Kece People, ini bukan sekadar perayaan. Hari Jadi Banjarbaru ke-27 terasa beda sejak langkah pertama. Dari Pasar Bauntung sampai Lapangan Murdjani, kota ini seperti lagi bercerita. Tentang kebersamaan. Tentang warga yang ikut bergerak. Tentang Banjarbaru yang tumbuh bukan cuma dari pembangunan, tapi dari rasa memiliki. Bertemakan “Kita Gawi Sabarataan, Bakurinah Gasan Banjarbaru Emas” pun seolah sebagai pesan untuk bergerak dan tumbuh bersama-sama.
Dari Pasar: Ekonomi yang Digerakkan dari Hati
Pagi itu di Pasar Bauntung, suasananya lain dari biasanya. Bukan cuma soal jual beli, tapi ada tawa, semangat, dan rasa “hidup banar” yang terasa. Warga ikut senam bareng, lalu lanjut belanja pakai voucher dari pemerintah. Santai tapi berdampak.
Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, turun langsung membagikan voucher ke masyarakat.
“Hari ini emang dalam rangka memperingati hari jadi Kota Banjarbaru yang ke-27 ini kami Pemko Banjarbaru menyediakan voucher belanja buat masyarakat yang berbelanja di Pasar Bauntung,” ujarnya, dikutip dari Media Center Banjarbaru.
Di sini, ekonomi lokal digerakkan dengan cara yang sederhana tapi kena. Pasar bukan cuma tempat transaksi, tapi jadi ruang interaksi. Harapannya jelas—Pasar Bauntung tetap ramai, pedagang lancar jualan, warga nyaman belanja.

Dari Sampah: Kesadaran yang Dibangun Bersama
Dua hari setelahnya, suasana berubah. Bukan lagi senam dan belanja, tapi gotong royong. Di Pasar Galuh Cempaka, warga dan pemerintah turun langsung bersih-bersih.
Dan di sinilah realita muncul. Ternyata, banyak sampah berasal dari aktivitas perdagangan.
“Hari ini kita melaksanakan kurve serentak di seluruh kecamatan. Ini bukan hanya dalam rangka peringatan hari jadi, tetapi langkah kita untuk me-edukasi dan men-sosialisasi masyarakat agar lebih sadar terhadap kebersihan lingkungan,” ujar Erna Lisa Halaby di sela-sela kegiatan.
Pesannya sederhana tapi penting: kota bersih itu tanggung jawab bersama. Kada bisa hanya berharap pemerintah—warga juga harus ambil bagian.
Dari Masjid: Menguatkan Hati di Tengah Perayaan
Kamis (16/4/2026) malam di Masjid Agung Al Munnawarah terasa berbeda. Ribuan jamaah hadir dalam tabligh akbar, menghadirkan suasana yang hening tapi dalam.
Salah satu yang hadir adalah Hanan Attaki, yang dikenal dekat dengan anak muda.
Pesan yang dibawa bukan soal teori berat, tapi hal sederhana: jadi generasi berilmu, berakhlak, dan bijak di era digital.
“Kegiatan ini juga merupakan salah satu langkah Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membentuk sumber daya manusia yang kuat, beriman, dan berakhlak mulia,” ujarnya Sekretaris Daerah Sirajoni mewakili Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby yang saat itu pun turut hadir.
Di tengah kemeriahan, ada ruang refleksi. Supaya kota maju, manusianya juga harus kuat.
Dari Lapangan: Harapan Kerja dan Ekonomi Nyata
Di Lapangan Murdjani, suasana makin ramai. Expo dan Job Fair jadi magnet baru. Ribuan orang datang, bukan cuma lihat-lihat, tapi cari peluang.
Sebanyak 1.553 lowongan kerja dibuka. Bukan angka kecil. Ini harapan.
“Di usia ke-27 ini, Banjarbaru terus bergerak maju. Kita ingin pembangunan yang dilakukan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kota Banjarbaru,” ucap orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru, Jumat (17/04/2026).
Ditambah lagi, ada sembako gratis, pelatihan tenaga kerja difabel, sampai layanan kesehatan gratis. Lengkap. Dari perut sampai masa depan, semua disentuh.
Dari Jalanan: Energi Anak Muda yang Mengalir
Banjarbaru Running Festival jadi bukti bahwa perayaan bisa dikemas lebih fresh. Ratusan peserta ikut lari, dari remaja sampai dewasa.
Bukan cuma olahraga, tapi simbol. Bahwa kota ini bergerak. Bahwa warganya aktif, sehat, dan penuh energi.
“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat semakin memperkenalkan Kota Banjarbaru kepada masyarakat luas, serta mendorong pertumbuhan pariwisata daerah,” ujar Sekda Banjarbbaru Sirajoni, Sabtu (18/04/2026) pagi.
Dari Kepedulian: Ketika Pemerintah Hadir Lebih Dekat
Khitanan massal, pangan murah, sampai pembagian sayur gratis—ini bagian yang sering dianggap kecil, tapi justru paling terasa.
Di sinilah makna “Gawi Sabarataan” benar-benar hidup. Semua bergerak. Semua terlibat. Kada ada yang ditinggal.
Puncaknya: Ketika Kota dan Warga Menjadi Satu Cerita
Puncak perayaan di Lapangan Murdjani benar-benar menggambarkan Banjarbaru hari ini. Ribuan warga berkumpul, makan bersama 15 ribu porsi Soto Banjar. Sederhana, tapi penuh makna.
“Banjarbaru menunjukkan kemajuan yang konsisten. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang bagaimana masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung,” tegas Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, Senin (20/04/2026).
“Banjarbaru Emas bukan sekadar visi, tetapi tujuan bersama yang harus kita wujudkan dengan semangat gotong royong,” tandas Erna Lisa Halaby.
Kece People, di usia ke-27 ini, Banjarbaru bukan lagi sekadar kota yang berkembang. Tapi kota yang tahu arah. Kota yang paham, bahwa kemajuan itu kada bisa sendiri—harus “bakurinah”, harus bareng-bareng.
Dari pasar, masjid, jalanan, sampai panggung rakyat—semuanya menyatu jadi satu cerita:
Banjarbaru Emas itu bukan mimpi. Tapi proses yang lagi dijalani, bersama-sama.