Kece People, istilah generasi Z alias Gen Z lagi hangat-hangatnya nih jadi obrolan. Bukan hanya di tongkrongan, tapi juga di meja riset resmi.
Lewat laman resmi Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotabaru, Hafidya Hansari pada 19 Mei 2025 lalu mengupas satu generasi yang katanya “paling beda”, yakni Generasi Z. Generasi yang sering dibilang paling adaptif, tapi juga paling gampang overthinking.
Menurut data publikasi Kabupaten Kotabaru Dalam Angka 2025, sekitar 120.274 penduduk Kotabaru pada 2024 adalah Gen Z. Angka yang bukan kaleng-kaleng, lah. Artinya, hampir satu gelombang besar masa depan daerah ini diisi anak-anak muda kelahiran 1997–2012.
6 Generasi, 6 Cerita Berbeda
BPS telah membagi populasi Indonesia menjadi enam generasi, yaitu Pre-Boomer, Baby Boomer, Gen X, Milenial, Gen Z, dan Post Gen Z. Masing-masing generasi jelaslah punya cerita zamannya.
“Setiap generasi memiliki keunikannya sendiri yang mencerminkan periode waktu tertentu dalam sejarah,” tulis Hafidya dalam ulasannya.
Nah, Gen Z ini lahir di era digital. Internet sudah jadi udara kedua. Gadget bukan barang mewah, tapi kebutuhan pokok. Jadi jangan heran kalau mereka lincah banget soal teknologi dan kolaborasi virtual.

Adaptif Iya, Tapi Kenapa Mudah Depresi?
Di satu sisi, Gen Z dikenal kreatif, cepat belajar, dan nyaman bekerja di lingkungan yang berubah-ubah. Cocok dengan dunia kerja modern yang serba digital.
Namun di sisi lain, ada catatan yang bikin kita manggut-manggut.
“Gen Z memiliki kecenderungan untuk mudah merasa depresi karena ekspektasi tinggi terhadap keseimbangan hidup dan sering merasa beban kerja lebih berat,” tulisnya.
Bahasanya mungkin formal, tapi kalau diterjemahkan ala Banjar, “bebannya kada kelihatan di luar, tapi dalam hati bisa berat banar tahulah”.
Mereka tumbuh di era serba cepat. Semua tinggal klik. Jadi ketika masuk dunia kerja yang menuntut proses panjang dan kesabaran, sebagian bisa merasa tertekan. Karier maunya cepat naik, tapi realita kadang pelan-pelan dulu.
Si Paling Fleksibel dan Haus Feedback
Satu hal yang paling dicari Gen Z dalam bekerja adalah fleksibilitas. Bukan lagi soal masuk jam 8 pulang jam 5. Mereka lebih memilih sistem kerja yang bisa dari mana saja.
“Bagi Gen Z, fleksibilitas adalah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” jelasnya.
Selain itu, Gen Z juga dikenal butuh umpan balik yang lebih sering.
“Feedback berkala bagi mereka bukan sekadar evaluasi, tetapi kesempatan untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan.”
Jadi bukan haus pujian, tapi haus arahan. Supaya tahu, sudah on track atau belum.
Nah Kece People, menariknya, di lingkungan Badan Pusat Statistik sendiri, sistem kerja fleksibel sudah diterapkan. Mulai dari flextime, work from home, Work From Home Base, Flexible Working Space, hingga hybrid working.
Model ini memungkinkan pegawai bekerja dari lokasi berbeda selama target tetap tercapai dan standar pelayanan publik terjaga.
Langkah ini jadi bukti bahwa institusi pemerintah pun mulai membaca arah zaman. Dunia kerja bergerak, generasi pun berubah.
Gen Z: Bukan Cuma Soal Healing dan Self Reward
Kece People, Gen Z memang sering dilabeli “si paling self reward”. Habis gajian, healing. Habis lembur, check out. Tapi jangan salah.
Mereka juga generasi yang berani bersuara, ingin pekerjaan yang bermakna, dan peduli dampak sosial. Bagi mereka, kerja bukan cuma soal gaji, tapi juga soal nilai.
Pada akhirnya, budaya kerja ala Gen Z bukan cuma soal jam fleksibel atau kerja dari kafe. Tapi tentang kebermaknaan, transparansi, kesehatan mental, dan saling menghargai.
Pertanyaannya sekarang, kita siap kada menyambut gelombang ini?
Karena suka atau tidak, Gen Z pelan-pelan akan mendominasi dunia kerja. Dan mungkin, cara mereka melihat kerja akan mengubah banyak hal.





