Kece People, siapa sangka camilan sederhana yang hampir selalu menemani waktu makan ternyata bisa berdampak pada kadar gula darah. Kerupuk memang tidak memiliki rasa manis, tetapi kandungan kalori dan karbohidratnya cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, camilan renyah ini tetap berisiko memicu lonjakan gula darah, bahkan menjadi perhatian bagi penderita diabetes.
Bagi banyak orang Indonesia, makan rasanya belum lengkap tanpa kerupuk. Bunyi kriuk saat digigit bahkan bisa membuat selera makan meningkat. Tak heran jika camilan satu ini hampir selalu tersedia di meja makan, mulai dari warung sederhana hingga restoran.
Sayangnya, kebiasaan tersebut sering membuat orang lupa bahwa kerupuk bukan sekadar pelengkap makanan. Meski ukurannya kecil, kandungan energinya cukup besar dan dapat memberikan tambahan kalori yang tidak sedikit dalam menu harian.
Kerupuk Didominasi Karbohidrat dari Tepung Tapioka
Salah satu jenis kerupuk yang paling banyak dikonsumsi masyarakat adalah kerupuk putih atau kerupuk kaleng. Bahan utamanya berupa tepung tapioka yang menjadi sumber karbohidrat sederhana.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari Natural Farm Indonesia, kerupuk putih mengandung sekitar 2,11 gram lemak, 0,83 gram protein, 10,4 gram karbohidrat, 57 miligram natrium, dan 9 miligram kalium per sajian. Setelah digoreng, kandungan lemaknya pun meningkat karena menyerap minyak.
Komposisi tersebut menjelaskan mengapa kerupuk menjadi makanan yang padat energi meskipun terlihat ringan.
Satu Kerupuk Bisa Mengandung Kalori yang Tidak Sedikit
Banyak orang mengira karena ukurannya kecil, kalori kerupuk juga rendah. Faktanya, satu keping kerupuk putih dengan berat sekitar 15 gram mengandung sekitar 65 kilokalori (kkal).
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, bahkan pernah mengingatkan masyarakat mengenai besarnya kandungan energi pada kerupuk putih.
“Satu kerupuk ini (kerupuk putih) setara dengan 65 kkal, jadi kalo 10 ini 650 kkal,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam unggahannya di Instagram.
Tak hanya kerupuk putih, jenis kerupuk lain juga memiliki kalori yang tinggi. Kerupuk kulit dapat mengandung sekitar 422 kkal, sedangkan kerupuk udang berkisar 500–540 kkal, tergantung komposisi dan proses pengolahannya.
Kalori yang tinggi tersebut berasal dari perpaduan karbohidrat tepung tapioka dan lemak hasil penyerapan minyak saat proses penggorengan.
Kenapa Kerupuk Bisa Memicu Gula Darah?
Meski tidak terasa manis, kerupuk tetap dapat memengaruhi kadar gula darah. Penyebab utamanya adalah kandungan karbohidrat sederhana yang mudah dipecah tubuh menjadi glukosa.
Saat dikonsumsi dalam jumlah banyak, glukosa akan masuk ke aliran darah dengan cepat. Bila tidak segera digunakan sebagai sumber energi, kelebihannya akan disimpan sebagai lemak. Kondisi ini dapat meningkatkan berat badan dan dalam jangka panjang memperbesar risiko obesitas.
Selain itu, kandungan serat pada kerupuk relatif rendah sehingga tidak banyak membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah.
Tak hanya itu, kandungan natrium yang cukup tinggi pada kerupuk putih juga perlu diperhatikan. Jika dikonsumsi berlebihan, natrium dapat meningkatkan retensi cairan dalam tubuh sehingga berpotensi menaikkan tekanan darah.
Penderita Diabetes Sebaiknya Lebih Berhati-hati
Kece People, bagi penderita diabetes, kerupuk bukanlah pilihan camilan yang ideal. Kandungan karbohidratnya yang tinggi dapat memicu peningkatan kadar gula darah apabila dikonsumsi secara berlebihan, apalagi jika dimakan bersamaan dengan makanan tinggi karbohidrat lainnya seperti nasi.
Bukan berarti kerupuk harus dihindari sepenuhnya. Konsumsinya tetap bisa dilakukan sesekali dalam porsi yang terbatas. Jika ingin memilih alternatif yang lebih baik, pertimbangkan kerupuk berbahan nabati yang lebih tinggi serat atau kerupuk yang diproses dengan cara dipanggang sehingga kandungan lemaknya lebih rendah dibandingkan kerupuk goreng.
Yang terpenting, jadikan kerupuk hanya sebagai pelengkap, bukan menu utama. Pola makan yang seimbang, kaya serat, protein, sayur, dan buah tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kadar gula darah sekaligus kesehatan tubuh secara keseluruhan.
