Kece People, dari dapur sederhana yang penuh aroma rempah, cerita-cerita kecil biasanya lahir. Tapi kali ini, cerita itu tidak berhenti di meja makan—ia naik ke layar, hidup, dan mulai bicara ke dunia.
Di tengah riuhnya arus konten global, Festival Film Siswa-Santri 2026 hadir bukan sekadar ajang berkarya, tapi ruang baru bagi generasi muda Banjarbaru untuk meracik identitasnya sendiri. Lewat tema gastronomi, rasa tidak lagi hanya dinikmati—ia diceritakan, direkam, dan dihidupkan kembali dalam bentuk film.
Bukan tentang siapa yang menang. Tapi tentang siapa yang berani mulai bercerita.
Hal ini ditegaskan Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, arah festival ini memang berbeda sejak awal. Intinya, festival ini bukan ajang adu jago atau lomba kompetisi. Tujuannya lebih untuk memetakan potensi kreator muda, sebaran partisipasi, dan keterlibatan sekolah maupun komunitas. Dengan data itu, Komite Ekraf bisa tahu apa yang dibutuhkan kreator film Banjarbaru untuk langkah berikutnya.
“Dari nama eventnya adalah Festival (ke prosesnya), bukan Lomba (pada hasilnya). Ini tujuannya membangun ekosistem. Jadi arahnya kita tanam sebagai kebiasaan berkarya sejak dini, maka target peserta adalah siswa dan santri yang masih duduk dibangku sekolah,” ungkap Narwanto saat dihubungi.
Artinya jelas, Kece People—yang dicari bukan cuma siapa yang menang, tapi siapa yang mulai berkarya.
Menariknya, di tengah gempuran konten global, Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru justru memilih langkah merebut ruang digital sebagai arena baru pelestarian budaya, khususnya kuliner Banjar.
“Dari keberadaan ruang digital itu justru kita “rebut” menjadi ruang baru untuk melestarikan identitas budaya kota Banjarbaru,” terang Narwanto.
“Apalagi, Banjarbaru punya ruang Misbar yang belum maksimal pemanfaatannya,” tambahnya.
Bukan Salah Anak Muda, Tapi Kurang Dikenalkan
Kece People, biasanya kita sering mendengar narasi, generasi muda menjauh dari budaya. Namun bagi Narwanto perspektif tersebut dibalik.
“Bukan karena generasi muda menjauh, bisa jadi generasi sebelumnya juga kurang mengenalkan budaya tersebut. Dengan ini, kita bentuk bersama kesadaran kolektif, melalui pendekatan budaya dengan cara yang relevan bagi mereka,” jelasnya.
Sehingga pendekatannya bukan memaksa, tapi mengajak. Bukan menggurui, tapi menginspirasi.
Gastronomi: Cerita yang Paling Dekat
Mengangkat kuliner bukan tanpa alasan. Di balik setiap hidangan, tersimpan cerita yang tak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari.
“Gastronomi dipilih karena paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, punya kekuatan cerita, dan sekaligus membuka peluang kolaborasi antar subsektor di ekonomi kreatif,” ujarnya
Bagi penyelenggara, kuliner bukan hanya soal rasa. Ia adalah pintu masuk untuk memahami identitas, budaya, bahkan perjalanan hidup masyarakat Banjar.
“Jadi ini bukan sekadar pelestarian, tapi strategi untuk memastikan budaya Banjar tetap hidup,” terang Narwanto.
Bayangkan saja, dari sepiring Soto Banjar, bisa lahir cerita tentang keluarga, perjuangan, hingga jati diri sebuah daerah. Di situlah film menjadi medium yang menghidupkan kembali cerita-cerita sederhana menjadi karya yang bermakna.
Lebih seru lagi, ternyata festival ini tidak diposisikan sebagai ajang kompetisi semata. Justru sebaliknya, ia menjadi langkah awal untuk sesuatu yang lebih besar.
“Jadi, karena ini festival bukan lomba/kompetisi, jadi tujuannya kita dapat data untuk kita lanjut proses berikutnya,” ungkapnya.
Data yang dimaksud bukan sekadar angka peserta. Lebih dari itu, penyelenggara ingin memetakan keterlibatan sekolah, komunitas, hingga sebaran partisipasi kreator. Sehingga Komite Ekraf tahu apa yang dibutuhkan para kreator film di Banjarbaru.
Dengan pendekatan ini, festival menjadi fondasi untuk membangun ekosistem film yang lebih kuat dan berkelanjutan di Banjarbaru.
Mimpi Besar: Banjarbaru Kota Kreatif Dunia
Di balik rangkaian kegiatan ini, tersimpan visi besar yang sedang dirajut secara perlahan.
“Budaya menjadi salah satu elemen untuk tujuan narasi besarnya adalah Banjarbaru Kota Kreatif Dunia melalui kolaborasi lintas subsektor,” paparnya Narwanto.
Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat.
Namun, di tengah optimisme tersebut, penyelenggara tetap berpijak pada realitas.
Peran sebagai “penjahit” dan “jembatan” menjadi simbol penting bahwa kemajuan ekosistem kreatif tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus dirangkai bersama oleh berbagai pihak.
“Jujur kami tidak berani menjanjikan jaminan yang muluk-muluk. Disini posisi Komite Ekraf bisa disebut sebagai “penjahit”, bisa juga “jembatan” antara komunitas dengan pemerintah terutama unsur Hexahelix Ekraf,” tuturnya.
Oleh karena itu harapannya adalah komunitaslah yang lebih paham bagaimana membawa karya-karya para kreator film ini kedepan, sehingga langkah kolaborasi sangat diperlukan.
“Semoga Festival ini sebagai pemantik dimulainya ekosistem itu di Banjarbaru,” tandas Narwanto.
Jadi Kece People, festival ini mungkin baru langkah awal. Namun dari dapur-dapur sederhana hingga layar film, Banjarbaru sedang menulis ceritanya sendiri—menuju panggung dunia.




