Kece People, cinta di Banjarbaru sepanjang tahun 2025 punya dua wajah. Di satu sisi, ada 1.626 pasangan yang memilih membuka babak baru lewat pernikahan. Tapi di sisi lain, data Badan Pusat Statisktik (BPS) Kota Banjarbaru juga mencatat perceraian mencapai 690 perkara yang diselesaikan Pengadilan Agama Banjarbaru, dan mayoritasnya adalah cerai gugat Banjarbaru.
Angkanya terasa seperti dua pintu yang terbuka bersamaan. Di satu pintu, pasangan datang membawa harapan, restu keluarga, baju rapi, dan rencana hidup baru. Di pintu lain, ada mereka yang datang ke ruang hukum dengan cerita yang lebih berat, yakni hubungan yang lelah, komunikasi yang patah, atau rumah tangga yang sudah terlalu lama menahan retak.
Berdasarkan publikasi Kota Banjarbaru Dalam Angka 2026, jumlah pernikahan di Banjarbaru pada 2025 mencapai 1.626 pernikahan. Angka ini naik dibandingkan 2024 yang tercatat 1.531 pernikahan. Artinya, dalam setahun ada tambahan 95 pernikahan, atau tumbuh sekitar 6,2 persen. Kenaikan ini memberi sinyal bahwa kehidupan sosial keluarga di Banjarbaru masih bergerak aktif. Orang masih menikah, masih membangun keluarga, masih memilih memulai babak baru.
Namun, cerita tidak berhenti di pelaminan. Pada tahun yang sama, Pengadilan Agama Kota Banjarbaru menyelesaikan 690 perkara perceraian, terdiri dari 177 cerai talak dan 513 cerai gugat. Ini penting dibaca dengan definisi yang jelas: angka 690 bukan jumlah pasangan yang menikah lalu langsung bercerai pada tahun yang sama, melainkan total perkara perceraian yang diselesaikan sepanjang 2025. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hampir separuh pasangan baru langsung pisah. Itu keliru secara logika data.
“Cerai talak diterima 182 kasus, diselesaikan 177, sedangkan cerai gugat diterima 514 kasus, diselesaikan 513 kasus,” demikian, dikutip dari tabel 4.6.10 Kota Banjarbaru Dalam Angka 2026.
Dari data itu, cerai gugat terlihat paling dominan. Dari 690 perkara perceraian yang diselesaikan, 513 perkara merupakan cerai gugat. Persentasenya sekitar 74,3 persen. Dengan kata lain, sekitar tiga dari empat perkara perceraian yang selesai di Pengadilan Agama Banjarbaru pada 2025 diajukan melalui cerai gugat.
Ini bukan bahan untuk menghakimi siapa yang salah. Justru di sinilah data harus dibaca dengan kepala dingin. Cerai gugat yang tinggi bisa menjadi sinyal adanya tekanan dalam rumah tangga, mulai dari konflik berkepanjangan, persoalan ekonomi, komunikasi yang tidak sehat, sampai hilangnya rasa aman atau keharmonisan. Tetapi tanpa wawancara langsung dan data pendukung, kita tidak boleh asal menebak penyebab tiap kasus. Yang bisa dikatakan dengan aman: cerai gugat memang mendominasi perkara perceraian Banjarbaru pada 2025.
Di sisi pernikahan, Landasan Ulin menjadi kecamatan dengan jumlah pernikahan tertinggi, yakni 518 pernikahan pada 2025. Setelah itu ada Banjarbaru Utara dengan 344 pernikahan, Banjarbaru Selatan 284 pernikahan, Liang Anggang 249 pernikahan, dan Cempaka 231 pernikahan. Gambaran ini menunjukkan Landasan Ulin menjadi salah satu titik paling aktif dalam pencatatan pernikahan di Banjarbaru. Bisa jadi karena faktor jumlah penduduk, pertumbuhan kawasan permukiman, atau struktur usia produktif, tetapi semua itu tetap perlu data tambahan agar tidak jadi asumsi kosong.
