Home Ngomongin Data Analisis Banjir Kalimantan Selatan 2025: 452 Ribu Warga Terdampak, Banjar Paling Terluka

Banjir Kalimantan Selatan 2025: 452 Ribu Warga Terdampak, Banjar Paling Terluka

0
Wakil Gubernur Kalsel, Hasnuryadi saat menyalurkan bantuan dan dukungan moril terhadap warga terdampak banjir di Kabupaten Banjar pada Januari 2026 lalu. (FOTO: MC Kalsel)

Kece People, musim hujan di Kalimantan Selatan bisa jadi membawa cerita yang tak pernah benar-benar asing bagi warga Banua. Saat hujan deras, air mulai naik perlahan, sebagian orang mungkin berharap hujan lekas reda dan genangan segera surut.

Namun bagi banyak warga di Kabupaten Banjar dan sejumlah wilayah lainnya kala itu, banjir bukan cuma soal air yang masuk ke rumah, tapi tentang aktivitas yang terhenti, barang-barang yang terendam, dan rasa cemas yang datang hampir setiap tahun.

Dalam publikasi Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) membuka satu potret yang cukup menohok. Banjir masih menjadi bencana dengan dampak paling luas di Banua. Jumlah warga yang terdampak dan mengungsi akibat banjir mencapai 452.423 orang. Angka ini besar, bahkan terlalu besar kalau cuma dibaca sambil lalu.

Sebab setiap satu angka di sana punya wajah. Ada anak yang mungkin gagal masuk sekolah karena seragamnya basah. Ada ibu yang harus mengangkat kasur, kompor, dan dokumen keluarga ke tempat lebih tinggi. Ada bapak yang hari kerjanya hilang karena rumah tak bisa ditinggal. Hidup mendadak harus ditata ulang, bukan karena malas berencana, tapi karena air datang duluan.

Banjir di Kalsel 2025 452 Ribu Warga Terdampak, Banjar Paling Terluka 1
Jumlah Korban yang Diakibatkan Bencana Alam Menurut Kabupaten/kota dan Jenis Bencana Alam di Provinsi Kalimantan Selatan (orang), 2025. (Sumber: BPS, Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2026)

Dari data BPS melalui publikasi Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2026 mencatat bahwa banjir di Banua terdokumentasi sebanyak 2 orang luka-luka dan 452.423 warga terdampak atau mengungsi.

Dari seluruh wilayah yang tercatat, Kabupaten Banjar menjadi titik paling berat pada tahun 2025 lalu. Ada sebanyak 276.472 warga Banjar terdampak dan mengungsi akibat banjir.

Kalau dibaca pelan-pelan, ini bukan angka kecil, Kece People. Lebih dari separuh warga terdampak banjir di Kalimantan Selatan berada di satu kabupaten: Banjar.

Banjir memang sering disebut bencana tahunan. Tapi bagi warga yang rumahnya kemasukan air, kata “tahunan” bukan berarti biasa saja. Setiap banjir datang, ada rasa waswas yang berulang. Ada barang yang kembali rusak. Ada tabungan yang kembali terkuras. Ada rasa capek yang susah diceritakan, karena tiap musim air naik, perjuangannya dimulai dari awal lagi.

Selain itu dampak banjir juga terbaca dari kondisi rumah warga dimana, BPS mencatat kerusakan dan rumah terendam akibat banjir di Kalimantan Selatan adalah 49 rumah rusak berat, 191 rumah rusak sedang, 210 rumah rusak ringan, dan 94.763 rumah terendam.

Jumlah Kerusakan Rumah yang Diakibatkan Bencana Alam Menurut Kabupaten/kota dan Jenis Bencana Alam di Provinsi Kalimantan Selatan (unit), 2025. (Sumber: BPS, Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2026)

Rumah, dalam cerita bencana, bukan cuma bangunan. Ia tempat orang menyimpan foto keluarga, ijazah, pakaian anak, beras, obat, dan harapan kecil untuk hidup yang tenang. Ketika rumah terendam, yang basah bukan hanya lantai. Kadang yang ikut tenggelam adalah rasa aman.

Dan Kabupaten Banjar kembali muncul sebagai wilayah dengan rumah terendam paling banyak, yakni ada 49.618 rumah di Banjar yang terendam banjir. Artinya hampir 50 ribu rumah, hampir 50 ribu ruang hidup, hampir 50 ribu cerita keluarga yang harus berhadapan dengan air.

Wilayah lain juga tidak bisa dipandang ringan. Tanah Laut mencatat 43.349 warga terdampak atau mengungsi, Barito Kuala 37.731, Balangan 23.981, Hulu Sungai Utara 23.758, dan Hulu Sungai Tengah 22.635. Dari sisi rumah terendam, setelah Banjar, jumlah besar tercatat di Barito Kuala dengan 12.247 rumah, Tanah Laut 10.429 rumah, Hulu Sungai Utara 9.163 rumah, dan Balangan 7.344 rumah.

Kece People, catatan ini penting dibaca bukan hanya sebagai dokumentasi resmi, tetapi juga sebagai alarm sosial. Banjir di Kalimantan Selatan bukan sekadar urusan cuaca, debit air, atau peta rawan bencana. Ini soal manusia.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah banjir datang atau tidak.

Pertanyaannya adalah seberapa siap kampung, kota, keluarga, dan pemerintah ketika air datang lagi? Sebab banjir yang berulang akan selalu meninggalkan jejak, meski airnya sudah surut. Ada lumpur yang bisa dibersihkan, tapi ada trauma dan kerugian yang perlu waktu lebih lama untuk pulih.

Bagi warga Banjar dan daerah lain yang terdampak, angka-angka di tabel BPS itu mungkin terasa dingin. Tapi justru dari angka dingin itulah kita bisa melihat cerita yang panas dan dekat yaitu tentang rumah yang terendam, keluarga yang mengungsi, anak-anak yang menunggu jalan kering, dan orang tua yang berharap tahun depan air tidak datang setinggi sebelumnya.

(Abe/red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version