Kece People, tak terasa Ramadan mulai memasuki 10 hari kedua. Tak terasa memang. Ingatlah, saat awal puasa lalu mungkin dari kita ada yang begitu semangat. Nargetin khatam Qur’an. Tarawih full. Sedekah ditambah. Bangun sahur tanpa drama.
Dan, sekarang? Masihkah setegar itu Kece People?
Siang terasa lebih panjang. Pekerjaan tetap menumpuk. Jalanan menjelang magrib makin padat. Di sudut kota, pedagang masih setia menunggu pembeli. Di rumah, ibu-ibu tetap sibuk menyiapkan menu berbuka.
Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Tapi tentang menahan ego. Menahan amarah. Menahan keinginan yang kadang lebih berisik dari perut yang keroncongan.
Kadang yang paling berat itu bukan menahan haus dan lapar. Tapi menahan diri untuk tidak malas, tidak jengkel, atau tidak membalas.
Awal Ramadan lalu, nampak kali masjid penuh. Saf begitu rapat. Suara Aamiin bergema kompak. Nah, memasuki perjalanan 10 hari kedua, semoga ruang kosong di beberapa barisan tak ditemukan.
Tak ada niat sedikit pun untuk menghakimi. Namun untuk bertanya pelan-pelan pada diri sendiri. Apakah puasa tahun ini tentang Allah, ataukah sudah kembali tentang rutinitas, mengalir begitu saja tanpa hakikat?
Dari Ramadan kita diajarkan satu hal sederhana tapi dalam, “kembali”. Kembali pada niat. Kembali pada kesadaran. Kembali pada versi diri yang lebih sabar. Kembali pada fitrah.
Ramadan dan Kota yang Tetap Berdenyut
Banjarbaru tetap hidup.
Pasar wadai ramai. Tempat makan buka menjelang magrib. Anak muda masih nongkrong setelah tarawih. Kantor tetaplah berutinitas. Dunia tak berjeda hanya karena kita berpuasa.
Justru di tengah hiruk pikuk itulah ujian sebenarnya. Apakah kita tetap bisa tenang di tengah kebisingan?
Adakalanya kita terlalu sibuk mencari tempat buka puasa, sampai lupa mencari ruang sunyi untuk berbicara dengan diri sendiri.
Pulang Itu Bukan Soal Tempat
Kece People, memasuki babak 10 hari kedua di bulan Ramadan ini, tak sedikit orang merindukan kampung halaman. Ingin pulang. Ingin berkumpul. Ingin buka puasa bersama. Ingin merasakan suasana lama.
Namun pulang terkadang pulang sesungguhnya bukan cuma soal alamat. Pulang bisa dimaknai pula ketika hati kita kembali lembut. Ketika kita lebih mudah memaafkan. Ketika kita berhenti merasa paling benar.
Kada gegampangan, memang. Tapi Ramadan tak pernah menjanjikan kemudahan. Ia menjanjikan perubahan, bagi yang mau.
10 Hari Terakhir Akan Terasa Lebih Berat
Nah, Kece People, di depan ada 10 malam terakhir menunggu kita. Malam-malam yang dimaknai lebih baik dari seribu bulan.
Pertanyaannya bukan lagi, “Sudahkah kita sempurna?” Tapi, “Sudahkah kita jujur?”
Jujur bahwa kita lelah. Jujur bahwa kita masih sering lalai. Jujur bahwa kita ingin jadi lebih baik, walau perlahan.
Ramadan bukanlah soal lomba siapa paling suci. Ini perjalanan siapa paling tulus.
Kece People, mungkin kita tidak bisa langsung berubah drastis. Tapi kita bisa mulai malam ini.
Kadang kala mematikan ponsel sebentar. Kemudian menarik napas dalam-dalam. Berbicara pelan pada diri sendiri.
Masih ada waktu untuk benar-benar pulang. Dan semoga, ketika Ramadan pergi nanti, yang tersisa bukan hanya kenangan buka puasa… tapi versi diri yang sedikit lebih tenang.
Semoga Kece People bisa istiqomah.




