Kece People, setiap 2 Mei biasanya kita lihat upacara dan pidato yang terasa formal saja. Tapi di Hari Pendidikan Nasional tahun ini, suasananya beda—lebih dalam, lebih terasa maknanya. Bukan cuma soal perayaan, tapi ada pesan kuat tentang ke mana arah pendidikan Indonesia mau dibawa. Perlahan tapi pasti, cara kita memandang pendidikan mulai bergeser—bukan sekadar belajar di kelas, tapi tentang bagaimana membentuk manusia yang utuh.
Pada momen Hardiknas kali ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Indonesia Abdul Mu’ti menyampaikan sesuatu yang sederhana, tapi kena di hati. Bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tapi proses memanusiakan manusia—dengan tulus, dengan kasih.
“Peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah momentum untuk kita melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia,” ujar Abdul Mu’ti dalam pidatonya.
Kalimat itu seperti mengingatkan kita semua—bahwa di tengah target, kurikulum, dan angka-angka, ada sisi manusia yang kadang terlupa.
Dalam pidato itu disinggung filosofi lama pun kembali diangkat. Ajaran Ki Hajar Dewantara tentang asah, asih, dan asuh ditegaskan tetap relevan. Di era digital, nilai-nilai itu justru jadi jangkar—supaya pendidikan nggak kehilangan arah.
Lebih jauh, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk menciptakan sumber daya manusia unggul, sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo Subianto. Artinya, pendidikan bukan lagi sektor biasa—tapi kunci masa depan bangsa.
Nah, Kece People, dari visi besar itu, lahirlah langkah konkret. Salah satunya lewat pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang dijadikan prioritas. Bukan sekadar belajar cepat atau hafalan, tapi memahami secara utuh—lebih dalam, lebih bermakna.
Untuk mewujudkan itu, pemerintah merancang lima kebijakan strategis yang bisa dibilang cukup “nendang”.
Pertama, pembangunan dan revitalisasi sekolah, ditambah digitalisasi pembelajaran. Bayangin aja, lebih dari 16 ribu satuan pendidikan sudah disentuh program ini, dan ratusan ribu sekolah mulai masuk era digital. Pelan-pelan, wajah pendidikan Indonesia berubah.
Kedua, kualitas guru jadi perhatian utama. Beasiswa, pelatihan, sampai peningkatan tunjangan digencarkan. Targetnya jelas—ratusan ribu guru punya kompetensi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Ketiga, soal karakter siswa. Lingkungan belajar dibuat lebih aman, sehat, dan inklusif. Karena sekolah bukan cuma tempat belajar, tapi tempat tumbuh.
Keempat, kualitas pembelajaran diperkuat lewat literasi, numerasi, dan pengembangan STEM. Ditambah evaluasi berbasis Tes Kemampuan Akademik yang lebih terarah.
Kelima, akses pendidikan diperluas. Dari pembelajaran jarak jauh, sekolah terbuka, sampai layanan inklusif untuk anak berkebutuhan khusus—semuanya dirancang supaya kada ada yang tertinggal.
Menariknya, Abdul Mu’ti juga menyinggung bahwa dalam 18 bulan terakhir, fondasi pendidikan nasional sudah mulai dibangun lewat kolaborasi besar—bukan cuma pemerintah, tapi juga masyarakat dan dunia usaha.
“Dalam 18 bulan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah meletakkan fondasi ‘pendidikan bermutu untuk semua’ melalui berbagai regulasi dan ekosistem yang mengintegrasikan empat pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, masyarakat, dan media,” ungkapnya.
Artinya, pendidikan itu bukan cuma urusan sekolah. Ini kerja bersama—gawi sabarataan, istilahnya.
Ada pesan yang terasa simpel yang disampaikan, tapi dalam yakni soal tiga M—Mindset, Mental, dan Misi.
“Akhir kata, berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus,” tandasnya.
Kece People, dari semua ini kita bisa melihat satu hal, perubahan pendidikan nggak cuma soal kebijakan, tapi juga soal cara berpikir.
Hardiknas 2026 bukan cuma peringatan tahunan. Ini semacam pengingat—bahwa masa depan pendidikan Indonesia lagi ditulis sekarang. Dan kita semua, sadar atau kada, ikut jadi bagian dari ceritanya.
