- Advertisement -spot_img
25 C
Banjarbaru
BerandaSeputaran KalimantanKalimantan TimurDari Stadion Segiri, Kalimantan Bicara: Borneo FC Jadi Simbol Kebangkitan Sepak Bola...

Dari Stadion Segiri, Kalimantan Bicara: Borneo FC Jadi Simbol Kebangkitan Sepak Bola Pulau Borneo

- Advertisement -spot_img

Kece People, dari tepian Sungai Mahakam, ada satu klub yang pelan-pelan menjelma jadi kebanggaan urang Kalimantan. Borneo FC Samarinda kini bukan lagi sekadar nama peserta kompetisi, tetapi sudah berubah menjadi simbol semangat baru sepak bola Banua. Dalam beberapa musim terakhir, nama Pesut Etam makin sering dibicarakan, mulai dari atmosfer Stadion Segiri yang panas, persaingan ketat di Super League 2025/2026, sampai konsistensi mereka yang bikin klub-klub besar Indonesia mulai waspada. Klub asal Samarinda ini seperti sedang mengirim pesan bahwa sepak bola Kalimantan kada lagi bisa dipandang sebelah mata.

Borneo FC memang bukan klub tua yang lahir dari sejarah puluhan tahun. Tapi justru di situlah daya tariknya. Klub ini datang membawa energi baru, semangat baru, lalu bergerak cepat jadi salah satu kekuatan serius di sepak bola nasional. Dalam profil resmi operator liga disebutkan, bahwa Borneo FC Samarinda yang dimiliki oleh Nabil Husien Said Amin ini didirikan pada 7 Maret 2014. Berbasis di Samarinda, klub ini berjuluk Pesut Etam.

Dari situ identitas mereka langsung terasa kuat. Samarinda bukan cuma alamat klub, tapi rumah emosional yang membentuk karakter Pesut Etam. Julukan itu juga kada asal tempel. Pesut Etam adalah simbol khas Kalimantan Timur yang membuat Borneo FC terasa dekat dengan identitas lokal masyarakatnya.

Menariknya lagi, perjalanan klub ini bisa dibilang ngebut banar. Baru berdiri, langsung bikin gebrakan. Dalam catatan resmi klub disebutkan, kiprah Borneo FC di Liga Indonesia dimulai pada tahun 2014, saat berkompetisi di Divisi Utama. Klub yang memiliki julukan Pesut Etam ini sukses promosi sekaligus menjadi juara pada kompetisi kasta kedua tersebut.

Artinya jelas, sejak awal Borneo FC datang bukan sekadar numpang lewat. Mereka hadir dengan ambisi besar dan mental membangun jalan sendiri. Sedikit demi sedikit, klub ini mulai menunjukkan bahwa tim dari Kalimantan juga bisa berdiri sejajar dengan nama-nama besar sepak bola Indonesia.

Klik Juga  Bukan Cuma Lomba, Tapi Soal Fair Play: Ketika LCC Kalbar Bikin Publik Ikut Emosional

Prestasi demi prestasi pun mulai terkumpul. Tahun 2014 juara Divisi Utama, lalu juara Piala Gubernur Kaltim 2016, runner-up Piala Presiden 2017, juara Reguler Series Liga 1 2023/2024, sampai kembali jadi runner-up Piala Presiden 2024/2025. Untuk ukuran klub muda, catatan itu jelas kada main-main.

Klik Juga  Bukan Cuma Lomba, Tapi Soal Fair Play: Ketika LCC Kalbar Bikin Publik Ikut Emosional

Namun yang membuat Borneo FC terasa spesial bukan cuma trofi atau posisi klasemen. Ada rasa keterikatan kuat antara klub dengan kota Samarinda. Stadion Segiri menjadi saksi bagaimana Pesut Etam tumbuh bersama suporternya. Stadion yang berada di pusat kota itu bukan sekadar tempat pertandingan, tapi ruang tempat harapan, emosi, dan kebanggaan masyarakat berkumpul jadi satu.

Dalam profil resmi klub disebutkan Stadion Segiri memiliki kapasitas sekitar 13 ribu penonton. Tapi Kece People tahu sendiri, kadang yang memenuhi stadion bukan cuma manusia, melainkan rasa bangga urang Kota Tepian yang ingin melihat klubnya bersaing di level tertinggi.

Musim Super League 2025/2026 menjadi salah satu cerita paling emosional bagi Borneo FC. Pesut Etam menutup musim ini dengan 79 poin, jumlah yang sama dengan Persib Bandung. Tapi gelar juara akhirnya lepas karena aturan head-to-head.

