Home Banjarbaru Akhir Perayaan HUT ke-27 Banjarbaru! Resmi Ditutup, Ini Ceritanya

Akhir Perayaan HUT ke-27 Banjarbaru! Resmi Ditutup, Ini Ceritanya

0
Momen puncak Perayaan Banjarbaru ke-27, sediakan 15.000 porsi Soto Banjar gratis 20 April lalu. (FOTO: Medcen)

Kece People, ada satu momen yang mungkin nggak semua orang sadari—saat sebuah perayaan berakhir, tapi rasanya masih tertinggal di mana-mana.

Begitu juga dengan Hari Jadi ke-27 Banjarbaru. Nggak cuma soal acara yang selesai, tapi tentang cerita, tawa, dan kebersamaan yang masih terasa hangat.

Di sebuah pertemuan sederhana di Kampung Lauk, Banjarbaru, rangkaian panjang perayaan itu resmi ditutup. Nggak ada gemerlap panggung besar, namun di situlah terasa maknanya—lebih dekat, lebih tulus.

Tahun ini, perayaan HUT Banjarbaru nggak cuma soal hiburan. Tema “Kita Gawi Sabarataan, Bakurinah Gasan Banjarbaru Emas” benar-benar terasa hidup.

Mulai dari lomba baca puisi, kejuaraan olahraga, aksi bersih lingkungan, sampai Festival Soto Banjar yang ramai banget—semuanya jadi bukti kalau warga ikut terlibat, bukan cuma jadi penonton.

Bahkan, ada juga layanan kesehatan seperti screening TBC dan HIV. Jadi bukan sekadar seru-seruan, tapi juga peduli.

Di balik semua yang terlihat lancar, ada tim yang bekerja tanpa banyak sorotan. Dan itu yang disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru sekaligus Ketua Panitia Sirajoni.

“Terima kasih kepada bapak ibu panitia yang telah melaksanakan kegiatan Hari Jadi Kota Banjarbaru ke-27 ini dengan cukup baik. Saya mengapresiasi dedikasi dan pengorbanan kawan-kawan sekalian sehingga seluruh rangkaian dapat berjalan lancar dan segala permasalahan mampu kita minimalisir,” ujarnya.

Menariknya, penutupan ini bukan sekadar formalitas. Tapi juga jadi momen refleksi.

Sirajoni mengingatkan bahwa pengalaman dari perayaan ini bisa jadi bekal untuk agenda berikutnya, termasuk menyambut HUT RI.

“Saya memohon maaf kepada saudara-saudara sekalian barangkali dalam memimpin kepanitiaan ini banyak hal yang kurang. Saya sangat berbangga atas dedikasi yang kawan-kawan berikan untuk kota kita,” pungkasnya.

Kece People, mungkin panggung sudah dibongkar, lomba sudah selesai, dan festival sudah lewat. Tapi satu hal yang nggak ikut berakhir—rasa kebersamaan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, perayaan bukan cuma soal acara, tapi tentang bagaimana sebuah kota bisa merasa “dekat” satu sama lain.

Akhir Perayaan HUT ke-27 Banjarbaru! Resmi Ditutup, Ini Ceritanya 1
Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru sekaligus Ketua Panitia Sirajoni secara resmi menutup rangkaian HUT ke-27 Kota Banjarbaru. (FOTO: Medcen)

Hari Jadi Banjarbaru ke-27 bukan cuma rangkaian ucapan, tapi potongan cerita yang lagi hidup di kota ini. Tahun ini, Banjarbaru bukan sekadar merayakan usia. Ia seperti lagi “bakisah”—tentang kebersamaan, tentang rasa memiliki, dan tentang warga yang ikut bergerak, bukan cuma jadi penonton.

Tema “Kita Gawi Sabarataan, Bakurinah Gasan Banjarbaru Emas” terasa bukan sekadar slogan. Dari langkah pertama di Pasar Bauntung sampai keramaian di Lapangan Murdjani, semuanya seperti terhubung dalam satu napas: maju bareng-bareng.

Pagi di Pasar Bauntung, suasana terasa lain. Kada cuma transaksi jual beli, tapi ada energi yang hidup—orang senam bareng, tertawa, lalu lanjut belanja pakai voucher dari pemerintah. Santai, tapi berdampak langsung ke pedagang dan warga.

Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, bahkan turun langsung membagikan voucher.

“Hari ini emang dalam rangka memperingati hari jadi Kota Banjarbaru yang ke-27 ini kami Pemko Banjarbaru menyediakan voucher belanja buat masyarakat yang berbelanja di Pasar Bauntung,” ujarnya.

Di titik ini, ekonomi lokal terasa digerakkan dari hati. Pasar bukan lagi sekadar tempat jual beli, tapi ruang interaksi yang hangat—tempat warga dan pemerintah saling menyapa tanpa sekat.

Dua hari berselang, cerita bergeser ke sisi lain kota. Di Pasar Galuh Cempaka, suasana lebih “serius”—gotong royong massal. Warga dan pemerintah turun tangan langsung bersih-bersih. Di sinilah realita muncul: sampah dari aktivitas perdagangan masih jadi tantangan.

“Hari ini kita melaksanakan kurve serentak di seluruh kecamatan. Ini bukan hanya dalam rangka peringatan hari jadi, tetapi langkah kita untuk me-edukasi dan men-sosialisasi masyarakat agar lebih sadar terhadap kebersihan lingkungan,” ujar Erna Lisa Halaby.

Pesannya jelas, Kece People—kota bersih itu kada bisa diserahkan ke satu pihak saja. Ini urusan kita sabarataan.

Lalu malamnya, suasana berubah lagi. Di Masjid Agung Al Munnawarah, ribuan jamaah berkumpul dalam tabligh akbar. Hening, tapi penuh makna.

Sosok Hanan Attaki hadir, membawa pesan yang dekat dengan anak muda: jadi generasi berilmu, berakhlak, dan bijak di era digital.

“Kegiatan ini juga merupakan salah satu langkah Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membentuk sumber daya manusia yang kuat, beriman, dan berakhlak mulia,” ujarnya Sekretaris Daerah Sirajoni mewakili Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby yang saat itu pun turut hadir.

Di tengah meriahnya perayaan, ada ruang refleksi. Bahwa kota maju, manusianya juga harus kuat.

Masuk ke Lapangan Murdjani, suasana makin padat. Expo dan Job Fair jadi magnet baru. Ribuan orang datang, membawa harapan. Sebanyak 1.553 lowongan kerja dibuka—angka yang bukan kecil, apalagi bagi yang sedang mencari arah.

“Di usia ke-27 ini, Banjarbaru terus bergerak maju. Kita ingin pembangunan yang dilakukan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kota Banjarbaru,” ucap orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru, Jumat (17/04/2026).

Kada cuma itu, Kece People. Ada sembako gratis, pelatihan tenaga kerja difabel, sampai layanan kesehatan. Dari kebutuhan dasar sampai masa depan—semuanya disentuh.

Di sisi lain, jalanan Banjarbaru dipenuhi energi baru lewat Banjarbaru Running Festival. Ratusan peserta ikut lari—dari remaja sampai dewasa. Ini bukan sekadar olahraga, tapi simbol bahwa kota ini lagi bergerak.

“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat semakin memperkenalkan Kota Banjarbaru kepada masyarakat luas, serta mendorong pertumbuhan pariwisata daerah,” ujar Sirajoni.

Lalu ada bagian yang mungkin terlihat sederhana, tapi justru paling terasa: khitanan massal, pangan murah, hingga pembagian sayur gratis. Di sinilah makna “Gawi Sabarataan” benar-benar hidup. Kada ada yang ditinggal. Semua ikut merasakan.

Puncaknya? Ribuan warga berkumpul di Lapangan Murdjani, makan bersama 15 ribu porsi Soto Banjar. Sederhana, tapi hangatnya terasa sampai ke hati.

Muhidin pun menegaskan,
“Banjarbaru menunjukkan kemajuan yang konsisten. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang bagaimana masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung,” ungkap Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin yang hadir kala itu.

“Banjarbaru Emas bukan sekadar visi, tetapi tujuan bersama yang harus kita wujudkan dengan semangat gotong royong,” pesan Erna Lisa Halaby mengingatkan arah besar kota ini.

Banjarbaru Emas bukan mimpi. Tapi proses yang lagi dijalani… bersama-sama.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version