- Advertisement -spot_img
28 C
Banjarbaru
BerandaBanjarbaru38 Tahun Barito Putera: Wasiat Haji Leman yang Bikin Banua Tetap Bangga

38 Tahun Barito Putera: Wasiat Haji Leman yang Bikin Banua Tetap Bangga

- Advertisement -spot_img

Kece People, bagi urang Banua, Barito Putera bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah cerita panjang tentang janji, keluarga, jatuh-bangun prestasi, dan harapan yang terus dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ada klub yang lahir karena bisnis. Ada yang hidup karena gengsi kota. Tapi Barito Putera punya cerita yang sedikit berbeda. Ia tumbuh dari tanah Banua, dari semangat sepak bola kampung, dari tangan seorang tokoh bernama H. Abdussamad Sulaiman HB atau Haji Leman, lalu menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.

Di situs resmi klub, Barito Putera tercatat berdiri pada 21 April 1988, bermarkas di Stadion 17 Mei Banjarmasin, dan dikenal dengan julukan Laskar Antasari. Namun, akar ceritanya lebih bahari lagi. Sebelum bernama Barito Putera, perjalanan ini berawal dari geliat liga antarkampung di Banjarmasin pada 1970, lalu berkembang menjadi Persenus pada 1975. Dari sana, jalan panjang menuju sepak bola profesional mulai terbuka.

Yang membuat kisah Barito terasa hangat adalah alasan kelahirannya. Bukan cuma soal mengejar piala, bukan pula sekadar masuk kompetisi nasional. Ada janji pribadi yang kemudian menjadi warisan kolektif urang Banua.

“Barito Putera ini dibentuk sebagai janji saya kepada Allah SWT, bahwa jika saya diberikan rezeki berlebih akan membentuk klub sepak bola”, demikian Haji Leman pernah menyampaikan, dikutip dari situs resmi PS Barito Putera.

Dari kalimat itu, Kece People bisa menangkap satu hal, yakni Barito Putera sejak awal tidak diletakkan hanya sebagai klub sebelas lawan sebelas. Ia dibangun sebagai ruang kebanggaan. Tempat anak-anak Banua bisa melihat bahwa daerahnya juga punya warna di sepak bola nasional.

Perjalanan awalnya tidak instan. Setelah Persenus lahir, tim ini mulai merasakan atmosfer kompetisi yang lebih luas. Situs resmi klub mencatat Persenus pernah menjadi wakil Komda PSSI Kalselteng di Turnamen Soeharto Cup 1980 di Rawamangun, Jakarta. Lalu pada 1988, karena tidak puas dengan sistem kompetisi amatir, kemudian Haji Leman membentuk klub profesional bernama PS Barito Putera dengan target tampil di Galatama.

Masa-masa awal itu menjadi pondasi penting. Barito tidak datang dari ruang kosong. Ia lahir dari proses lokal, dari lapangan-lapangan yang mungkin sederhana, dari semangat kompetisi yang keras, dan dari keyakinan bahwa sepak bola Banua bisa berdiri sejajar dengan daerah lain.

Klik Juga  Dari Ruang Tamu ke Dunia, Benarkah Resep KFC Diduga Bocor?

Lalu datanglah masa ketika nama Barito Putera mulai benar-benar diperhitungkan. Pada 1994, Barito tampil di era Liga Indonesia dan berhasil menjadi semifinalis sebelum kalah tipis 0-1 dari Persib Bandung. Untuk ukuran klub yang berangkat dari pulau yang tidak selalu menjadi pusat sorotan sepak bola nasional, capaian itu jelas bukan hal kecil.

Klik Juga  Ramadhan 2026 Jadi Momentum Hijrah? Ini 7 Amalan yang Bisa Kamu Mulai

Setelah itu, perjalanan Laskar Antasari tidak selalu mulus. Ada masa jatuh, masa merangkak, masa harus menelan kenyataan pahit, termasuk turun ke level kompetisi yang lebih rendah. Tapi justru di titik seperti itu, cerita Barito menjadi lebih manusiawi. Namanya klub bola, kada selalu menang, kada selalu gagah. Kadang harus babak belur dulu sebelum bangkit lagi.

