Kece People, banjir di Kalimantan Selatan bukan sekadar cerita tentang air yang naik, jalan yang tergenang, atau rumah yang basah. Di balik angka besar ini, ada keluarga yang harus menyelamatkan barang-barang penting, anak-anak yang aktivitas sekolahnya terganggu, orang tua yang kehilangan hari kerja, dan warga yang terpaksa mengungsi karena rumah mereka tidak lagi aman untuk ditempati.
Berdasarkan publikasi BPS Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2026, banjir di Kalsel pada 2025 mencatat dampak yang sangat luas. Sebanyak 452.423 warga terdampak/mengungsi, 2 orang luka-luka, dan 94.763 rumah terendam. Angka ini menunjukkan bahwa banjir bukan hanya peristiwa tahunan yang datang lalu pergi, tetapi persoalan kemanusiaan yang menyentuh langsung kehidupan warga Banua.
Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan dampak paling berat. Tercatat 276.472 warga terdampak/mengungsi dan 49.618 rumah terendam di wilayah ini. Artinya, lebih dari separuh warga terdampak banjir di Kalimantan Selatan berasal dari Kabupaten Banjar. Ini bukan angka kecil, ini alarm besar.
Wilayah lain juga ikut merasakan dampaknya. Tanah Laut, Barito Kuala, Balangan, Hulu Sungai Utara, hingga Hulu Sungai Tengah masuk dalam daftar daerah dengan warga terdampak cukup besar. Sementara rumah terendam terbanyak setelah Banjar tercatat di Barito Kuala, Tanah Laut, Hulu Sungai Utara, dan Balangan.
Data ini penting dibaca bukan hanya sebagai statistik, tapi sebagai pengingat bahwa mitigasi bencana, tata ruang, kesiapan infrastruktur, dan perlindungan warga harus menjadi prioritas. Sebab ketika banjir datang, yang terdampak bukan hanya rumah, tapi juga rasa aman, ekonomi keluarga, pendidikan anak, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2026. Data kebencanaan bersumber dari BNPB, pembaruan per 21 Februari 2026.
