Kece People, kabar panas mengguncang Balai Kota. Muhammad Aditya Mufti Ariffin secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Wali Kota Banjarbaru, padahal masa jabatannya masih tersisa hingga Februari 2026. Pengumuman itu disampaikan langsung dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Banjarbaru yang digelar di Graha DPRD.
Suasana ruang sidang yang awalnya berjalan normal mendadak hening. Anggota dewan, pimpinan SKPD, hingga peserta rapat tampak terkejut. Tak ada angin, tak ada badai, tiba-tiba keputusan besar diumumkan.
Alasan: Ditunjuk Jadi Komisaris Independen
Keputusan itu disampaikan Aditya usai memberikan sambutan dalam agenda pandangan umum fraksi terhadap dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda). Di penghujung sambutan, ia menyampaikan pernyataan yang membuat ruangan terdiam.
“Kami menyampaikan pengunduran diri sebagai Wali Kota karena sudah menerima surat penunjukan sebagai Komisaris Independen di salah satu BUMN. Terima kasih atas kerja sama dan dukungan dari semua pihak,” ujar Aditya.
Tak banyak penjelasan tambahan. Tak ada sesi tanya jawab panjang. Setelah itu, Aditya menyerahkan langsung surat pengunduran diri kepada Ketua DPRD Banjarbaru, Gusti Rizky Sukma Iskandar Putra, yang didampingi Wakil Ketua I Neny H dan Wakil Ketua II Windi Novianto.
Dan yang bikin suasana makin dramatis, Aditya kemudian meninggalkan gedung DPRD melalui pintu belakang tanpa memberikan keterangan lanjutan kepada awak media.
Bahasanya urang Banjar, keputusan ini datangnya kada disangka-sangka, lah.
Dari PPP ke Kursi BUMN
Aditya dikenal sebagai politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia terpilih dalam Pilkada Banjarbaru 2020 dan memimpin bersama Wakil Wali Kota Wartono.
Sebelum dirinya, kursi Wali Kota Banjarbaru pernah diisi oleh Nadjmi Adhani, kemudian dilanjutkan oleh Pelaksana Tugas Darmawan Jaya Setiawan dan Pelaksana Harian Said Abdullah Al Kaff.
Kini, Banjarbaru kembali memasuki fase transisi.
Babak Baru Politik Banjarbaru
Pengunduran diri ini tentu memunculkan banyak pertanyaan publik. Mengapa sekarang? Bagaimana dampaknya terhadap stabilitas pemerintahan? Dan bagaimana arah pembangunan ke depan?
Namun satu hal yang pasti, keputusan ini resmi dan telah disampaikan secara terbuka dalam forum paripurna.
Kece People, politik memang penuh kejutan. Hari ini masih memimpin, besok bisa pindah haluan. Tapi yang terpenting, roda pemerintahan harus tetap berjalan, pelayanan publik harus tetap lancar, dan Banjarbaru tetap melaju maju.
Kita tunggu babak selanjutnya. Karena di Banjarbaru, cerita politiknya selalu ada plot twist, lah.




