Kece People, kada terasa ya… Ramadan sudah hari ke-23.
Sebentar lagi Ramadan pamit. Dan entah kenapa, di momen seperti ini banyak orang tiba-tiba teringat masa lalu.
Ramadan selalu punya cerita. Ada nostalgia Ramadan Banua yang sulit dilupakan. Ada juga kenangan ngabuburit di Banjarbaru dan tradisi Ramadan orang Banjar yang dulu terasa begitu hidup. Semua itu sering membawa kita kembali ke masa sekitar tahun 2000 sampai 2010.
Waktu itu banyak dari kita masih usia SD sampai SMP, sekitar 8 sampai 15 tahun. Sekarang? Sebagian sudah usia 25 sampai 35 tahun. Sudah kerja, sudah sibuk, bahkan ada yang sudah punya anak.
Kalau dihitung, kita ini sekarang masuk generasi:
- Generasi Milenial (lahir 1981–1996)
- Generasi Z awal (lahir 1997–2005)
Generasi yang mengalami masa kecil tanpa gadget, tapi masa dewasa serba digital.
Dan Ramadan zaman itu… rasanya beda.
1. Sahur Keliling: Alarm Paling Berisik Tapi Dirindukan
Sekitar tahun 2000-an awal, sahur keliling adalah tradisi yang hampir selalu ada di kampung.
Anak-anak dan remaja berkumpul selepas tarawih. Ada yang bawa ember, kaleng, panci, bahkan galon air kosong.
Jam 3 pagi, mereka keliling kampung sambil teriak:
“SAHUUURR… SAHUUURR…”
Kadang suaranya fals, kadang ribut tak karuan. Tapi justru itu yang bikin suasana Ramadan terasa hidup.
Sekarang?
Sebagian kampung sudah jarang melakukan tradisi ini.
Alarm HP menggantikan semuanya.
2. Ngabuburit Tahun 2005: Cuma Modal Sepeda
Kalau kita flashback ke sekitar tahun 2003 sampai 2008, ngabuburit itu sederhana sekali.
Tidak ada cafe hits.
Tidak ada story Instagram.
Yang ada cuma:
- Sepeda BMX
- Sepeda mini
- Keliling kampung
- Nongkrong di pinggir jalan
Anak-anak usia 10 sampai 15 tahun biasanya keliling sampai azan magrib.
Kadang sekadar melihat orang jualan takjil sudah terasa seru.
Sekarang?
Ngabuburit sering berubah jadi nongkrong sambil scroll HP.
3. Pasar Wadai Ramadan: Surga Takjil Anak 2000-an
Anak-anak yang tumbuh di awal 2000-an pasti punya kenangan satu ini.
Menjelang magrib, orang tua mengajak ke pasar wadai Ramadan.
Yang diburu biasanya:
- Bingka
- Lupis
- Apam
- Gorengan
- Ss buah
Tapi jujur saja, waktu itu yang paling ditunggu sebenarnya bukan makanannya.
Yang ditunggu adalah jalan-jalan sore bareng keluarga.
4. Meriam Karbit: Dentuman Ramadan Banua
Sekitar tahun 1998 sampai 2005, suara meriam karbit masih sering terdengar di beberapa daerah Banua.
Dentumannya keras. Kadang sampai bikin anak kecil kaget.
Tapi bagi anak-anak usia 8 sampai 12 tahun waktu itu, suara itu justru jadi tanda, Ramadan benar-benar datang. Sekarang tradisi ini hampir hilang.
5. Menunggu Azan dengan Deg-Degan
Ini mungkin nostalgia paling sederhana.
Tahun 2000-an awal, banyak anak duduk di depan televisi menjelang magrib.
Ada yang nonton acara religi.
Ada yang cuma melihat jam dinding terus.
Begitu azan berkumandang…
Semua langsung bersorak kecil.
Rasanya seperti menang lomba setelah menahan lapar seharian.
Generasi yang Paling Merasakan Nostalgia Ini
Kalau Kece People merasakan semua cerita tadi, kemungkinan besar Anda termasuk:
Generasi Milenial Banua
Usia sekarang: 30-40 tahun
atau
Generasi Z Awal
Usia sekarang: 20-29 tahun, generasi yang pernah mengalami Ramadan tanpa internet cepat. Ramadan yang isinya lebih banyak bermain, bercanda, dan kebersamaan.
Ramadan Sekarang, Ceritanya Berbeda
Hari ini Ramadan tetap indah. Tapi suasananya memang berbeda. Anak-anak sekarang lebih dekat dengan:
- Smartphone
- Game online
- Media sosial
Tradisi lama perlahan memudar.
Tapi satu hal yang tidak pernah berubah.
Ramadan selalu membawa kenangan.
Dan setiap orang Banua pasti punya cerita sendiri tentang Ramadan masa kecilnya.
Kece People, jujur saja… rindukah kalian?





