- Advertisement -spot_img
23.5 C
Banjarbaru
BerandaBanjarbaruAnak Muda BanjarbaruBikin Gen Z Betah! Perpustakaan Diusulkan Jadi Ruang Kreatif dan Konten Digital

Bikin Gen Z Betah! Perpustakaan Diusulkan Jadi Ruang Kreatif dan Konten Digital

- Advertisement -spot_img

Kece People, siapa bilang generasi Z lebih suka bermain media sosial daripada membaca? Temuan terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda. Di tengah derasnya arus informasi digital, muncul pertanyaan menarik tentang bagaimana generasi muda membangun kebiasaan membaca dan mencari pengetahuan di era yang serba cepat seperti sekarang.

Data survei yang dirilis lembaga riset Jakpat menunjukkan bahwa generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif membaca dibandingkan generasi lainnya. Temuan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa anak muda saat ini semakin jauh dari dunia literasi.

Melihat potensi tersebut, Anggota MPR RI Atalia Praratya menilai sudah saatnya perpustakaan di Indonesia bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan generasi muda.

Menurut Atalia, perpustakaan tidak lagi cukup hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku. Ruang tersebut perlu berkembang menjadi pusat aktivitas kreatif yang mampu menarik minat generasi muda untuk datang, belajar, berdiskusi, dan berkarya.

“Perpustakaan bisa diubah menjadi coworking space (ruang kerja bersama atau ruang riung, red.) gratis, ruang komunitas, ruang diskusi publik, studio podcast (siniar, red.) sederhana, hingga ruang editing (penyuntingan, red.) video,” ujar Atalia dalam keterangannya.

Gagasan tersebut muncul karena pola belajar generasi saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Kece People, anak muda tidak lagi hanya mengandalkan buku cetak sebagai sumber informasi. Mereka terbiasa memperoleh pengetahuan melalui berbagai platform digital yang lebih cepat, visual, dan interaktif.

Klik Juga  Blak-blakan! Cara Gen Z Melihat Perang Bikin Banyak Orang Tersentak

Karena itu, Atalia juga mengusulkan agar perpustakaan mulai hadir di ruang-ruang digital yang akrab dengan keseharian Gen Z. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan literasi kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih relevan.

Klik Juga  Ditegur atau Didenda? Ini Aturan dan Bahaya Merokok Saat Berkendara

Tak hanya itu, ia menilai koleksi perpustakaan juga perlu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat modern. Selain buku fisik, perpustakaan dapat menyediakan berbagai sumber belajar digital yang lebih beragam.

Mulai dari siniar, video edukasi, buku elektronik, jurnal digital, infografis, hingga nawala dapat menjadi bagian dari koleksi yang membantu generasi muda mengakses informasi sesuai dengan kebiasaan mereka saat ini.

Menurut Atalia, perubahan tersebut penting untuk membangun citra baru perpustakaan di mata masyarakat.

“Jadi, citra yang ingin dibangun adalah perpustakaan sebagai ruang eksplorasi ide,” katanya.

Gagasan ini sejalan dengan hasil survei Jakpat yang menunjukkan bahwa sebanyak 26 persen Gen Z atau mereka yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012 memiliki minat terhadap aktivitas literasi. Angka tersebut menempatkan Gen Z sebagai generasi dengan tingkat ketertarikan membaca tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Menariknya, jenis bacaan yang disukai generasi ini juga cukup beragam. Selain buku fisik, mereka banyak mengonsumsi artikel di laman daring dan buku elektronik sebagai sumber pengetahuan.

Sementara itu, generasi milenial yang lahir pada periode 1981 hingga 1996 berada di posisi kedua dengan tingkat minat literasi sebesar 20 persen.

Atalia menilai tingginya minat baca Gen Z tidak lepas dari karakteristik mereka sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan perkembangan teknologi digital.

Klik Juga  HUT ke-27 Banjarbaru: Harapan Gen Z yang Relatable Banget

“Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi. Mereka cepat adaptasi, mengakses informasi secara instan, kritis terhadap isu sosial, serta memiliki karakter yang mandiri, kreatif, dan kolaboratif dalam belajar maupun berkarya,” ujarnya.

Kece People, temuan ini menjadi pengingat bahwa literasi tidak selalu identik dengan tumpukan buku tebal di rak perpustakaan. Di era digital, literasi hadir dalam berbagai bentuk dan platform. Tantangannya kini bukan lagi membuat generasi muda mau membaca, melainkan bagaimana menghadirkan ruang belajar yang sesuai dengan cara mereka mencari, mengolah, dan membagikan informasi.

Klik Juga  No Mercy! Negara Gaspol Lindungi Anak dari Bahaya Dunia Digital

Jika transformasi tersebut benar-benar terwujud, perpustakaan masa depan mungkin bukan hanya tempat mencari buku. Ia bisa menjadi ruang bertemu ide, tempat lahirnya karya kreatif, hingga pusat kolaborasi anak muda yang ingin belajar dan berkembang bersama.

(Red)

Facebook Comments Box

Update Berita Banjarbaru gak musti ribet dong? Yuk Kece People, gabung ke channel WhatsApp Banjarbaru Kece untuk dapetin informasi terbaru dengan cara yang mudah dan menyenangkan. untuk mendapatkan informasi kece yang simpel, bermanfaat dan menyenangkan.

Banjarbaru Kece - Keren dan Cerdas

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img
Facebook Comments Box