Kece People, siapa sangka perjalanan mewah melintasi Samudra Atlantik yang mestinya dipenuhi panorama es Antartika dan petualangan laut ekstrem malah berubah jadi mimpi buruk yang bikin dunia waspada. Di atas kapal pesiar Hondius, wabah hantavirus mendadak muncul dan menewaskan tiga orang penumpang, sementara sejumlah lainnya mengalami gangguan pernapasan serius yang memicu perhatian internasional. Virus Andes, salah satu strain hantavirus paling berbahaya, kini ikut disorot karena diduga terkait dengan penyebaran misterius di tengah pelayaran panjang menuju Eropa itu.
Semua bermula dari kapal Hondius, kapal ekspedisi kutub yang sebelumnya membawa wisatawan menjelajahi Antartika hingga pulau-pulau terpencil di Atlantik Selatan. Perjalanan yang mestinya dipenuhi pemandangan es dan petualangan eksotis itu malah berubah mencekam. Satu per satu penumpang mengalami demam, nyeri tubuh, hingga sesak napas berat.
Yang bikin suasana makin tegang, penyakit yang menyerang mereka bukan flu biasa.
Itu adalah hantavirus. Virus langka yang dikenal mematikan dan biasanya berkaitan dengan hewan pengerat seperti tikus.
Kasus pertama diketahui menyerang seorang penumpang pria berusia 70 tahun. Ia mengalami demam dan gangguan pencernaan sebelum akhirnya meninggal saat kapal mendekati Pulau St. Helena. Tak lama kemudian, istrinya yang berusia 69 tahun ikut jatuh sakit dan meninggal di rumah sakit Afrika Selatan. Penumpang wanita asal Jerman juga dilaporkan meninggal dunia di atas kapal pada 2 Mei lalu.
Sementara itu, beberapa penumpang lain masih dirawat intensif di Johannesburg dan Zurich. Bahkan dokter kapal pun ikut diduga terpapar setelah merawat pasien selama perjalanan.
Kondisi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO turun tangan memantau situasi.

Hantavirus sendiri bukan virus baru, tetapi kemunculannya di kapal pesiar membuat banyak ahli kesehatan bingung sekaligus khawatir. Biasanya, virus ini ditemukan di daerah pedesaan, gudang tertutup, atau lokasi yang banyak terdapat tikus liar. Bukan di kapal wisata mewah yang sedang berlayar ribuan kilometer di tengah laut.
Virus ini menyebar terutama lewat partikel kecil dari urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terhirup manusia. Ruangan tertutup dengan ventilasi minim jadi tempat paling rawan penularan. Dalam kasus tertentu, terutama strain Andes yang ditemukan di Amerika Selatan, virus bahkan diduga bisa menular antar manusia lewat kontak dekat dalam waktu lama.
Nah, strain Andes inilah yang sekarang sedang diselidiki pada klaster kapal Hondius.
Bayangin aja, Kece People. Di kapal pesiar, ratusan orang tidur, makan, ngobrol, dan beraktivitas di ruang yang sama selama berminggu-minggu. Kalau benar ada penularan antarmanusia, kondisi kapal jadi tempat yang sangat ideal buat penyebaran virus.
Apalagi masa inkubasi hantavirus cukup panjang, bisa satu hingga delapan minggu. Artinya, seseorang bisa terlihat sehat saat turun kapal, lalu baru mengalami gejala setelah tiba di negara lain. Itu yang bikin proses pelacakan jadi ribet dan penuh ketidakpastian.
Menurut laporan penyelidikan awal, pasangan asal Belanda yang meninggal diduga sempat mengunjungi lokasi pembuangan sampah di Ushuaia, Argentina sebelum naik kapal. Tempat seperti itu memang dikenal berisiko tinggi karena sering menjadi habitat tikus liar pembawa virus.
Gejala awal hantavirus sebenarnya mirip flu biasa. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, hingga mual dan muntah. Tapi dalam kondisi berat, paru-paru bisa dipenuhi cairan hingga pasien kesulitan bernapas dan harus memakai ventilator.
Yang bikin ngeri, tingkat kematian beberapa jenis hantavirus bisa mencapai 40 persen atau bahkan lebih tinggi.
Ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan penyebaran hantavirus sangat berbeda dari pandemi COVID-19 maupun influenza karena virus tersebut menyebar melalui kontak langsung dan intim.
“Ini bukan Covid, ini bukan influenza, penyebarannya sangat berbeda,” ujar Van Kerkhove dalam konferensi pers WHO pada Kamis (7/5/2026) seperti dikutip dari BBC.
Sampai sekarang belum ada vaksin maupun obat antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan medis hanya fokus membantu pasien bertahan, terutama menjaga fungsi paru-paru dan organ tubuh lainnya.
WHO bersama otoritas kesehatan beberapa negara kini masih menyelidiki bagaimana sebenarnya virus itu menyebar di kapal Hondius. Apakah penularan terjadi sebelum keberangkatan, saat singgah di daratan, atau justru berlangsung selama pelayaran.
Yang jelas, wabah ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular bisa muncul di tempat yang tak pernah diduga.
Di tengah dunia yang makin terhubung lewat perjalanan internasional, satu virus kecil saja bisa membawa kepanikan lintas negara dalam hitungan hari. Dan kali ini, cerita itu datang dari tengah laut yang dingin dan jauh dari keramaian.