Kece People, kalau bicara tentang Pangeran Mohammad Noor, maka kita sedang membuka lembaran penting sejarah Kalimantan dan Indonesia.
Berdasarkan Keputusan Presiden tanggal 6 November 2008, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh bangsa. Salah satunya adalah Mohammad Noor—atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Mohammad Noor—satu-satunya wakil dari Kalimantan.
Lahir di Martapura, Kalimantan Selatan, pada 24 Juni 1901, Mohammad Noor berasal dari kalangan bangsawan Kesultanan Banjar. Namun, gelar ningrat bukan sekadar status. Ia membuktikan diri lewat pendidikan dan perjuangan.
Sebagai pemuda cerdas di era kolonial, Noor berkesempatan menempuh pendidikan tinggi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Di sana, ia pernah berjumpa dengan Soekarno yang kelak menjadi Presiden pertama RI. Tahun 1927, Mohammad Noor lulus sebagai insinyur sipil—bahkan tercatat sebagai sarjana pertama asal Kalimantan. Mantap banar, Kece People!
Kariernya dimulai sebagai teknokrat di Departement Verkeer en Waterstaat, menangani persoalan irigasi di Tegal, Malang, hingga Batavia. Tahun 1933, ia kembali ke Banjarmasin, membenahi sistem irigasi sekaligus terjun ke dunia politik sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia), menggantikan ayahnya, Pangeran Ali.
Peran strategisnya makin terlihat saat masa pendudukan Jepang. Dilansir dari Historia.id, Mohammad Noor dipercaya memegang jabatan penting di bidang pekerjaan umum. Hingga akhirnya, namanya tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam catatan Mohammad Yamin di buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, namanya tertulis sebagai wakil Kalimantan.
“Sebagai gubernur pertama (Noor) luar biasa. Beliau memiliki jasa besar mempersatukan pejuang di Kalimantan,” ujar sejarawan Sulawesi Selatan, Taufik Ahmad dikutip dari Historia.id.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, Mohammad Noor dipercaya menjadi Gubernur pertama Kalimantan—yang kala itu masih disebut Borneo. Tugasnya bukan perkara ringan. Wilayah luas, kondisi politik belum stabil, dan semangat perjuangan masih berkobar di berbagai daerah.
Namun dengan ketegasan dan visi persatuan, ia berhasil merajut kekuatan para pejuang di Kalimantan. Sosoknya bukan hanya administrator, tapi pemersatu.
Kece People, kisah Pangeran Mohammad Noor adalah pengingat bahwa dari tanah Banjar lahir tokoh besar yang kontribusinya bergema hingga tingkat nasional. Bukan sekadar nama jalan atau monumen, tapi warisan pemikiran dan perjuangan.
Sejarah ini bukan untuk dikenang sesaat, tapi untuk dibanggakan dan diwariskan. Karena dari Martapura, pernah lahir seorang insinyur, negarawan, dan pahlawan nasional yang menyatukan Kalimantan.
