Home Banjarbaru AI Masuk Kantor, Mengapa Perilaku Karyawan Justru Bisa Makin Negatif?

AI Masuk Kantor, Mengapa Perilaku Karyawan Justru Bisa Makin Negatif?

0
AI di tempat kerja tingkatkan efisiensi, tapi bisa picu perilaku negatif karyawan. (Ilustrasi)

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah, S.Psi, M,Psi

  • Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat
  • Mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung

Kece People. Artificial Intelligence (AI) kini semakin umum digunakan di tempat kerja. Penggunaannya bisa beragam, mulai dari percakapan atau obrolan seperti manusia (chatbot), otomatisasi tugas, hingga sistem yang membantu dalam menulis, menganalisis, dan mengambil keputusan. Secara teori, semua hal ini tampak menjanjikan karena seharusnya dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien.

Namun, kemudahan teknis tidak otomatis membuat suasana kerja ikut membaik. Beberapa laporan global menunjukkan bahwa penggunaan AI di tempat kerja meningkat pesat, tetapi penelitian psikologi organisasi dan laporan ketenagakerjaan juga mengingatkan bahwa kehadiran AI dapat memunculkan tekanan baru, yakni kecemasan soal peran kerja, rasa terus diawasi, target yang makin tinggi, hingga relasi kerja yang terasa lebih dingin dan transaksional.

Dalam hal ini, paradoks muncul, yaitu di satu sisi teknologi hadir untuk membantu, namun di sisi lain orang-orang dalam sistem mungkin tidak merasa lebih nyaman. Ketika AI digunakan tanpa kejelasan, empati, atau rasa aman bagi karyawan, yang dihasilkan bukan hanya efisiensi, tetapi juga ketegangan.

Lalu, pertanyaannya menjadi semakin penting, yaitu mengapa teknologi yang seharusnya membantu justru bisa memicu perilaku negatif di tempat kerja?

AI Masuk, Suasana Kerja Tidak Selalu Positif

Masuknya AI ke tempat kerja tidak selalu menimbulkan konflik besar. Sering kali, tanda-tandanya muncul secara bertahap dalam sikap sehari-hari, seperti karyawan menjadi lebih sinis terhadap kebijakan perusahaan, enggan berbagi informasi, lebih menolak perubahan, konflik kecil meningkat lebih cepat, dan mereka akhirnya hanya melakukan yang sekadarnya.

Ungkapan seperti “Mengapa repot-repot menganggapnya serius? AI akan menggantikan kita juga” mungkin terdengar seperti lelucon, tetapi hal itu bisa menjadi tanda bahwa rasa ketidakamanan mulai tumbuh di tempat kerja.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa perubahan teknologi di tempat kerja mungkin meningkatkan efisiensi, tetapi juga dapat menimbulkan stres psikologis baru, terutama ketika perubahan tersebut terjadi tanpa komunikasi dan dukungan yang jelas.

Penelitian psikologi organisasi menunjukkan bahwa ketidakamanan, ambiguitas peran, dan rasa kehilangan kendali dapat mengurangi keterlibatan kerja serta membuat hubungan antarkaryawan menjadi lebih jaga jarak dan defensif.

Oleh karena itu, sinisme, penolakan, penyembunyian informasi, atau kecenderungan untuk hanya melakukan “yang minimal” tidak boleh dengan terburu-buru ditafsirkan sebagai masalah individu semata. Dalam banyak kasus, gejala-gejala ini sebenarnya mengarah pada pola yang lebih besar, yakni organisasi berubah lebih cepat daripada kesiapan orang-orang di dalamnya untuk menghadapinya.

Respons Psikologis yang Tak Kasat Mata

Dari sudut pandang psikologi organisasi, salah satu kuncinya adalah ketidakamanan pekerjaan, yaitu tidak merasa aman tentang peran, posisi, dan masa depan di tempat kerja. AI tidak hanya dilihat sebagai alat bantu, tetapi juga bisa diartikan sebagai sinyal bahwa pekerjaan tertentu bisa diganti, dipersempit, atau dievaluasi ulang.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa perubahan teknologi di tempat kerja dapat membuat orang merasa kurang aman tentang pekerjaan mereka, terutama ketika perubahan tersebut terjadi tanpa penjelasan yang cukup, pelatihan, atau kepastian tentang apa yang sebenarnya akan berubah bagi pekerja. Dalam situasi seperti itu, orang cenderung berhenti berpikir tentang “bagaimana cara bekerja lebih baik” dan mulai berpikir tentang “apakah saya masih perlu bekerja?”

Pada titik ini, keamanan psikologis sangat penting. Ketika karyawan tidak merasa aman secara psikologis, mereka lebih cenderung takut membuat kesalahan, terlihat kurang mampu, atau digantikan. Akibatnya, respons yang muncul sering kali tidak terbuka, tetapi defensif, seperti menahan informasi, menjaga jarak, tidak ingin mencoba sesuatu yang baru, atau bersikap sinis terhadap kebijakan organisasi.

Karena itu, masalah utamanya sering kali bukan pada AI itu sendiri, melainkan pada bagaimana AI dihadirkan dalam kondisi psikologis yang tidak aman. AI seharusnya bisa dikelola secara strategis sehingga dapat memperkuat pemantauan, evaluasi, dan seberapa besar tekanan kerja, yang pada akhirnya dapat meminimalisir risiko psikososial di organisasi.