Kebangkitan besar itu datang pada musim 2011/2012. Barito Putera berhasil menjadi juara Divisi Utama Liga Indonesia setelah mengalahkan Persita Tangerang dengan skor 2-1 di Stadion Manahan, Solo. Liputan6 mencatat kemenangan itu juga dilengkapi dengan keberhasilan Sackie Teah Dou menjadi top skor dengan 18 gol.

Kemenangan tersebut bukan sekadar angka di papan skor. Itu adalah pintu pulang ke kasta tertinggi. Setelah melalui fase jatuh-bangun, Barito kembali mengirim pesan kepada publik sepak bola nasional: Laskar Antasari masih ada, masih hidup, dan belum selesai.

Tahun 2018 menjadi babak lain yang menarik. Di tengah kerasnya Liga 1, Barito Putera meraih predikat Tim Fair Play Liga 1 2018. Kala itu Barito mendapatkan total 90,67 poin dan mengungguli tim-tim lain dalam penilaian fair play. Pada tahun yang sama, situs resmi klub juga mencatat Barito meraih Lisensi Klub Profesional dari AFC.

Di titik ini, Barito menunjukkan bahwa kehormatan klub tidak hanya diukur dari menang-kalah.

“Sesuai dengan amanah yang diberikan pendiri klub ini, kalah dan menang itu prioritas yang ke sekian. Namun, ada hal lain yang lebih besar untuk diraih. Yakni kekeluargaan, pantang menyerah, dan jujur,” ujar Manajer Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman, dikutip dari detikSport.

Nilai itu terasa penting, apalagi di era sepak bola modern yang makin cepat, makin komersial, dan sering kali makin bising. Ketika banyak klub mengejar validasi instan, Barito tetap membawa narasi keluarga. Ada nilai emosional yang membuat suporter tidak hanya menonton pertandingan, tapi juga merasa ikut menjaga rumah.

Klik Juga  Infografis: 5 Babak Barito Putera: Dari Janji Haji Leman hingga Misi Balik ke Super League

Wasiat Haji Leman juga menjadi bagian kuat dari identitas itu. Hasnuryadi mengenang pesan sang ayah ketika keluarga pernah menyarankan agar Barito dijual atau berhenti diurus karena tekanan biaya. Jawaban sang ayah tegas, “sampai Abah mati pun Barito Putera jangan dijual”, kenang Hasnuryadi, dikutip dari Bola.com.

Klik Juga  Dari Ruang Tamu ke Dunia, Benarkah Resep KFC Diduga Bocor?

Kalimat itu pendek, tapi berat. Ia seperti pagar batin bagi Barito Putera. Bahwa klub ini bukan barang dagangan biasa. Ia adalah amanah, ingatan keluarga, sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Kalimantan Selatan.

Namun sepak bola tetap punya sisi kejam. Musim 2024/2025 menjadi luka baru bagi Barito Putera. ILeague mencatat Barito harus puas finis di posisi ke-17 klasemen akhir dengan 34 poin dan terdegradasi ke Liga 2 bersama PSS Sleman dan PSIS Semarang.

Bagi suporter, degradasi jelas bukan hal mudah diterima. Apalagi untuk klub yang lama menjadi wajah Banua di kasta tertinggi. Tapi, seperti kisah lama Barito, jatuh bukan berarti tamat. Justru dari situ dimulai lagi babak perjuangan yang baru.

Barito kemudian menatap Pegadaian Championship 2025/2026 dengan target kembali ke Super League.

“Mohon doa dan dukungannya, kami ingin kembali ke Super League bersama dengan warga Kalimantan Selatan,” Hasnuryadi menyampaikan, dikutip dari ILeague.

