Kece People, kalau ngomongin Sasirangan Kalsel, motif bayam raja, naga balimbur, gigi haruan, Sasirangan Bordir Banjarbaru, dan kain khas Banua, pasti langsung terbayang kain penuh warna dengan ikatan uniknya, kan?
Seantero negeri sudah tahu, kain tradisional kebanggaan Kalimantan Selatan adalah Sasirangan. Kain ini bukan sekadar lembaran kain, tapi identitas budaya urang Banua yang sarat filosofi dan sejarah.
Motifnya? Wah, banyak banar, lah! Ada bayam raja yang gagah, naga balimbur yang penuh makna, gigi haruan yang khas, ombak sinapur karang yang berkarakter, sari gading yang anggun, hingga kambang raja dan kambang tampuk yang lembut. Belum lagi sisik tanggiling dan berbagai kreasi paduan motif tradisional dengan sentuhan bunga modern.
Sasirangan memang selalu berhasil bikin orang jatuh hati. Apalagi sekarang, peminatnya kada cuma di Kalimantan Selatan saja, tapi sudah merambah berbagai daerah bahkan luar pulau.
Seiring perkembangan zaman, kain ini pun ikut bertransformasi. Inovasi terus dilakukan agar tetap relevan tanpa meninggalkan akar budaya.
Salah satu gebrakan paling mencolok datang dari Banjarbaru. Kota Idaman ini mematenkan Sasirangan Bordir sebagai seni kerajinan khas daerahnya.
Apa bedanya dengan sasirangan biasa?
Kalau sasirangan klasik identik dengan teknik ikat celup yang menghasilkan pola unik, maka Sasirangan Bordir hadir dengan sentuhan tambahan benang sulam atau bordir yang mengikuti motif dasar kain. Hasilnya? Tampilan jadi lebih elegan, lebih detail, dan terkesan eksklusif.
Benang bordir itu seakan memberi “nyawa kedua” pada motif yang sudah ada. Motifnya tetap tradisional, tapi look-nya makin modern dan berkelas.
Inovasi ini membuktikan bahwa warisan budaya tidak harus stagnan. Justru dengan sentuhan kreatif, sasirangan bisa terus hidup dan bersaing di industri fashion yang semakin dinamis.
Kece People, dari kain tradisional hingga jadi karya seni bernilai tinggi, Sasirangan membuktikan satu hal: budaya Banua itu kada pernah ketinggalan zaman, asal terus dirawat dan dikembangkan.
Bangga jadi urang Banua? Sudah pasti, lah!
