Kece People, bayangin, kopi yang biasanya identik sama pahit dan asam, di sini malah hadir dengan rasa lembut, sedikit manis, dan yang paling penting—ramah di lambung. Jadi buat Kece People yang sering “skip kopi” gara-gara takut asam lambung naik, ini bisa jadi jawaban yang selama ini dicari.
Dari Iseng, Jadi Jalan Rezeki
Cerita di balik kopi ini juga nggak kalah menarik. Ada sosok kreatif bernama Bashori dari Desa Sebuntal. Awalnya? Cuma iseng. Tapi siapa sangka, dari keisengan itu malah jadi sumber penghasilan keluarga.
“Awalnya cuma iseng aja, eh malah jadi sumber penghasilan tambahan untuk keluarga,” cerita Bashori.
Sehari-hari, beliau memang sudah akrab dengan buah nipah. Tapi siapa sangka, dari buah yang dulu dianggap biasa aja, kini berubah jadi produk bernilai tinggi. Bersama sang istri, mereka olah sendiri di rumah—pelan-pelan, tapi penuh kesabaran.
Prosesnya Nggak Main-Main, Penuh Perjuangan
Jangan bayangin prosesnya instan, Kece People. Buah nipah itu keras, jadi harus dipukul dulu pakai palu. Setelah itu, bijinya dipisah, dipotong, lalu dijemur sampai kering.
Belum selesai. Biji nipah itu kemudian disangrai selama kurang lebih empat jam—lama, tapi di situlah rahasia aromanya keluar. Setelah itu, baru digiling jadi bubuk kopi siap seduh.
Dan hasilnya? Wah, ini yang bikin beda. Rasanya unik, ada manis alami, aroma rempah yang lembut, dan yang paling penting—nggak bikin perut “protes”.
“Kopi nipah ini unik banget, padahal nggak dicampur rempah-rempah. Ini murni dari buah nipah, lho,” ujar Bashori.
Aman di Lambung, Nikmat di Lidah
Nggak cuma Bashori yang bangga, para penikmatnya juga mulai jatuh cinta. Salah satunya Hepi Syahrizal Hasyim.
“Rasanya khas, ada aroma nipah yang lembut dan nggak asam. Nikmat sekali,” kata Hepi.
Buat yang punya masalah asam lambung, ini seperti nemu “jalan tengah”—tetap bisa ngopi tanpa rasa khawatir. Mantap banar, kan?
Dari Pesisir untuk Dunia
Kini, kopi nipah bukan cuma dinikmati warga lokal. Perlahan tapi pasti, popularitasnya mulai naik. Bahkan sudah ada kerja sama dengan BUMDes setempat untuk memperluas pemasaran.
Ini bukti nyata, Kece People—bahwa kekayaan alam lokal, kalau diolah dengan kreativitas dan ketekunan, bisa jadi sesuatu yang luar biasa.
Dari pesisir sederhana di Kukar, kopi nipah hadir bukan cuma sebagai minuman… tapi sebagai cerita. Cerita tentang usaha, tentang harapan, dan tentang bagaimana hal kecil bisa jadi besar.
Jadi, kalau suatu hari lo lagi pegang secangkir kopi nipah, ingat aja—ini bukan sekadar kopi. Ini rasa dari alam, yang diolah dengan hati.
