Home Banjarbaru Anak Muda Banjarbaru Rahasia Flirting 2 Generasi: Milenial vs Gen Z, Kamu Ngikut Mana?

Rahasia Flirting 2 Generasi: Milenial vs Gen Z, Kamu Ngikut Mana?

0
Perbedaan gaya flirting milenial dan Gen Z dari deep talk hingga meme. (red)

Kece People, cara orang “flirting” alias PDKT ternyata makin ke sini makin berubah gaya. Dari yang dulu harus deg-degan nelpon rumah gebetan, sampai sekarang cukup kirim meme atau voice note, memang sudah banyak berubah, nah loh!

Flirting itu sendiri sebenarnya hal yang sangat manusiawi. Dari dulu sampai sekarang, ini jadi “pintu masuk” menuju hubungan yang lebih serius. Tapi yang bikin menarik, tiap generasi punya cara uniknya sendiri. Nah, di sinilah cerita jadi makin asyik.

Milenial: Jurus Flirting dengan Rasa Deep Talk

Kalau Kece People masuk kategori milenial, kemungkinan besar gaya PDKT-nya lebih “niat”. Bukan sekadar basa-basi, tapi benar-benar membangun koneksi lewat obrolan yang dalam.

Menurut Devyn Simone, pendekatan milenial cenderung lebih komunikatif dan penuh makna.

“Milenial cenderung menggabungkan humor dengan percakapan yang lebih panjang, serta menunjukkan kepribadian mereka melalui berbagai chat,” jelasnya, seperti dikutip dari HuffPost.

Artinya, flirting buat milenial itu bukan sekadar “tebar pesona”, tapi juga soal membangun chemistry. Obrolannya bisa panjang, kadang ngalir ke hal-hal personal—kayak mimpi hidup, pengalaman masa lalu, sampai hal-hal receh tapi bermakna.

Nah kalo dari Devyn juga menekankan tiga prinsip penting dalam flirting yang sehat pertama rasa aman, lalu energi positif, dan terakhir timbal balik

“Tujuannya adalah menunjukkan ketertarikan, sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk memutuskan apakah mereka juga tertarik,” ujarnya.

Jadi, bukan maksa ya Kece People—lebih ke “aku tertarik, tapi kamu bebas memilih”. Santai tapi dewasa, iya banarlah!

Gen Z: Flirting Santai, Meme Jadi Senjata

Nah, kalau Gen Z—ini beda lagi ceritanya. Gaya mereka lebih santai, playful, dan kadang unpredictable. Flirting bisa lewat hal-hal sederhana, tapi ngena.

“Gen Z cenderung menjaga suasana tetap fun, menggunakan meme, referensi TikTok, atau voice note yang terasa autentik, bukan dibuat-buat,” masih menurut Devyn Simone.

Bayangin aja, bukannya kirim chat panjang, Gen Z bisa langsung lempar meme yang “relate banget”. Atau kirim voice note random yang justru terasa lebih jujur. Kesannya ringan, tapi justru di situ letak daya tariknya.

Ulun bilang, ini gaya yang “apa adanya”—kadang absurd, tapi jujur.

Tapi Ingat, Flirting Itu Ada Etikanya

Walaupun gaya beda-beda, ada satu hal yang tetap sama setiap generasi yakni flirting harus tetap menghargai batasan.

“Saat flirting, penting untuk memperhatikan konteks, consent, dan bahasa tubuh,” ujar Amanda Etienne.

Artinya apa Kece People, yang pertama adalah konteks ini lebih pada pahami situasi—baru kenal atau sudah dekat?

Lalu bahasa tubuh, apa dia nyaman atau malah ingin kabur?

Dan ketiga consent, jangan asal gas, harus ada persetujuan dong.

Dan yang paling penting nih, Kece People. “Menerima penolakan adalah hal yang wajib,” tegas Amanda.

Jangan sampai terjebak trik “jual mahal” yang malah bikin salah paham. Kadang niatnya menarik, tapi hasilnya bikin ilfeel—waduh, jangan sampai!

Intinya: Jadi Diri Sendiri Itu Paling Kuat

Pada akhirnya, meskipun gaya flirting berubah mengikuti zaman, esensinya tetap sama yaitu membangun koneksi yang jujur dan menyenangkan.

Mau kamu tim milenial yang suka deep talk sampai larut malam, atau Gen Z yang lebih suka kirim meme random tengah malam—yang penting tetap jadi diri sendiri.

Karena dalam urusan hati, yang paling berkesan itu bukan gaya paling keren… tapi yang paling tulus.

Jadi, Kece People—ikam tim mana nih?

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version