Home Celebrity Dari Sungai sampai Kota Gaib: Cerita Kalsel yang Hidup di Layar Lebar

Dari Sungai sampai Kota Gaib: Cerita Kalsel yang Hidup di Layar Lebar

0
Film horor dan drama Indonesia mulai syuting di Kalsel. Dari Kuyank hingga Saranjana. (FOTO: Istimewa)

Kece People, siapa sangka Kalimantan Selatan sekarang lagi jadi sorotan di dunia film Indonesia? Dari cerita horor sampai misteri kota gaib, semuanya tiba-tiba viral dan bikin netizen heboh. Bukan cuma karena kisahnya yang merinding, tapi karena satu hal yang mulai kelihatan jelas: Kalsel sudah naik level—bukan lagi sekadar latar, tapi jadi bintang utama di layar lebar.

Yang lebih bikin penasaran, cerita-cerita yang dulu cuma dipander akan di warung kopi atau jadi bisik-bisik urang kampung, sekarang justru diangkat jadi film nasional. Jadi, apa sebenarnya yang bikin Kalsel tiba-tiba “segila” ini di industri perfilman?

Daerah yang identik dengan sungai dan budaya Banjar ini sekarang mulai dilirik serius oleh industri film nasional. Bukan sekadar numpang lewat, tapi benar-benar jadi “nyawa” cerita.

  1. Jendela Seribu Sungai (2023)
Dari Sungai sampai Kota Gaib Cerita Kalsel yang Hidup di Layar Lebar 1
Dari Sungai ke Layar: Kalsel yang Sinematik Banget. (Istimewa)

Bayangin pian lagi di pinggir sungai, angin pelan-pelan lewat, suasana agak sunyi—nah, vibe kaya gitu yang bikin sineas jatuh hati. Film seperti Jendela Seribu Sungai misalnya, sukses menggambarkan kehidupan Banjarmasin yang khas banget.

Cerita dalam film ini bukan sekadar drama biasa, tapi tentang kehidupan, pendidikan, dan identitas urang Banjar yang terasa dekat dan real.

Film berjudul Jendela Seribu Sungai berlokasi salah satu di SDN Pangembangan 6 Banjarmasin. Film ini diangkat dari novel karya Miranda dan Avesina Soebli—jadi bukan sekadar cerita biasa, tapi punya sentuhan literasi yang kuat.

Yang bikin makin menarik, deretan artis ibu kota ikut ambil bagian. Sebut saja Agla Arta Lidia, Bimasena, Mathias Muchus, hingga Aryo Wahab yang siap menghidupkan cerita di layar lebar.

Gak ketinggalan, ada juga nama-nama yang punya akar dari Banua, seperti Olla Ramlan, Ian Kasela, dan Bopak Castello. Jadi, film ini benar-benar terasa “pulang kampung”, tapi dengan skala nasional.

Cerita dalam film ini gak cuma berhenti di Banjarmasin. Ada juga sentuhan alam Kalimantan Selatan yang lain, yaitu kawasan Pegunungan Meratus, khususnya Loksado di Hulu Sungai Selatan.

2. Saranjana: Kota Gaib (2023)

Kota Gaib dan Misteri yang Bikin Penasaran. (Istimewa)

Kalau ngomongin Kalimantan, rasanya kurang lengkap tanpa bahas Saranjana.

Lewat film Saranjana: Kota Gaib, mitos kota tak kasat mata ini diangkat ke layar lebar. Banyak yang percaya, banyak juga yang penasaran.

Sebanyak 95 persen proses syuting dilakukan langsung di Kalimantan Selatan. Bukan tanpa alasan—karena hanya di sini atmosfer magis itu bisa benar-benar terasa.

Di Kabupaten Kotabaru, kamera menangkap suasana pesisir yang sunyi, luas, dan seolah menyimpan rahasia. Area seperti Teluk Tamiang dan perbukitan Desa Oka-Oka sering dikaitkan dengan legenda Saranjana—tempat yang katanya jadi “pintu masuk” ke dunia lain.

Bergeser ke Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, suasana berubah drastis. Hutan lebat, rawa-rawa yang tenang tapi dalam, dan udara yang terasa berat… semua menyatu jadi latar yang bikin bulu kuduk berdiri.

Di area sungai, ada juga nuansa budaya yang kuat—seperti balap jukung, perahu tradisional yang melaju di atas air. Tapi di balik itu, ada kesan lain: luasnya sungai yang terasa seperti tak berujung.

Banyak adegan juga diambil di rumah kayu dan lanting di atas rawa. Kayu yang berderit pelan, air yang memantul di bawah lantai, dan suasana sunyi—semuanya terasa hidup.

Diakui sutradara film ini Johansyah Jumberan penuh tantangan, meski pun begitu Johansyah justru merasa proses ini berjalan dengan baik.

“Film ini saya merasa hanya satu, direstui Tuhan. Masalah safety semuanya, kami sangat profesional. Kami dibantu oleh 3 kabupaten,” ucap Johansyah.

Dukungan dari daerah jadi salah satu kunci. Tapi yang lebih dari itu—ada rasa bahwa film ini memang “harus terjadi”.

Film ini bikin satu hal jadi jelas: cerita lokal kita tuh punya daya jual tinggi, asal dikemas dengan serius.