Kalau Kece People melihat angka itu sekilas, mungkin kesannya sederhana, bahwa pernikahan naik, perceraian tinggi. Tapi sebenarnya ceritanya lebih dalam. Banjarbaru sedang memperlihatkan dinamika keluarga urban yang cukup kompleks. Kota tumbuh, aktivitas ekonomi bergerak, penduduk bertambah, kebutuhan hidup berubah, dan relasi rumah tangga ikut terdorong oleh banyak tekanan baru.
Pernikahan hari ini bukan cuma soal dua orang yang saling suka, lalu selesai. Ada urusan pekerjaan, cicilan, tempat tinggal, ekspektasi keluarga, kesehatan mental, pola komunikasi, hingga kemampuan menyelesaikan konflik. Kalau fondasinya kuat, rumah tangga bisa jalan. Kalau tidak, sedikit saja tekanan bisa membuat hubungan limbung.
Namun, angka perceraian juga tidak boleh dibaca dengan nada panik berlebihan. Perkara perceraian yang tinggi bukan selalu berarti masyarakat makin “gampang pisah”. Bisa juga berarti akses terhadap layanan hukum makin terbuka, perempuan lebih berani menggunakan hak hukum, atau konflik rumah tangga yang dulu disimpan kini lebih banyak dibawa ke jalur resmi. Nah, ini perlu dibedah lebih lanjut oleh lembaga terkait, bukan sekadar dijadikan headline yang bikin geger.
Hal yang paling menarik dari data ini adalah jarak emosional antara dua angka besar tersebut: 1.626 pernikahan dan 690 perkara perceraian diselesaikan. Dua-duanya berbicara tentang keluarga, tetapi dari ujung cerita yang berbeda. Yang satu tentang awal, yang satu tentang akhir. Yang satu dirayakan, yang satu sering kali disimpan rapat-rapat.
Bila dibandingkan secara kasar, jumlah perkara perceraian yang diselesaikan setara sekitar 42 perkara per 100 pernikahan pada tahun yang sama. Tetapi sekali lagi, ini bukan rasio perceraian pasangan menikah 2025. Ini hanya perbandingan administratif untuk membaca beban sosial dan hukum dalam satu tahun kalender. Penjelasan ini penting supaya data tidak digoreng berlebihan.
Pemerintah daerah, lembaga keagamaan, konselor keluarga, hingga komunitas masyarakat sebaiknya tidak melihat angka ini sebagai statistik dingin semata. Di balik setiap perkara, ada keluarga, anak, ekonomi rumah tangga, dan masa depan sosial yang ikut terdampak. Kalau pendekatannya hanya administratif, masalahnya bisa selesai di kertas, tapi belum tentu selesai di kehidupan sehari-hari.
Banjarbaru punya pekerjaan rumah yang jelas: bukan hanya mencatat pernikahan, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga. Edukasi pranikah, konseling rumah tangga, literasi keuangan keluarga, pendampingan konflik, dan layanan perlindungan bagi korban kekerasan perlu benar-benar hidup, bukan cuma ada di brosur.
Pada akhirnya, data BPS ini mengingatkan kita bahwa cinta di kota yang sedang tumbuh tidak selalu berjalan lurus. Ada yang memulai hidup baru dengan bahagia, ada pula yang memilih selesai demi keselamatan, ketenangan, atau karena memang sudah tak ada jalan baik untuk bersama. Kada semua cerita rumah tangga bisa diselamatkan, tapi banyak yang mungkin bisa dicegah dari retak lebih awal bila dukungannya hadir tepat waktu.
Bagi Kece People, angka ini bukan sekadar bahan obrolan. Ini cermin sosial. Banjarbaru masih punya banyak pasangan yang percaya pada pernikahan. Namun, kota ini juga harus jujur melihat bahwa ratusan perkara perceraian dalam setahun adalah tanda bahwa urusan ketahanan keluarga perlu dibicarakan lebih serius, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan realitas hidup warganya.
