi.

Fenomena perempuan ngepod—baik dari kalangan milenial sampai Gen Z—memang makin lumrah. Dulu mungkin dianggap tabu, tapi sekarang? Kaya sudah jadi bagian dari gaya hidup, apalagi di kota besar.

Dari Coba-Coba, Jadi Kebiasaan

Gina (33), salah satu pengguna pod vape, punya cerita sendiri. Awalnya sederhana aja—penasaran.

Selain itu, menurutnya pod vape terasa lebih ringan dibanding vape besar dan dianggap lebih hemat dibanding rokok konvensional.

“Tarikkannya (menghisap: red) berat aja,” ucap Gina.

Sejak 2021, kebiasaan itu terus berlanjut. Bahkan ia sempat berpikir pod vape bisa jadi jalan keluar untuk berhenti merokok. Tapi seperti banyak cerita lain, berhenti itu ternyata tidaklah semudah niat awal.

Meski begitu, ada batas yang tetap dijaga. Di depan keluarga besar, terutama keluarga suami, Gina memilih diam-diam.

Ada rasa segan. Ada rasa menghargai.

Antara Gaya dan Batasan

Cerita berbeda datang dari Elda (39). Ia mulai ngepod bukan karena kebutuhan, tapi karena satu hal yang sangat relate dengan zaman sekarang, yakni FOMO “Fear of Missing Out.” Takut ketinggalan tren.

Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi lama-lama jadi kebiasaan yang “asik”.

Namun, Elda punya aturan sendiri. “Di rumah tidak!, karena pernah ditegur anak,” ungkapnya.

Ia juga mulai sadar, tubuhnya memberi sinyal. Asma sempat kambuh. Dari situ, pelan-pelan mulai membatasi.

“Bukan teman sepermainan sih, tapi ini sudah dikurangi-kurangi karena pernah kambuh asma,” diakuinya.

Kadang, teguran kecil—dari anak, teman, atau tubuh sendiri—jadi alarm yang paling jujur.

Dari Cinta, Jadi Kebiasaan

Lain lagi dengan Chintia (25). Ceritanya agak beda—dan mungkin paling relate buat Gen Z.

Semua berawal dari mencoba dari mantan.

Kemudian diberi hadiah, keterusan, ada rasa nyaman, dan alhasil jadi kebiasaan.

“Tidak sembunyi-sembunyai, karena teman-teman semua open minded,” ucap Chintia.

Di lingkungan pertemanan, ngepod bukan masalah. Bahkan terasa biasa aja. Tapi di rumah? Ceritanya beda.

“Bagi saya nge-pod sendiri itu tidak asik,” ujar Chintia.

Ada satu hal menarik—buat sebagian orang, ngepod itu bukan sekadar aktivitas. Tapi bagian dari momen sosial. Nongkrong. Ngobrol. Melepas penat.

“Masih menikmati dan stress rilis aja sih,” kata Chintia.

Kata Psikolog: Bukan Sekadar Tren

Fenomena ini bukan cuma soal gaya hidup, Kece People. Ada sisi psikologis yang cukup dalam.

Menurut Muhammad Syarif Hidayaatullah, M.Psi, psikolog sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM), ada faktor besar di balik tren ini.

“Konformitas, ingin sama gitu ya bisa terhubung dengan teman-temannya itu juga gaya hidup,” ungkapnya.

Keinginan untuk diterima. Untuk terlihat “sama”. Untuk tidak tertinggal.

Ditambah lagi pengaruh media sosial dan influencer yang membuat hal ini terlihat normal—bahkan keren.

Belum lagi faktor stres.

“Dianggap bisa jadi kayak pelarian gitulah untuk cemasnya, bisa rasa tenang sementara gitu,” ucapnya.

Nikotin dalam pod vape memang bisa memberi efek rileks sesaat. Tapi di balik itu, ada potensi ketergantungan yang diam-diam tumbuh.

Kece People realitanya, pengguna pod vape perempuan saat ini diperkirakan banyak berasal dari kalangan usia produktif—sekitar 25 sampai 35 tahun, dengan kondisi ekonomi cukup mapan.

Dan soal penilaian masyarakat?

Semua kembali ke perspektif.

Ada yang menganggap biasa. Ada juga yang masih melihatnya negatif.

Tapi satu hal yang pasti—setiap pilihan selalu datang dengan konsekuensi.

“Sehingga tidak terperangkap dalam sebuah adiksi baru,” tandas Syarif.

Asap Tipis, Cerita Panjang

Kece People, dari Gina, Elda, sampai Chintia—kita bisa lihat satu benang merah. Pod vape bukan cuma soal alat. Tapi soal cerita.

Tentang tekanan. Tentang pergaulan. Tentang pencarian kenyamanan. Kadang terlihat ringan. Kadang terasa “cuma iseng”.

Tapi seperti asap yang perlahan memenuhi ruang, kebiasaan kecil bisa jadi sesuatu yang besar… tanpa kita sadari.

Jadi, menurut pian sendiri… ini cuma gaya hidup, atau sudah mulai jadi kebutuhan?

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version