Meski gagal jadi kampiun resmi, Borneo FC tetap meninggalkan respek besar. Mereka bahkan menutup musim dengan kemenangan menggila 7-1 atas Malut United di Stadion Segiri. Atmosfer malam itu terasa campur aduk. Ada bangga, ada kecewa, tapi juga ada keyakinan bahwa klub ini sedang menuju sesuatu yang lebih besar.

Pelatih Fabio Lefundes pun tidak menutupi rasa kecewanya. “Musim ini kita enggak bisa juara karena ada peraturan head-to-head. Karena kalau kita lihat statistik yang lainnya, kita adalah yang lebih bagus jauh. Tapi ya itu bukan saya, enggak bisa kontrol karena itu sudah diakui oleh PT Liga,” ujar Lefundes.

Klik Juga  Bukan Cuma Lomba, Tapi Soal Fair Play: Ketika LCC Kalbar Bikin Publik Ikut Emosional

Namun justru dari situ cerita Borneo FC terasa lebih manusiawi. Mereka gagal juara, tapi tidak gagal menunjukkan kualitas. Pesut Etam tetap tampil konsisten sepanjang musim dan terus berada di papan atas.

Klik Juga  Bukan Cuma Lomba, Tapi Soal Fair Play: Ketika LCC Kalbar Bikin Publik Ikut Emosional

“Selama 32 pertandingan kita tetap selalu saing antara posisi ketiga dan satu. Itu sesuatu yang bagus dan luar biasa kalau kita lihat bagaimana kita konsisten dalam kompetisi ini,” ujar Lefundes.

Nah Kece People, konsistensi inilah yang sekarang mulai membuat banyak orang memandang Borneo FC berbeda. Mereka bukan lagi klub kejutan yang muncul sesaat lalu hilang. Pesut Etam kini terlihat seperti tim dengan napas panjang, arah yang jelas, dan mental kompetitif yang makin matang.

Bagi masyarakat Kalimantan, perjalanan ini punya makna lebih dalam. Borneo FC menjadi simbol bahwa sepak bola dari pulau ini juga bisa bicara banyak. Kada cuma jadi pelengkap kompetisi, tapi benar-benar jadi pesaing serius.

Rasa “kami juga bisa” mulai tumbuh dari Samarinda. Dan itu penting banar dalam sepak bola modern. Karena terkadang yang membesarkan klub bukan cuma trofi, tapi identitas dan rasa memiliki yang dibangun bersama suporternya.

Cerita Borneo FC bahkan mulai meluas ke level regional. Pada musim 2024/2025, mereka mendapat kesempatan tampil di ASEAN Club Championship.

“Sebuah kebanggaan buat kami Borneo FC mewakili Indonesia di ajang ASEAN Club Championship (ACC), ini langkah besar untuk bisa membawa nama baik Samarinda dan Indonesia di level internasional,” bilang Presiden Klub Borneo FC, Nabil Husien Said Amin melalui Situs Resmi Borneo FC.

Dari pernyataan itu terasa jelas bahwa Borneo FC tidak lagi cuma berpikir tentang liga domestik. Mereka ingin membawa nama Samarinda dan Kalimantan lebih jauh ke panggung Asia Tenggara.

Klik Juga  Bukan Cuma Lomba, Tapi Soal Fair Play: Ketika LCC Kalbar Bikin Publik Ikut Emosional

Hari ini, Borneo FC Samarinda mungkin memang belum jadi raja sepak bola Indonesia. Tapi mereka sudah berhasil membangun sesuatu yang lebih mahal dari sekadar trofi, yakni identitas, respek, dan harapan.

Klik Juga  Bukan Cuma Lomba, Tapi Soal Fair Play: Ketika LCC Kalbar Bikin Publik Ikut Emosional

Kece People, dari Stadion Segiri hingga tepian Sungai Mahakam, Pesut Etam sedang menulis cerita besar tentang marwah sepak bola Kalimantan. Dan melihat cara mereka berjalan sejauh ini, rasanya perjalanan itu masih panjang. Bisa jadi, halaman paling menyala dari kisah Borneo FC justru belum dimulai.

(red)

Facebook Comments Box

Update Berita Banjarbaru gak musti ribet dong? Yuk Kece People, gabung ke channel WhatsApp Banjarbaru Kece untuk dapetin informasi terbaru dengan cara yang mudah dan menyenangkan. untuk mendapatkan informasi kece yang simpel, bermanfaat dan menyenangkan.

Banjarbaru Kece - Keren dan Cerdas

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img
Facebook Comments Box