Home Banjarbaru Anak Muda Banjarbaru Penambang Intan dan Anak Muda, Duet Baru Bubuhan Pumpung Creative

Penambang Intan dan Anak Muda, Duet Baru Bubuhan Pumpung Creative

0
Duet penambang intan dan anak muda lewat Bubuhan Pumpung Creative atau BPKraf untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis cerita lokal. (Foto: Nar)

Kece People, kalau mendengar kata Pumpung Creative Space, mungkin yang langsung terbayang adalah ruang kreatif, anak muda, atau aktivitas ekonomi kreatif. Namun di balik itu, Pumpung punya harta karun yang jauh lebih lama hidup, yaitu cerita para penambang intan Pumpung dan pengalaman masyarakat yang tumbuh bersama kawasan tersebut.

Cerita itulah yang kini coba dirangkai dengan energi generasi muda melalui Komunitas Bubuhan Pumpung Creative alias BPKraf, komunitas yang diinisiasi Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif dari masyarakat setempat.

Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, mengatakan pembentukan komunitas tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk melibatkan masyarakat Pumpung secara langsung dalam pengembangan berbagai potensi lokal.

“Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru menginisiasi membentuk Komunitas Bubuhan Pumpung Creative atau BPKraf yang menjadi bagian dari inisiatif awal,” kata Narwanto saat dihubungi.

Konsepnya cukup menarik. Masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton ketika kampungnya dikembangkan menjadi kawasan kreatif dan wisata. Mereka justru menjadi bagian dari cerita, sekaligus orang-orang yang punya peran dalam menentukan bagaimana potensi Pumpung diperkenalkan.

Di sinilah para penambang intan mendapat posisi yang penting.

Penambang Intan Bukan Sekadar Masa Lalu

Bagi Pumpung, penambang intan bukan hanya bagian dari sejarah yang tersimpan dalam cerita lama. Mereka menyimpan pengalaman langsung tentang bagaimana kehidupan di kawasan tersebut berjalan dari waktu ke waktu.

Pengalaman menggali, memahami lingkungan, mengenal kawasan, hingga cerita kehidupan masyarakat di sekitar aktivitas pertambangan tradisional merupakan pengetahuan yang tidak selalu bisa ditemukan dalam buku.

Narwanto melihat pengalaman tersebut sebagai modal yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan wisata berbasis masyarakat.

Dengan pendekatan ini, cerita yang selama ini mungkin hanya berpindah dari mulut ke mulut punya kesempatan untuk naik kelas. Ia dapat dikemas menjadi pengalaman wisata, materi edukasi, dokumentasi, konten digital, hingga berbagai produk kreatif.

Jadi, jangan heran kalau suatu saat cerita tentang Pumpung bukan hanya soal di mana intan ditemukan, tetapi juga siapa yang menggali, bagaimana kehidupan para penambang, dan seperti apa perjalanan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Kemudian siapa yang akan membawa cerita tersebut ke generasi berikutnya? Salah satu jawabanya adalah anak muda Pumpung.

Generasi muda didorong mengambil peran dalam berbagai bidang yang dekat dengan kreativitas dan teknologi. Mulai dari dokumentasi, pemanduan wisata, seni, konten digital, gastronomi, pengelolaan kegiatan hingga pengembangan produk kreatif.

“Para penambang dan masyarakat yang memiliki pengalaman langsung menjadi sumber pengetahuan dan cerita. Generasi muda kemudian didorong untuk mengambil peran dalam dokumentasi, pemanduan, seni, konten digital, gastronomi, pengelolaan kegiatan, hingga pengembangan produk kreatif,” tandasnya.

Warga Bukan Penonton, Tapi Pemain

Pembagian peran tersebut seperti mempertemukan dua dunia.

Para penambang dan masyarakat senior membawa cerita yang mereka alami sendiri. Sementara anak muda memiliki kemampuan untuk mengemas cerita tersebut menggunakan bahasa dan medium yang lebih dekat dengan zaman sekarang.

Cerita yang dulu mungkin hanya disampaikan saat duduk santai di rumah atau warung, kini bisa saja berubah menjadi video pendek, tur pengalaman, karya seni, konten media sosial, produk kreatif, atau agenda komunitas.

Dengan begitu, modernisasi tidak harus membuat cerita lama hilang. Justru teknologi dan kreativitas bisa menjadi kendaraan agar cerita tersebut semakin jauh dikenal.

Gagasan ini sekaligus memperkuat konsep Pumpung Creative Space yang sebelumnya diarahkan sebagai ruang masyarakat untuk berkarya, belajar, berdiskusi, menampilkan kebudayaan, mengembangkan gastronomi lokal dan membangun kemandirian komunitas.

Artinya, ruang kreatif tersebut bukan sekadar tempat untuk membuat acara lalu selesai. Ada ekosistem yang ingin dibangun agar masyarakat dapat mengambil manfaat dari potensi daerahnya sendiri.

Kreativitas menjadi pintunya, sementara masyarakat menjadi penggeraknya.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan rencana menjadikan kawasan Pumpung sebagai titik awal Cempaka Living Museum. Dalam gagasan ini, masyarakat lokal tidak sekadar menjadi objek yang dipertontonkan kepada wisatawan.

Mereka justru diharapkan menjadi pelaku utama yang menciptakan pengalaman dan nilai dari kampungnya sendiri.

Jika konsep tersebut berjalan, maka pengalaman berkunjung ke Pumpung nantinya bukan hanya soal datang, melihat lokasi, lalu pulang membawa foto.

(red)

 

Facebook Comments Box
Exit mobile version