Kece People, hampir semua cerita warga kota selalu dimulai dari jalan. Dari pagi yang buru-buru berangkat kerja, anak sekolah yang diantar orang tua, pedagang yang mengirim barang, sampai warga yang harus cepat menuju layanan kesehatan. Karena itu, ketika data jalan Banjarbaru 2025 menunjukkan masih ada ratusan kilometer jalan rusak Banjarbaru, hal ini bukan sekadar catatan dalam Badan Pusat Statistik (BPS) Banjarbaru, melainkan bisa menjadi alarm nyata bagi infrastruktur dan kualitas jalan kota yang berjulukan Kota Idaman saban hari dipakai warga.
Jalan itu kadang baru terasa penting saat rusak. Saat motor mulai oleng menghindari lubang, mobil harus pelan-pelan karena permukaan tidak rata, atau perjalanan yang mestinya sebentar malah jadi lambat karena jalan kada nyaman dilewati. Di titik itu, data infrastruktur bukan lagi urusan teknis pemerintah semata. Ia berubah jadi pengalaman harian warga.
Berdasarkan publikasi Kota Banjarbaru Dalam Angka 2026, total panjang jalan di Kota Banjarbaru pada 2025 tercatat 1.461,824 kilometer. Rinciannya terdiri dari jalan negara sepanjang 30,298 km, jalan provinsi 130,220 km, dan jalan kabupaten/kota 1.301,306 km. Artinya, mayoritas jaringan jalan yang menyambung mobilitas warga berada pada kategori jalan kota.

Angka itu memperlihatkan Banjarbaru punya jaringan jalan yang panjang. Tapi panjang saja belum cukup. Pertanyaan yang lebih penting, bagaimana kondisinya? Nah, di sinilah cerita mulai terasa lebih serius.
Pada 2025, jalan dalam kondisi baik tercatat 741,391 km. Sementara itu, jalan kondisi sedang mencapai 139,325 km, jalan rusak 211,135 km, dan jalan rusak berat 209,455 km. Jika jalan rusak dan rusak berat digabung, totalnya menjadi sekitar 420,59 km. Dengan kata lain, ada ratusan kilometer jalan yang belum berada dalam kondisi ideal.
Buat Kece People yang tiap hari melewati jalan kota, angka 420 km itu bukan sekadar statistik. Itu bisa berarti ban motor lebih cepat aus, suspensi kendaraan lebih cepat rewel, waktu tempuh bertambah, dan risiko kecelakaan ikut naik. Untuk pelaku usaha, jalan rusak juga bisa memengaruhi distribusi barang. Untuk warga pinggiran, akses menuju layanan publik bisa terasa lebih berat.
Kalau dibaca lebih dalam, kondisi jalan Banjarbaru pada 2025 punya dua sisi. Jalan rusak berat memang turun dibandingkan 2024, dari 252,858 km menjadi 209,455 km. Ini sinyal positif. Tapi di saat yang sama, jalan kategori rusak justru naik dari 168,569 km menjadi 211,135 km. Jalan kondisi baik juga turun dari 815,294 km pada 2024 menjadi 741,391 km pada 2025.
Di sinilah pemerintah kota tidak boleh cepat puas. Kalau jalan rusak tidak segera ditangani, statusnya bisa memburuk menjadi rusak berat. Biaya perbaikannya pun biasanya lebih mahal dibanding pemeliharaan rutin. Ibarat luka kecil, kalau dibiarkan, bisa jadi makin dalam.
Dari sisi permukaan jalan, aspal masih menjadi wajah utama jalan Banjarbaru. Pada 2025, panjang jalan aspal tercatat 917,903 km. Namun, masih ada jalan kerikil 150,366 km, jalan tanah 129,525 km, dan kategori lainnya 103,512 km. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan rumah infrastruktur tidak hanya soal menambal lubang, tetapi juga memperkuat kualitas permukaan jalan di berbagai wilayah.
