Kece People, setiap menjelang lebaran selalu ada satu momen yang bikin banyak orang berhenti sejenak dan bertanya dalam hati. Kenapa ya Lebaran bisa beda?
Apalagi sekarang, malam takbiran sudah di depan mata. Suasananya terasa hidup, hangat, tapi di saat yang sama juga menyisakan sedikit kebingungan bagi sebagian orang.
Di satu sisi, ada yang sudah siap menyambut Lebaran besok dengan penuh keyakinan, bahkan gema takbir mungkin sudah mulai terasa di lingkungan sekitar, tapi di sisi lain, masih ada juga yang menunggu hasil sidang isbat dari pemerintah untuk memastikan kapan tepatnya Hari Raya Idul Fitri dirayakan
Situasi seperti ini bukan hal baru, dan setiap tahun selalu ada pertanyaan yang sama muncul di tengah masyarakat, kenapa sih Lebaran bisa berbeda.
Pelan-pelan kita pahami, Kece People, perbedaan ini sebenarnya bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi lebih kepada cara menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah yang memang berbeda pendekatan.
Sebagian pihak menggunakan metode hisab, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis tanpa harus melihat langsung di langit, selama posisi bulan sudah memenuhi kriteria tertentu, maka tanggal 1 Syawal langsung ditetapkan, bahkan jauh hari sebelum Lebaran tiba.
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Sementara itu, pemerintah melalui sidang isbat menggunakan pendekatan yang berbeda, yaitu menggabungkan perhitungan hisab dengan rukyat atau pengamatan langsung hilal di langit, artinya meskipun secara hitungan posisi bulan sudah diketahui, tetap harus menunggu apakah hilal benar-benar terlihat atau tidak.
“Sidang isbat akan mempertimbangkan hasil hisab atau perhitungan secara astronomis terkait posisi hilal awal Syawal sebagai informasi awal yang kemudian dikonfirmasi melalui mekanisme rukyatul hilal atau pemantauan hilal,” kata Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, kepada wartawan, Selasa (10/3/2026) lalu.
Karena adanya proses melihat langsung inilah, hasil akhirnya bisa saja berbeda, terutama jika kondisi cuaca tidak mendukung atau posisi hilal masih terlalu rendah sehingga sulit terlihat dari permukaan bumi.
Kadang langit mendung, kadang hujan turun, kadang juga secara posisi hilal memang belum cukup tinggi untuk bisa disaksikan, padahal secara perhitungan sebenarnya sudah masuk waktu yang sama, di sinilah letak kenapa perbedaan itu bisa terjadi.
Meski begitu, pemerintah juga terus mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan perbedaan ini sebagai sumber perpecahan, karena pada dasarnya semua memiliki tujuan yang sama, yaitu merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.
“Kita berharap baik berlebaran bersama-sama atau pada hari berbeda, umat Islam tetap saling menghormati dan menjaga harmoni. Pada momen Idulfitri, semua bisa saling berbagi kebahagiaan dan saling memaafkan,” terang Thobib Al Asyhar.
Kece People, di tengah semua perbedaan ini, mungkin yang paling penting bukan lagi soal tanggal yang sama atau berbeda, tapi bagaimana kita tetap bisa menjaga kebersamaan dan saling menghargai.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang kapan dirayakan, tapi tentang makna yang dibawa, tentang pulang, tentang maaf, tentang kehangatan yang mungkin tidak selalu datang dalam bentuk yang sama untuk setiap orang.
Dan di malam seperti ini, ketika sebagian orang mulai takbiran dan sebagian lainnya masih menunggu kepastian, mungkin kita sedang diingatkan bahwa setiap orang punya cara sendiri dalam menyambut Lebaran, dengan cerita yang berbeda, dengan rasa yang tidak selalu sama, tapi tetap menuju satu hal yang sama, yaitu kemenangan.