Jadi, ketika ada perlawanan, penarikan diri, atau skeptisisme, itu tidak selalu berarti bahwa karyawan malas atau tidak ingin berubah. Ini bisa menjadi reaksi manusia yang sangat normal ketika ancaman tampak besar, namun perasaan aman tidak tumbuh.

AI Bukan Masalah, Tapi Bagaimana Organisasi Mengelolanya

Banyak organisasi saat ini tampaknya mengadopsi AI dengan sangat cepat karena dua alasan yang paling mudah dilihat, yakni efisiensi dan produktivitas. Teknologi baru menjanjikan percepatan pekerjaan, penghematan uang, dan pemudahan pencapaian tujuan. Namun, di balik semangat itu, ada sisi yang sering tertinggal, yakni komunikasi tentang perubahan organisasi, kejelasan tentang peran mana yang berubah dan mana yang tetap dibutuhkan, kesempatan pelatihan, serta rasa aman karyawan untuk beradaptasi tanpa merasa sedang menuju ketidakpastian.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa perubahan dalam teknologi bukan hanya tentang alat, tetapi juga tentang bagaimana pekerja melihat ancaman, kontrol, dan masa depan mereka di dalam organisasi.

Di sinilah masalahnya menjadi lebih dalam. Ketika teknologi diperkenalkan dengan cepat namun dengan komunikasi yang minim, pelatihan yang terbatas, dan arah perubahan yang tidak jelas, karyawan lebih cenderung melihat AI bukan sebagai dukungan, tetapi sebagai sinyal ancaman.

Padahal, banyak laporan mengingatkan bahwa transisi teknologi bukan hanya tentang menginstal sistem baru, tetapi juga tentang meningkatkan dan mengubah keterampilan. World Economic Forum mencatat bahwa perubahan keterampilan akibat transformasi kerja akan terus berlanjut, sehingga penting dukungan reskilling dan upskilling agar pekerja dapat bekerja efektif bersama AI. Dengan kata lain, tantangannya bukan hanya membawa teknologi, tetapi juga memastikan orang-orang siap agar tidak merasa tertinggal oleh teknologi tersebut.

Kritik sebagai bahan introspeksi yaitu bahwa teknologi diperkenalkan dengan cepat, tetapi kesiapan psikologis karyawan sering kali diabaikan. Organisasi bisa sangat serius menghitung percepatan kerja, tetapi juga harus serius membangun rasa aman, menjelaskan perubahan, dan menyiapkan keterampilan baru. Dengan demikian, kehadiran inovasi jangan sampai menghadirkan pula kecemasan yang dapat mengubah perilaku sehari-hari di tempat kerja ke arah negatif.

Bagaimana sebaiknya organisasi bersikap dan bertindak?

AI seharusnya tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang efisiensi, tetapi juga sebagai proses perubahan. Karena itu, langkah awal yang terdengar mudah namun sering kali memiliki tantangan berat adalah melakukan komunikasi dan bersikap transparan, yakni karyawan perlu tahu untuk apa AI digunakan, pekerjaan mana yang akan berubah, apa pekerjaan atau tugas yang tetap membutuhkan karyawan, dan bagaimana peran organisasi dalam mendampingi karyawan dalam proses perubahan.

Selanjutnya, memperkuat rasa aman psikologis karyawan. Karyawan perlu merasa aman dalam mengemukakan pertanyaan dan pendapat, tidak sungkan mengakui kebingungan maupun kesulitan yang dihadapinya, berani mencoba hal baru, dan bahkan tidak takut melakukan kesalahan dalam proses belajar, tanpa takut dievaluasi negatif atau bakal mendapatkan perlakuan negatif dari organisasi.

Organisasi juga harus serius tentang pelatihan dan peningkatan keterampilan. Adopsi AI dalam pekerjaan hampir pasti membutuhkan keterampilan baru, baik keterampilan teknis maupun pemahaman umum tentang AI itu sendiri, dan pelatihan dilaksanakan dengan tujuan agar pekerja siap menghadapi perubahan tempat kerja yang digerakkan oleh AI. Oleh karena itu, adaptasi tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab individu karyawan, tetapi juga organisasi harus bisa menyediakan atau memfasilitasi jalur bagi karyawan untuk berkembang seiring dengan perubahan.

Di sinilah Kece People, peran pemimpin menjadi sangat penting. Pemimpin bukan hanya mengarahkan dan memberikan tuntutan perubahan pada bawahan, tetapi juga harus bisa memotivasi dan menginspirasi bawahan agar bersedia menerima dan belajar dalam proses perubahan.

Pemimpin juga perlu cerdas mengomunikasikan ke mana arah perubahan ini, menenangkan, bukan menakuti, bawahan, membuka ruang interpersonal, dan memastikan bahwa bawahan, meskipun berbeda dalam kecepatan belajar, tetap dapat mengikuti perubahan yang sedang terjadi. Perjalanan ke depan bukanlah memilih antara AI dan manusia, melainkan bagaimana AI dapat membantu manusia dan memastikan bahwa teknologi digunakan secara aman.

Teknologi bisa dibeli dan dijalankan, namun rasa percaya, rasa aman, dan keterlibatan kerja tidak muncul dengan sendirinya. Pertanyaannya: “Seberapa canggih AI yang digunakan? Apakah karyawan masih merasa dilibatkan, dipersiapkan, dan tidak ditinggalkan?

Facebook Comments Box
Exit mobile version