Sebaran jalan kota juga menarik untuk dibaca. Landasan Ulin menjadi kecamatan dengan panjang jalan kota terbesar, yaitu 448,820 km. Disusul Banjarbaru Utara 251,942 km, Liang Anggang 228,932 km, Banjarbaru Selatan 196,874 km, dan Cempaka 174,738 km.
Landasan Ulin bukan hanya punya jaringan jalan paling panjang. Kecamatan ini juga mencatat jalan tanah 56,208 km dan jalan kerikil 68,935 km. Artinya, sebagai wilayah dengan bentang jalan paling besar, beban infrastruktur Landasan Ulin juga berat. Ini masuk akal kalau melihat kawasan tersebut sebagai salah satu area yang terus bergerak, baik permukiman, aktivitas warga, maupun konektivitas antarwilayah.
Untuk jalan kota beraspal, kondisi tahun 2025 menunjukkan 744,564 km berada dalam kondisi baik, 107,653 km kondisi sedang, 25,210 km rusak, dan 40,476 km rusak berat. Data ini penting karena jalan beraspal adalah jenis permukaan yang paling banyak digunakan di Banjarbaru.
Jika dilihat per kecamatan, jalan aspal rusak berat paling panjang berada di Liang Anggang, yakni 13,061 km. Setelah itu ada Landasan Ulin 10,211 km, Banjarbaru Utara 7,142 km, Cempaka 5,126 km, dan Banjarbaru Selatan 4,936 km. Ini memberi sinyal bahwa perhatian tidak boleh hanya bertumpu pada pusat kota. Wilayah yang terus tumbuh dan menjadi jalur mobilitas warga juga harus masuk prioritas.
Bagi Banjarbaru, isu jalan bukan cuma soal proyek fisik. Ini soal ritme kota. Jalan yang baik membuat warga bergerak lebih cepat, pelaku UMKM lebih mudah mengantar barang, pekerja tidak terlalu banyak kehilangan waktu di perjalanan, dan layanan publik lebih gampang dijangkau. Sebaliknya, jalan rusak membuat kota seperti berjalan sambil tersendat.
Kece People mungkin pernah merasakan sendiri: jalan yang bolong sedikit saja bisa bikin perjalanan terasa panjang. Apalagi kalau jalan itu dilewati tiap hari. Lama-lama, yang rusak bukan cuma kendaraan, tapi juga mood warga. Kada nyaman, kada aman, dan kada efisien.
Karena itu, data BPS ini sebaiknya dibaca sebagai alarm, bukan sekadar laporan tahunan. Pemerintah daerah perlu membaca peta kerusakan jalan dengan lebih tajam: mana jalan yang aksesnya vital, mana yang dekat sekolah atau fasilitas kesehatan, mana yang menjadi jalur ekonomi, dan mana yang kalau dibiarkan akan makin mahal diperbaiki.
Prioritas perbaikan juga tidak bisa hanya mengikuti suara paling ramai di media sosial. Keluhan warga penting, tapi kebijakan harus ditopang data. Jalan dengan volume lalu lintas tinggi, tingkat kerusakan berat, dan dampak ekonomi besar harus masuk daftar utama. Kalau tidak, perbaikan jalan bisa terasa tambal sulam dan tidak menyelesaikan masalah besar.
Pada akhirnya, Banjarbaru punya modal penting, yakni jaringan jalan yang panjang dan menyebar. Tapi modal itu harus dijaga. Kota yang tumbuh butuh jalan yang kuat. Jalan yang kuat butuh perawatan yang konsisten. Dan data 2025 menunjukkan pekerjaan rumahnya masih nyata, ada sekitar 420,59 km jalan rusak dan rusak berat bukan angka kecil, melainkan sinyal bahwa infrastruktur dasar harus dikawal lebih serius.
Kece People, jalan bukan sekadar tempat kendaraan lewat. Jalan adalah ukuran paling sederhana dari seberapa nyaman sebuah kota bergerak. Kalau jalannya baik, aktivitas warga ikut lancar. Kalau jalannya rusak, yang terasa bukan cuma guncangan di kendaraan, tapi juga beban di kehidupan sehari-hari.