Kece People, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Banjarbaru pada tahun dinilai cenderung lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Cuaca panas, kondisi lahan yang mengering, hingga hembusan angin membuat kebakaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman di sejumlah kawasan Banjarbaru 2026, terutama ketika api muncul di lahan terbuka.
Media dan Humas Barisan Pemadam Kebakaran Batra (BPK Batra) Loktabat Utara, Banjarbaru, Muhammad Andika Fasha, mengatakan timnya masih cukup sering turun menangani kebakaran lahan selama musim kemarau.
Bagi para relawan pemadam, laporan titik api berarti harus segera bergerak. Sebab kebakaran lahan tidak selalu datang dengan tanda-tanda besar. Api kecil yang dibiarkan dapat merambat mengikuti kondisi vegetasi dan permukaan tanah yang kering.
“Untuk kondisi Karhutla di wilayah Banjarbaru saat ini, khususnya berdasarkan penanganan yang kami lakukan di lapangan, situasinya masih perlu mendapat perhatian serius,” kata Andika saat dihubungi.
Menurut Andika, kombinasi suhu tinggi, angin dan kondisi lahan yang kering menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Karena itu, BPK Batra terus meningkatkan kesiapsiagaan, terutama untuk merespons laporan masyarakat di wilayah Loktabat Utara dan kawasan sekitarnya.
4 Wilayah Jadi Titik Waspada
Dari pengalaman penanganan di lapangan, sejumlah kawasan Banjarbaru dinilai memiliki tingkat kerawanan yang perlu diperhatikan. Setidaknya ada empat kecamatan yang masuk perhatian, yakni Cempaka, Landasan Ulin, Liang Anggang dan Banjarbaru Selatan.
Beberapa kelurahan juga disebut cukup sering menghadapi kejadian kebakaran lahan. Guntung Manggis dan Landasan Ulin Timur menjadi dua kawasan yang turut mendapat perhatian.
“Wilayah yang cukup rawan saat ini antara lain Kecamatan Cempaka, Landasan Ulin, Liang Anggang, dan Banjarbaru Selatan,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan tersebut, kondisi ini menjadi pengingat agar tidak lengah. Apalagi ketika lahan mulai kering dan angin bertiup cukup kuat, api bisa bergerak lebih cepat dari perkiraan.
Api Cepat Menjalar, Air Malah Terbatas
Memadamkan Karhutla bukan perkara datang, semprot air, lalu beres. Medan yang dihadapi petugas sering kali jauh dari kata mudah.
Akses menuju titik kebakaran menjadi salah satu persoalan. Lokasi yang sulit dijangkau kendaraan dapat membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang.
Belum lagi persoalan sumber air. Ketika lokasi kebakaran jauh dari sumber air, petugas harus mencari cara agar suplai air tetap tersedia. Dalam kondisi lahan yang sangat kering, kebutuhan penanganan pun bisa semakin besar.
“Dalam penanganannya, kami juga menghadapi beberapa kendala, seperti akses menuju lokasi yang sulit, sumber air yang terbatas, serta kondisi lahan yang cukup kering sehingga api terkadang cepat menjalar dan sulit dipadamkan,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, BPK Batra tetap berupaya memberikan respons secepat mungkin ketika laporan diterima. Selama musim kemarau tahun ini, tim disebut cukup sering terlibat dalam penanganan kebakaran lahan di Banjarbaru dan sekitarnya.
Tahun Ini Disebut Lebih Berat
Yang membuat situasi tahun ini perlu mendapat perhatian lebih adalah penilaian bahwa kondisi Karhutla cenderung lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya.
Andika menyebut jumlah kejadian dan luas lahan yang terbakar cukup tinggi. Artinya, kesiapsiagaan tidak bisa hanya dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi perlu dimulai dari upaya mencegah api sejak awal.
“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya, Karhutla di Banjarbaru tahun ini cenderung lebih berat. Jumlah kejadian dan luas lahan yang terbakar cukup tinggi,” ungkapnya.
Cuaca panas dan kering menjadi kombinasi yang membuat potensi kebakaran semakin besar. Namun faktor manusia juga tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Pembakaran lahan sembarangan, membuang puntung rokok, maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu api perlu dihindari. Hal kecil yang dianggap sepele bisa saja berubah menjadi masalah besar ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering.
Warga Jadi Mata Pertama
Petugas pemadam tidak mungkin berada di setiap sudut Banjarbaru sepanjang waktu. Karena itu, masyarakat memiliki peran penting sebagai pihak yang pertama kali melihat ketika sesuatu mulai tidak beres.
Asap tipis dari kejauhan, bau terbakar, atau titik api di lahan terbuka sebaiknya tidak dianggap biasa. Semakin cepat informasi diterima petugas, semakin besar peluang api ditangani sebelum menjalar lebih luas.
Andika meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan tanda-tanda kebakaran.
“Apabila melihat adanya asap atau titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkan kepada petugas atau BPK terdekat agar dapat ditangani secepat mungkin,” pungkasnya.
Jadi Kece People, pada akhirnya, melawan Karhutla Banjarbaru bukan hanya pekerjaan para pemadam. Ada pemerintah, relawan, pemilik lahan dan masyarakat yang sama-sama punya peran.
Sebab ketika kemarau membuat tanah semakin kering, satu percikan kecil pun bisa menjadi awal persoalan panjang. Dan sebelum api berubah menjadi kabut asap yang mengganggu banyak orang, kewaspadaan warga bisa menjadi pertahanan pertama.