Sayangnya, jalan pulang itu belum sampai tujuan. Pada laga terakhir Grup B/Timur Pegadaian Championship 2025/2026, Barito Putera menang besar 8-3 atas Persipal FC di Stadion 17 Mei, Banjarmasin. Tapi kemenangan itu tidak cukup membawa mereka promosi karena posisi akhir klasemen masih belum berpihak. Tercatat kegagalan itu terjadi setelah PSS Sleman memastikan tiket promosi langsung, sementara Persipura Jayapura melaju ke babak playoff.

Pelatih Stefano “Teco” Cugurra kemudian mengajak semua elemen klub melakukan evaluasi menyeluruh. Ia menegaskan bahwa kegagalan tidak bisa dilemparkan ke satu pihak saja karena sepak bola merupakan kerja kolektif.

“Kegagalan tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen tim, mulai dari manajemen, pelatih, hingga pemain, mengingat sepak bola merupakan kerja kolektif yang tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja,” ujar Teco di Conference Room Stadion 17 Mei, Minggu malam, dikutip dari ANTARA.

Klik Juga  Hanura Sambut Semangat Baru dengan Logo Singa

Di sinilah cerita Barito Putera terasa sangat relevan untuk generasi sekarang. Kece People, dalam hidup pun kadang begitu, kan? Sudah kerja keras, sudah menang besar, sudah berusaha sampai ujung, tapi hasil akhir belum tentu sesuai harapan. Bedanya, yang menentukan kelas seseorang atau sebuah klub bukan hanya saat menang, tetapi bagaimana mereka berdiri lagi setelah kecewa.

Barito Putera hari ini sedang berada di fase itu. Fase menata ulang arah, merawat loyalitas suporter, menjaga warisan pendiri, dan membangun kembali energi untuk naik. Banua tentu berharap Laskar Antasari tidak lama-lama di bawah. Sebab bagi banyak orang Kalimantan Selatan, Barito bukan cuma klub bola. Ia adalah cerita keluarga besar.

Pada milad ke-38 tahun 2026, Warta Wasaka Pemprov Kalsel mencatat Hasnuryadi mengenang pesan Haji Leman tentang nilai persatuan dan sportivitas.

Klik Juga  Saat AI dan Musik Berdamai, Masa Depan Industri Musik Berubah Total?

“Kata Abah (H Abdussamad Sulaiman,red), kalau tidak bisa menang, minimal kita bisa menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan sportivitas,” ia berkata, dikutip dari Warta Wasaka.

Pesan itu seperti merangkum keseluruhan perjalanan Barito Putera. Menang itu penting. Promosi itu target. Piala itu mimpi. Tapi menjaga persatuan, sportivitas, dan rasa bangga sebagai urang Banua adalah napas yang membuat klub ini tetap hidup dari generasi ke generasi.

Maka, ketika Barito Putera hari ini masih berjuang kembali ke kasta tertinggi, kisahnya belum layak ditutup dengan nada sedih. Justru ini babak yang harus ditonton baik-baik. Karena dari liga tarkam, Persenus, Galatama, semifinal Liga Indonesia, juara Divisi Utama, penghargaan fair play, hingga luka gagal promosi, Barito selalu punya satu kebiasaan: jatuh, lalu mencari cara untuk bangkit.

Dan mungkin, Kece People, di situlah letak paling emosional dari Laskar Antasari. Barito Putera bukan hanya tentang skor akhir. Ia tentang janji yang terus dijaga, tentang Banua yang tetap percaya, dan tentang harapan bahwa suatu hari nanti, jalan pulang ke kasta tertinggi akan terbuka lagi.

(red)

Facebook Comments Box

Update Berita Banjarbaru gak musti ribet dong? Yuk Kece People, gabung ke channel WhatsApp Banjarbaru Kece untuk dapetin informasi terbaru dengan cara yang mudah dan menyenangkan. untuk mendapatkan informasi kece yang simpel, bermanfaat dan menyenangkan.

Banjarbaru Kece - Keren dan Cerdas

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img
Facebook Comments Box