- Advertisement -spot_img
25 C
Banjarbaru
BerandaKisah KerenLegenda Dayak dari Kalimantan Tengah, Begini Kisah Epik Tjilik Riwut

Legenda Dayak dari Kalimantan Tengah, Begini Kisah Epik Tjilik Riwut

- Advertisement -spot_img

Kece People, di antara deretan nama besar yang pernah lahir dari tanah Borneo, sosok Tjilik Riwut menjadi salah satu yang paling membekas dalam sejarah Kalimantan. Namanya bukan cuma dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, tetapi juga dianggap sebagai simbol keberanian urang Dayak, pemersatu masyarakat Kalimantan, sekaligus tokoh yang begitu mencintai budaya dan tanah kelahirannya.

Hingga hari ini, kisah hidupnya masih sering diceritakan dari generasi ke generasi. Dari pedalaman hutan Kalimantan sampai menjadi tokoh penting republik, perjalanan hidup Tjilik Riwut terasa seperti cerita epik yang sulit dipisahkan dari sejarah besar Indonesia.

Namanya bahkan tak asing buat urang Kalimantan. Mulai dari bandara, jalan utama, sampai cerita-cerita sejarah di sekolah, jejaknya masih terasa kuat. Namun di balik nama besar itu, ada kisah panjang tentang seorang anak rimba yang tumbuh dari hutan belantara lalu ikut menentukan arah sejarah Indonesia.

Lahir dari keluarga Dayak Ngaju di pedalaman Kalimantan Tengah, Tjilik kecil tumbuh dekat dengan alam. Hutan bukan tempat asing baginya. Sungai, rakit, dan jalur-jalur belantara justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hebatnya lagi, Kece People, semasa muda ia sampai tiga kali mengelilingi Pulau Kalimantan. Bukan naik mobil mewah atau pesawat, tapi berjalan kaki, naik perahu, bahkan rakit sederhana. Kalau bahasa anak sekarang, petualangannya sudah level “gila sih ini”.

Meski berasal dari pedalaman, semangat belajarnya luar biasa. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kampung halaman, ia merantau ke Purwakarta dan Bandung untuk melanjutkan sekolah. Dari anak hutan menjadi pelajar kota, perjalanan hidupnya perlahan mulai berubah.

Klik Juga  29 Tahun Jumat Kelabu Banjarmasin: Saat Kota Seribu Sungai Dilalap Amarah Massa

Namun Tjilik Riwut bukan tipe orang yang hanya mengejar pendidikan demi diri sendiri. Ketika Indonesia memasuki masa perjuangan kemerdekaan, ia memilih berdiri di garis depan.

Klik Juga  Firdaus Gagas Pembentukan KKATUPAT, Ingin Tanah Laut Makin Naik Kelas

Sebagai tokoh Dayak Ngaju, perjuangannya justru melampaui batas suku dan daerah. Ia aktif dalam gerakan nasional dan duduk sebagai anggota KNIP. Dedikasinya kemudian diakui negara lewat penghargaan tertinggi.

“Menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Anakletus Tjilik Riwut atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa,” dikutip dari SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998.

Tapi ada satu momen dalam hidupnya yang sampai sekarang masih bikin merinding ketika dibaca ulang dalam sejarah Indonesia.

Pada 17 Oktober 1947, Tjilik Riwut memimpin operasi penerjunan pertama dalam sejarah TNI AU bersama pasukan udara MN 1001. Ini bukan sekadar latihan militer biasa, tapi operasi penting di masa revolusi kemerdekaan.

Aksi itu kemudian dikenang sebagai tonggak lahirnya pasukan payung TNI AU. Bahkan tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Pasukan Khas TNI AU.

“Operasi penerjunan yang dipimpin Tjilik Riwut menjadi tonggak lahirnya pasukan payung TNI AU dan menunjukkan kemampuan pertahanan udara Indonesia pada masa revolusi,” dikutip dalam catatan Ensiklopedia Pahlawan Nasional.

Perjuangannya juga punya peran besar dalam menjaga Kalimantan tetap berada di pangkuan Republik Indonesia. Pada 17 Desember 1946 di Yogyakarta, ia membawa amanat besar dari masyarakat Dayak se-Kalimantan.

Tak tanggung-tanggung, ada sekitar 185 ribu rakyat dari 142 sub-suku Dayak yang menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia. Sebuah langkah bersejarah yang memperkuat posisi Kalimantan dalam NKRI.

Klik Juga  Dari Kamar Tidur ke Industri Viral Dunia, Anthony Fujiwara Ubah Cara Konten Meledak

“Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia,” dikutip dari Wikipedia.

Setelah masa perang berakhir, pengabdiannya ternyata belum selesai. Ia terus berperan dalam pemerintahan dan pembangunan daerah. Mulai dari Wedana Sampit, Bupati Kotawaringin, hingga akhirnya menjadi Gubernur Kalimantan Tengah periode 1958–1967.

Klik Juga  Dari Toko Pinggir Jalan ke Brand Dunia: Kisah Vans yang Digagas Anak Muda

Di masa kepemimpinannya, pembangunan Palangka Raya mulai digerakkan dengan visi besar untuk masa depan Kalimantan.

Bukan cuma pejuang dan birokrat, Tjilik Riwut juga dikenal sebagai penulis. Ia menulis berbagai buku tentang budaya Dayak dan sejarah Kalimantan yang sampai sekarang masih jadi rujukan penting.

Salah satu pemikirannya bahkan terasa relevan sampai hari ini.

“Kalimantan bukan hanya masa lalu, tetapi masa depan yang luas, selama anak-anaknya menjaga persatuan, hutan, air, dan budayanya,” dikutip dari buku “Kalimantan Membangun” (1979).

Kalimat itu terasa seperti pesan lintas zaman. Tentang pentingnya menjaga alam, budaya, dan persatuan di tengah perkembangan zaman yang makin cepat.

Lalu seperti cerita film yang penuh simbol, Tjilik Riwut menghembuskan napas terakhir tepat pada 17 Agustus 1987 — bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Seolah hidupnya memang sudah menyatu dengan perjalanan republik ini.

Kini, namanya tetap hidup di tanah Kalimantan. Bukan hanya sebagai nama bandara atau jalan raya, tetapi sebagai legenda yang jejak perjuangannya terus dikenang generasi ke generasi.

(red)

Facebook Comments Box

Update Berita Banjarbaru gak musti ribet dong? Yuk Kece People, gabung ke channel WhatsApp Banjarbaru Kece untuk dapetin informasi terbaru dengan cara yang mudah dan menyenangkan. untuk mendapatkan informasi kece yang simpel, bermanfaat dan menyenangkan.

Klik Juga  Dari Toko Pinggir Jalan ke Brand Dunia: Kisah Vans yang Digagas Anak Muda


Banjarbaru Kece - Keren dan Cerdas

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img
Facebook Comments Box