“Bunda, pinjam HP sebentar aja…”
Kalimat sederhana itu sekarang mungkin sudah jadi suara yang paling sering terdengar di banyak rumah, Kece People. Baru bangun tidur cari handphone, mau makan sambil nonton video, bahkan ada yang baru tenang kalau sudah memegang gadget di tangan. Pelan-pelan, layar kecil itu jadi “teman dekat” anak-anak setiap hari.
Padahal tanpa disadari, kecanduan gadget anak, screen time anak, dampak gadget pada anak, tips parenting, dan penggunaan gadget anak kini jadi isu yang makin sering dikhawatirkan banyak orangtua.
Di zaman serba digital seperti sekarang, gadget memang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bukan cuma orang dewasa, anak-anak pun sudah akrab dengan dunia layar sejak usia dini. Apalagi sejak masa pandemi lalu, ketika aktivitas belajar, bermain, hingga komunikasi banyak dilakukan lewat perangkat digital.
Namun di balik semua kemudahan itu, ada dampak yang diam-diam mulai muncul.
Melansir dr. Rurin Dwi Septiana, Sp.A dalam live bersama Doodle Exclusive Baby Care, penggunaan gadget pada anak memang meningkat drastis sejak masa pandemi lalu. Saat aktivitas tatap muka dibatasi, gadget menjadi kebutuhan penting untuk belajar, hiburan, hingga komunikasi sehari-hari.
Namun tanpa disadari, kebiasaan itu perlahan membuat banyak anak jadi sulit lepas dari layar.
Menurut dr. Rurin, anak-anak sebenarnya belum mampu memahami sepenuhnya isi yang mereka lihat di gadget. Mereka hanya tertarik pada gambar bergerak, video, dan game yang akhirnya memicu kecanduan.
“Karena anak-anak tidak mengerti isi dari handphone hanya tau main melihat gambar, game, yang jatuhnya pada kecanduan,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, bisa memberikan dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Mulai dari mata terasa pedih, tubuh cepat lelah, gangguan tidur, pola makan berantakan, hingga perubahan emosi pada anak.
Kada sedikit juga orangtua yang mulai kewalahan ketika anak marah besar saat gadget diambil. Padahal, perilaku seperti itu bisa menjadi tanda awal kecanduan layar.
Dalam penjelasannya, dr. Rurin juga mengingatkan bahwa Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebenarnya sudah memiliki rekomendasi durasi penggunaan gadget berdasarkan usia anak.
“Ada beberapa batasan-batasan berapa lamanya waktu yang dihabiskan anak untuk gadget. Karena Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah merelease rekomendasi untuk penggunaan gadget dibawah 1 tahun tidak disarankan sama sekali memainkan gadget, 1hingga 2 tahun boleh, tetapi tidak disarankan, 2 sampai 6 tahun punya waktu maksimal 1 jam memainkan gadget dalam sehari, 6 sampai 12 tahun memiliki waktu maksimal 1,5 jam dalam sehari, 12 sampai 18 tahun 2 jam dalam sehari. Coba diingat berapa lama waktu anak yang dihabiskan bersama gadget, inilah waktu yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Sering kali anak diusia dibawah 2 tahun ketika nangis yang diberikan gadget,” terangnya.
Dokter yang berpraktik di RS Permata Hati Palangkaraya tersebut menegaskan bahwa gadget sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Teknologi diciptakan untuk membantu manusia dan memiliki banyak manfaat positif jika digunakan dengan benar.
Masalah muncul ketika penggunaannya berlebihan dan tanpa pengawasan orangtua.
“Misalnya anak dibawah 5 tahun belum bisa mengartikan apa yang mereka lihat. Kemudian waktu anak melihat kenyataannya berbeda jauh dengan apa yang dilihat pada gadget. Secara fisik handphone memberikan radiasi yang membuat mata kering apalagi saat bermain game. Selain itu membuat jadwal makan dan tidur siang terganggu. Selain itu anak menjadi pemarah, karena handphone diambil. Jika terjadi secara terus menerus akan membuat mental anak dan orangtua menjadi tidak bagus,” tambahnya.
Lalu bagaimana cara mencegah anak kecanduan gadget?
Menurut dr. Rurin, langkah paling sederhana tapi penting adalah menerapkan screen time atau batas waktu penggunaan gadget setiap hari. Dengan begitu, anak punya aturan yang jelas kapan boleh bermain gadget dan kapan harus berhenti.
Selain itu, orangtua juga dianjurkan mendampingi anak saat menggunakan gadget. Jangan cuma diberikan lalu ditinggal begitu saja. Anak perlu diajak berbicara tentang apa yang sedang ditonton supaya tidak salah memahami informasi yang mereka lihat.
Karena pada dasarnya, mencegah jauh lebih mudah daripada mengatasi kecanduan yang sudah terlanjur berat.
Dr. Rurin juga menjelaskan beberapa tanda anak mulai kecanduan gadget. Mulai dari selalu mencari gadget di waktu luang, panik saat baterai habis, tidak tertarik bermain bersama teman, hingga sulit tidur karena terlalu lama bermain HP.
Yang menarik, menurutnya anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orangtua biasanya akan diikuti begitu saja oleh anak.
“Jika sudah kecanduan sedapat mungkin kembali ke screentime atau waktu yang boleh dilakukan saat menggunakan gadget. Tetapi tips yang lain anak terkadang belum dewasa dalam bentuk mini, mereka terkadang tidak mengerti tetapi anak-anak merupakan peniru yang ulung sehingga apa yang dilakukan orangtua pasti akan mengikuti. Berikanlah contoh jangan memegang gadget didepan anak-anak, jika ada telepon boleh saja diangkat tetapi jika whatshapp bisa dibalas dijam nanti. Diusahakan tidak memegang gadget sehingga anak-anak tidak meniru. Alihkan dengan kegiatan-kegiatan lain yang bisa dilakukan dengan anak,” terangnya.
Di akhir wawancara, dr. Rurin kembali mengingatkan bahwa gadget tetap memiliki sisi positif yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan, hiburan sehat, hingga mencari informasi.
Yang paling penting, orangtua harus lebih bijak mengatur pola penggunaan gadget sebelum anak benar-benar kecanduan dan sulit dikendalikan.
Karena di era digital sekarang, tantangannya bukan lagi menjauhkan anak dari teknologi, tapi bagaimana membuat mereka tetap tumbuh sehat, aktif, dan bahagia tanpa kehilangan dunia nyata di sekitarnya.






