Home Banjarbaru Dari Gunung Apam ke Kota Idaman, Sejarah Kota Banjarbaru yang Penuh Perjuangan

Dari Gunung Apam ke Kota Idaman, Sejarah Kota Banjarbaru yang Penuh Perjuangan

0
Sejarah Kota Banjarbaru dari Gunung Apam hingga resmi jadi kotamadia dan ibku kota provinsi. (FOTO: Ilustrasi)

Kece People, kalau hari ini kita lihat Banjarbaru dengan jalanan rapi, bandara megah, kampus berdiri gagah, jangan lupa… dulu di sini cuma perbukitan sunyi yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Iya, dari nama kue tradisional yang dijual di warung kecil pinggir jalan lintasan Banjarmasin–Martapura.

Konon ceritanya, para pendulang intan dari Cempaka dan sopir truk sering singgah melepas lelah sambil menyeruput kopi dan menikmati apam hangat. Dari warung sederhana itu, tumbuh perkampungan. Dari perkampungan, lahirlah harapan. Dan dari harapan, lahirlah Banjarbaru.

Mimpi Besar dr. Murdjani: Ibu Kota Ideal Tanah Kalimantan Selatan

Tahun 1950-an, seorang gubernur visioner bernama Murdjani punya kegelisahan. Ia melihat Banjarmasin yang berawa dan rawan penyakit sebagai pusat pemerintahan yang kurang ideal.

Sebagai dokter kesehatan masyarakat, ia berpikir jauh ke depan. Ia ingin pusat pemerintahan yang sehat, tertata, dan modern. Maka dimulailah survei lokasi, hingga akhirnya hatinya “tergadai” pada hamparan tanah padat yang kini kita kenal sebagai Banjarbaru.

Mungkin kalau dibikin plot twistnya seperti ini, “kira-kira lima ratus tahun yang lalu negeri Amerika Serikat, seperti kita kenal sekarang, hanya suatu impian yang indah. Akan tetapi berkat usaha orang-orang yang dapat melihat dalam jarak panjang, maka impian itu, telah menjadi kenyataan. Dan keyakinan seorang dr. Murdjani, bahwa Indonesia pun akan dapat mewujudkan cita-cita pembukaan dan pembangunan di Kalimantan Selatan”

Nama Banjarbaru: Tertulis Spontan, Melekat Selamanya

Cerita makin menarik saat perencana kota, D. A. W. Van der Pijl, kebingungan menulis nama di peta rancangan kota. Secara spontan ia menulis “Bandjar Baru”.

Nama itu awalnya tentatif. Sementara. Darurat situasi.

Tapi siapa sangka, nama itu justru melekat hingga kini. Tak ada yang menggugat. Tak ada yang menolak. Banjarbaru akhirnya resmi diusulkan lewat surat tertanggal 9 Juli 1954 kepada pemerintah pusat sebagai calon ibu kota Kalimantan.

Takdir sejarah kemudian berubah. Kalimantan dimekarkan menjadi empat provinsi. Rencana ibu kota Kalimantan di Banjarbaru pun terhenti. Tapi semangatnya? Kada pernah padam, lah.

23 Tahun Jadi Kota Administratif, Rekor yang Tak Main-Main

Kece People, Banjarbaru mencatat sejarah unik. Kota ini menyandang status Kota Administratif selama 23 tahun — salah satu yang terlama di Indonesia.

Perjuangan naik status bukan kaleng-kaleng. Resolusi DPRD, panitia penuntut kotamadia, lobi ke Jakarta, sampai doa bersama di mesjid dan musholla dilakukan.

Saat status Kotamadia akhirnya berhasil diperjuangkan lewat UU RI Nomor 9 Tahun 1999, suasana haru pecah di mana-mana.

27 April 1999: Titik Balik Sejarah

Momentum penting itu terjadi saat Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid melantik Akhmad Fakhrulli sebagai pejabat wali kota pada 27 April 1999. Resmilah Banjarbaru menjadi kotamadia.

Setahun kemudian, DPRD memilih Rudy Resnawan sebagai wali kota pertama hasil pemilihan demokratis.

Era baru pun dimulai.

Gawi Sabarataan: DNA Kota Banjarbaru

Moto “Gawi Sabarataan” bukan cuma slogan, tapi filosofi. Artinya kerja bersama, bahu-membahu, pemerintah dan masyarakat satu frekuensi.

Dari warung apam sederhana, dari tanah kosong tanpa nama, dari mimpi yang dulu dianggap terlalu besar — Banjarbaru berdiri hari ini sebagai Ibu Kota dengan identitas kuat.

Kece People, sejarah Kota Banjarbaru bukan sekadar deretan tanggal dan SK. Ini kisah tentang keberanian bermimpi, tentang tekad yang tak pernah redup, tentang orang-orang yang percaya bahwa tanah ini bisa jadi kota masa depan.

Sejarah sudah membuktikan. Tinggal kita lanjutkan.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version