3. Kuyank (2026)

Horor Lokal Naik Daun, Kada Main-Main. (Istimewa)

Masuk ke genre yang lebih horor lagi

Film Kuyank jadi salah satu yang paling bikin heboh. Syuting di Daha Selatan, film ini mengangkat sosok kuyang, legenda yang sudah lama jadi cerita turun-temurun di Kalimantan Selatan.

Film ini diakui sang sutradaranya Johansyah Jumberan digarap dengan penuh keseriusan. Set dibangun dari nol, bukan sekadar properti tempelan. Kamera yang digunakan kelas dunia, dan tim CGI-nya sudah terbukti kualitasnya.

“Produksi film ini tidak main-main. Banyak set yang kami bangun sendiri, penggunaan kamera kelas dunia, hingga tim CGI yang sudah dua kali meraih penghargaan FFI,” terang Johansyah.

Yang bikin film ini terasa beda, Kece People, adalah pilihan lokasinya. Kada main setting studio, semuanya diambil langsung di tanah Banua—di tempat yang memang “punya rasa”.

Di Banjar, suasana budaya terasa kental. Rumah-rumah, sungai, dan aktivitas warga jadi napas utama cerita. Lalu bergeser ke Kandangan, di mana hutan dan pedalaman menghadirkan kesunyian yang dalam—seolah menyimpan sesuatu yang tak terlihat.

Perjalanan berlanjut ke Sungai Negara. Di sini, suasana berubah jadi lebih ekstrem. Arus sungai deras, lanting bergoyang, dan adegan pembakaran di atas air jadi salah satu momen paling menegangkan dalam proses syuting.

Di Desa Muning, kehidupan terasa begitu autentik. Rumah panggung berdiri di atas air, jembatan kayu menghubungkan satu rumah ke rumah lain, dan jukung jadi alat transportasi utama. Semua terasa hidup—bukan sekadar latar, tapi bagian dari cerita.

Belum lagi kawasan rawa dan rumah terapung. Air, kayu, kabut, dan keheningan menyatu jadi satu atmosfer yang… bikin bulu kuduk berdiri.

Yang lebih keren lagi, warga lokal ikut terlibat langsung. Mereka membantu membangun set, menghadirkan detail-detail kecil yang justru bikin semuanya terasa nyata.

So, Kece People, cerita di film ini bukan cuma soal hantu, tapi juga konflik keluarga yang bikin emosi naik turun. Jadi bukan horor kosong, tapi ada “isi”-nya.

4. Pirunduk (2026)

Ada cerita lama yang masih berbisik dari generasi ke generasi. Tentang sesuatu yang muncul… ketika manusia melanggar batas yang seharusnya dijaga.

Cerita itu kini hidup kembali lewat film horor “Pirunduk.” Film ini menjadi bukti bahwa sineas lokal juga mulai berani tampil. Syuting di Barito Kuala, film ini mengangkat urban legend khas Banjar.

Film ini gak dibuat di studio megah. Justru sebaliknya—ia lahir dari tempat-tempat yang masih “bernapas” dengan sejarah dan budaya Banjar.

Di Desa Tatah Masjid, Alalak, Barito Kuala, suasana kampung terasa begitu autentik. Rumah-rumah sederhana, aliran sungai yang tenang, dan kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan tradisi jadi latar utama cerita.

Lalu berpindah ke Sungai Jingah, Banjarmasin—di sebuah rumah tua yang berdiri sejak tahun 1928. Kayunya mulai lapuk dimakan waktu, lantainya berderit pelan, dan setiap sudutnya seperti menyimpan cerita yang belum selesai.

Belum lagi kawasan Sungai Bakung di Kabupaten Banjar, yang memperkuat nuansa tempo dulu. Semua lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan—karena mereka masih membawa “rasa masa lalu” yang kuat.

Dan yang bikin film ini beda, adalah bagaimana budaya Banjar benar-benar “hidup” di dalamnya.

“Film ini mengangkat kisah masyarakat tepian sungai Banjar era 1980-an, Pirunduk menampilkan budaya lokal yang kental. Sehingga sekitar 60 persen dialog menggunakan Bahasa Banjar, serta memperlihatkan aktivitas khas seperti bejukung (perahu kecil: red),” ujar produsernya, Budi Ismanto melansir dari laman visitbanjar.com

Selain itu, sekitar 60 persen kru dan 70 persen pemain adalah warga lokal Kalimantan Selatan. Jadi energi yang dibangun terasa lebih jujur, lebih dekat, dan lebih “hidup”.

Beberapa nama yang terlibat seperti Aulia Sarah, Yoriko Angeline bahkan Bucek Depp sendiri sempat terlihat aktif membagikan momen selama proses syuting di Banua.

Setelah menyelesaikan proses syuting pada Juli 2025, film ini kini masuk tahap akhir pascaproduksi.

“Proses pascaproduksi kami targetkan selesai akhir November. Setelah itu baru ditentukan jadwal tayang serentaknya di jaringan bioskop nasional,” ujar Budi Ismanto.

Rencananya, Pirunduk akan tayang di bioskop nasional pada awal 2026.

Jadi, Kece People, satu hal yang makin jelas—Kalimantan Selatan bukan lagi sekadar latar, tapi sudah jadi karakter utama.

Dari horor sampai drama, dari sungai sampai kota gaib, semuanya punya cerita. Tinggal bagaimana kita menjaga, mengembangkan, dan tentu saja—bangga dengan apa yang kita punya.

Karena siapa tahu, suatu hari nanti, film berikutnya yang viral itu, syutingnya di kampung pian sendiri. Kada kawa dipander lagi tuh

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version