Kece People, isu Stadion Internasional Kalimantan Selatan lagi hangat dibicarakan. Rencana pembangunan stadion berskala besar di kawasan Jalan Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, memang dinilai strategis karena hanya sekitar enam kilometer dari Bandara Internasional Syamsudin Noor. Tapi, bagi Rudy Resnawan, kedekatan dengan bandara saja belum cukup.
Menurut mantan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan dua periode itu, stadion megah tanpa konsep keberlanjutan hanya akan jadi bangunan besar yang sepi aktivitas.
“Gini loh sebenarnya kalau membangun stadion, stadion itu kita mengkaji belajar daripada stadion-stadion yang sudah dibangun di kota-kota lain itu satu kenapa begitu stadion tuh dibangun setelah dipakai untuk event tertentu sudah itu mati apakah Banjarbaru, Kalsel pengen kayak gitu,” ungkapnya.
Belajar dari GBK: Stadion Harus Hidup, Bukan Sekadar Megah
Rudy kemudian mencontohkan Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta. Menurutnya, stadion itu hidup karena berada di pusat kota dan dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas olahraga masyarakat, bukan hanya pertandingan sepak bola.
“Kita lihat gbk stadion senayan tuh letaknya di mana tengah kota jadi konsep membangun stadion itu jangan hanya untuk sepak bola saja, mati kalau tanpa ada kegiatan lain,” ucapnya.
Ia mempertanyakan, apakah masyarakat mau rutin datang ke Gambut jika stadion berdiri jauh dari pusat aktivitas dan tanpa integrasi fasilitas pendukung? Pian-pian pasti paham, Kece People, akses itu segalanya.
Soroti Lahan Rawa dan Risiko Jangka Panjang
Tak cuma soal lokasi, Rudy juga menyinggung aspek teknis. Ia mengingatkan bahwa kawasan tersebut merupakan lahan rawa dan dekat daerah resapan air.
“Pokoknya rawa di uruk itu nggak gampang belum tentu langsung jadi tanah itu belum langsung jadi dan itu berlokasi berdekatan dengan reservoir daerah resapan,” ujarnya.
Menurutnya, pengurukan rawa bukan perkara instan. Selain mahal, juga berpotensi menimbulkan persoalan ekologis maupun konstruksi di masa depan.
Jangan Jadi “Tempat Jin Buang Anak”
Rudy berbicara lugas soal lokasi stadion yang terlalu jauh dari pusat kota.
“Beberapa negara yang bangun stadium tuh di Kota dia bukan di pinggir Kota apalagi tempat jin buang anak,” tegas Wali Kota Banjarbaru periode 2000–2010 itu.
Terkait wacana pengembangan aerocity di sekitar bandara, ia menilai pembangunan stadion tidak bisa menggantungkan harapan pada kawasan yang belum tentu berkembang dalam waktu dekat.
“Kapan itu selesai 20 tahun belum tentu hidup, 20 25 tahun itu stadionnya dibangun di Kota di daerah yang tapi tentu memiliki akses yang mudah,” tandasnya.
Kece People, kritik ini bukan soal menolak pembangunan, tapi soal perencanaan matang. Stadion internasional tentu membanggakan, tapi lebih penting lagi memastikan ia hidup, ramai, dan bermanfaat jangka panjang — bukan sekadar bangunan megah yang sunyi. Mantap bah kalau direncanakan matang.




