Kece People, Ramadan tahun ini perlahan mulai mendekati akhir momen. Memasuki fase ini suasana biasanya berubah. 10 hari terakhir masjid mulai lebih terasa agak ramai terutama saat malam hari. Ada datang untuk beri’tikaf, ada yang memperpanjang doa, ada juga yang menambah rakaat salat malam.
Tapi diwaktu bersamaan, di sudut kota yang lain suasananya tak kalah ramai. Mall penuh pengunjung. Marketplace banjir promo. Diskon Lebaran berseliweran di mana-mana.
Ramadan modern seperti menghadirkan dua dunia sekaligus.
Di satu sisi ada mereka yang berburu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di sisi lain, ada yang sedang sibuk berburu promo Lebaran.
Padahal dalam tradisi Islam, sepuluh hari terakhir Ramadan selalu dianggap sebagai fase paling sakral.
Rasulullah SAW bahkan meningkatkan intensitas ibadah pada periode ini.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia juga menegaskan betapa istimewanya malam tersebut.
“Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, dipahami sebagai momentum spiritual istimewa yang terjadi sekali dalam setahun,” ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Amien Suyitno pada laman https://pendis.kemenag.go.id, Jumat 28 Maret 2025.
Ramadan Juga Puncak Aktivitas Ekonomi
Namun Kece People, realitas sosial modern menghadirkan dinamika yang menarik. Sepuluh hari terakhir Ramadan bukan hanya puncak spiritualitas, tetapi juga puncak aktivitas ekonomi masyarakat menjelang Idulfitri.
Tak heran bila menjelang lebaran kita melihat gejala yang sama setiap tahunnya.
Mulai dari belanja baju Lebaran, berburu hampers untuk keluarga, meningkatnya kebutuhan bahan makanan, hingga lonjakan perjalanan mudik ke kampung halaman.
Belum lagi promo dan diskon yang menghiasi pusat perbelanjaan maupun marketplace. Belanja Ramadan Kini Berpindah ke Dunia Digital
Perubahan zaman juga menggeser cara masyarakat berbelanja.
Laporan Bank Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan transaksi digital melonjak selama Ramadan dan Idulfitri.
“Konsumsi rumah tangga mencatat pertumbuhan positif, didukung oleh kepercayaan ekonomi dan stabilitas pendapatan. Pengeluaran pemerintah terkait dengan pencairan tunjangan hari libur keagamaan (THR), pengeluaran sosial, dan berbagai insentif lainnya, disertai dengan lonjakan permintaan musim selama perayaan 1446 H Idul Fitri, juga meningkatkan konsumsi rumah tangga,” dikutip dari Laporan Kebijakan Moneter – Kuartal I 2025 tanggal 28 April 2025.
Artinya, selain pasar tradisional dan pusat perbelanjaan, kini platform digital juga menjadi ruang utama masyarakat mempersiapkan Lebaran.
Ramadan di Persimpangan
Kece People, pada akhirnya sepuluh hari terakhir Ramadan memang seperti berada di sebuah persimpangan.
Di satu jalan, ada masjid yang mulai ramai oleh mereka yang i’tikaf, menghidupkan malam dengan doa dan zikir, berharap bertemu Lailatul Qadar.
Di jalan yang lain, ada pusat perbelanjaan yang juga tak kalah ramai oleh orang-orang yang mempersiapkan Lebaran.
Dua realitas ini sebenarnya tidak harus saling bertentangan.
Namun Ramadan selalu mengingatkan kita bahwa di balik semua kesibukan menjelang Idulfitri, ada satu hal yang jauh lebih penting.
Yakni perjalanan spiritual selama sebulan penuh.
Karena ketika takbir berkumandang di malam Lebaran, yang benar-benar tersisa bukan hanya pakaian baru atau keranjang belanja yang penuh.
Melainkan hati yang semoga sudah sedikit lebih bersih dari sebelumnya.




