Kece People, suasana Banjarbaru lagi terasa beda—hangat, ramai, dan penuh cerita. Festival Film Banjarbaru 2026 dengan tema Gastronomi Banjarbaru sedang jadi perbincangan, apalagi karena mengangkat kuliner Banjar, film pelajar santri, hingga geliat ekonomi kreatif Banjarbaru. Tapi ini bukan sekadar festival biasa.
Ini panggung tempat generasi muda Banua menyuarakan satu hal sederhana tapi dalam: bahwa dari sepiring makanan, ada cerita, ada kenangan, dan ada identitas yang ingin dikenalkan ke dunia.
Bayangin nah… dari dapur sederhana, dari wangi kuah Soto Banjar, sampai legitnya wadai khas Banjar, semua bisa naik kelas jadi cerita visual yang bikin bangga. Tidak hanya dimakan, tapi juga “dipamerkan” ke dunia lewat layar. Bila kalian punya panggilan jiwa kreatif sudah pasti ide kalian mulai meronta-ronta.
Dari Dapur Jadi Cerita, Dari Cerita Jadi Identitas
Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, punya alasan kuat kenapa tema gastronomi dipilih. Dan ini bukan asal pilih, Kece People.
“Gastronomi dipilih karena paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, punya kekuatan cerita, dan sekaligus membuka peluang kolaborasi antar subsektor di ekonomi kreatif,” ujarnya saat dihubungi awak media ini, Kamis (26/03).
Ia pun menegaskan bahwa ini bukan sekadar romantisme masa lalu.
“Jadi ini bukan sekadar pelestarian, tapi strategi untuk memastikan budaya Banjar tetap hidup,” katanya.
Nah, di sinilah menariknya. Kuliner bukan cuma soal rasa, tapi juga soal cerita, perjuangan, bahkan cinta dalam setiap racikan. Mantap kada tuh?
Festival Film: Saat Anak Muda Jadi Storyteller Banua
Mengusung tema “Gastronomi Banjarbaru dalam Layar Kreatif”, festival ini jadi ruang ekspresi bagi pelajar dan santri. Mulai dari SD sampai SMA, bahkan pondok pesantren, semua bisa ikut ambil bagian.
Karyanya pun bebas—mau bikin film pendek, video feature atau diolah layaknya dokumenter.
Yang penting satu, yaitu angkat kuliner Banjar dengan nilai budaya dan edukasi.
Dan jangan salah, yang diangkat bukan cuma makanan beken aja, tapi juga tentang kisah pedagang pinggir jalan bisa pula cerita dapur keluarga, dan tradisi turun-temurun
Jadi bukan cuma “apa yang dimakan”, tapi juga “cerita di baliknya”.
Soto Banjar Jadi Primadona, Tapi Bukan Satu-satunya
Walau Soto Banjar jadi highlight utama, wajib masuk radar nih ya!, peserta juga bisa mengeksplor kuliner lainnya, kaya, Mandai, Ayam Masak Habang atau Ayam Masak Bom bisa juga Wadai Banjar (Wadai 41).
Bayangin kalau semua itu dikemas sinematik… wah, bisa bikin lapar sekaligus bangga kali ya!
Teknis Singkat Tapi Penting
Durasi film cuma 7–10 menit, tapi di situlah tantangannya—gimana bikin cerita yang padat, emosional, dan “ngena”. Format softfile berupa Full HD (MP4/MOV) dengan Rasio 16:9, berbahasa Bahasa Indonesia atau Banjar, kasih subtitle loo ya biar yang tidak ngerti bisa paham.
Adapun dalam satu tim maksimal 5 orang, dan wajib ada pembimbing. Jadi ini juga jadi ruang belajar kolaborasi, bukan cuma festival.
Bukan Sekadar Menang, Tapi Diingat
Soal hadiahnya? lumayan banget, ada uang pembinaan, sertifikat, nah ini yang penting kesempatan dipromosikan sebagai konten Kota Gastronomi Banjarbaru.
Dengan penghargaan kategori diantaranya sebagai, Film Terbaik 1, 2, 3 lalu ada Film Terfavorit, serta Pemeran Utama dan Pendukung Terbaik
Tapi jujur aja, yang lebih penting itu exposure dan pengalaman. Siapa tahu dari sini lahir sineas Banjarbaru masa depan.
Catat Jadwalnya, Jangan Sampai Ketinggalan!
Pendaftaran dan Pengiriman: 20 Maret – 10 April 2026
Penjurian: 11 – 15 April 2026
Pengumuman Finalis: 16 April 2026
Pemutaran Karya: 17 April 2026
Dan yang paling epic—film terpilih bakal diputar di panggung utama Hari Jadi Banjarbaru. Wah, ini sih bukan main-main.
Ayo Gas, Jangan Cuma Jadi Penonton!
Kece People, ini waktunya kita tidak cuma bangga di hati, tapi juga nunjukin ke dunia. Dari Banjarbaru, untuk Indonesia, bahkan dunia.
Rekam ceritamu. Angkat budayamu.
Karena bisa jadi, dari dapur sederhana itu… lahir karya yang luar biasa.
